Pengumuman Ini Bakal Membayangi Bursa Saham Domestik

Pasar keuangan global pekan lalu dipengaruhi penurunan harga minyak hingga perkembangan geopolitik.

Diterbitkan 15 Juni 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar keuangan global menunjukkan sentimen positif pekan lalu. Seiring investor merespons positif terhadap sinyal penyelesaian konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga minyak dunia turun tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan serangan yang direncanakan terhadap Iran. Hal ini juga menunjukkan penyelesaian konflik mungkin sudah dekat.Harga minyak Brent kembali turun di bawah US$ 90.

Dengan kekhawatiran yang berkurang akan guncangan inflasi yang berkepanjangan akibat konflik Timur Tengah, saham global juga menguat. Bursa Asia dan Eropa juga mencatat kenaikan yang kuat seiring investor memprediksi kemungkinan eskalasi lebih lanjut yang lebih rendah dan potensi kembali pembukaan Selat Hormuz.

Meski ada perkembangan positif, pasar kemungkinan tidak akan sepenuhnya menghilangkan premi risiko geopolitik hingga bukti yang jelas situasinya membaik. Demikian mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Senin, (15/6/2026).

Iran telah membantah belum ada keputusan akhir yang dibuat, dan laporan tentang insiden yang terus berlanjut di Selat Hormuz menunjukkan jalan menuju normalisasi mungkin masih rapuh.

Masalah utama bagi pasar yakni kesepakatan itu dapat diterjemahkan menjadi peningkatan nyata dalam aktivitas pengiriman, biaya asuransi dan arus energi. “Jika ini terjadi, harga minyak bisa tetap lebih rendah dan mendukung pemulihan selera risiko yang lebih luas,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.

Sementara itu,harga produsen Amerika Serikat (AS) atau inflasi naik lebih dari yang diperkirakan, didorong biaya energi, yang mengingatkan investor kalau risiko inflasi belum hilang meski terjadi penurunan harga minyak baru-baru ini.

Dengan demikian, the Federal Reserve (the Fed) belum akan melonggarkan kebijakan moneter.  "Perbaikan pasar global pekan lalu harus dilihat sebagai reli pemulihan dari penurunan harga minyak dan optimisme geopolitik, dari pada kembali sepenuhnya ke narasi penurunan suku bunga,” demikian seperti dikutip.

Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, perkembangan utama Indonesia adalah kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang mengejutkan sebesar 25 bps menjadi 5,5%. Langkah tersebut bertujuan menstabilkan rupiah setelah mata uang tersebut berada di bawah tekanan.

"Rupiah juga sedikit menguat setelah pengumuman tersebut, menunjukkan kombinasi suku bunga kebijakan yang lebih tinggi, imbal hasil SRBI yang menarik (lelang terbaru sekitar 7,65% untuk 12 bulan), dan intervensi yang berkelanjutan telah membantu mengurangi tekanan pada mata uang tersebut," demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Meskipun suku bunga yang lebih tinggi dapat membebani aset yang sensitif terhadap pertumbuhan dalam jangka pendek, hal itu diperlukan untuk membangun kembali kepercayaan pada mata uang dan mengurangi volatilitas.

Indonesia juga menerima klarifikasi penting mengenai kebijakan ekspor komoditas DSI di mana Danantara menyatakan unit Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan memantau dan mengawasi ekspor komoditas strategis, tetapi tidak akan melakukan ekspor secara langsung.

 

Menanti Pengumuman S&P dan MSCI

Hal ini meredakan kekhawatiran yang berfokus pada apakah kebijakan tersebut akan mengganggu arus ekspor, penetapan harga, kontrak, dan penerimaan devisa. Jika kerangka kerja tersebut meningkatkan transparansi, mengurangi praktik under invoicing, dan mendukung repatriasi devisa tanpa mengganggu volume, hal itu dapat berdampak positif bagi neraca eksternal Indonesia dari waktu ke waktu.

"Secara keseluruhan, minggu lalu membawa sedikit kelegaan bagi pasar global dan Indonesia. Penurunan harga minyak dan harapan yang lebih kuat untuk kesepakatan AS-Iran membantu meningkatkan selera risiko, sementara respons kebijakan Bank Indonesia mendukung kepercayaan pada rupiah,” demikian seperti dikutip.

Namun, investor kemungkinan masih akan tetap berhati-hati sampai ada bukti yang lebih jelas tentang normalisasi Hormuz dan visibilitas yang lebih baik pada implementasi kebijakan domestik Indonesia.

Beberapa pengumuman penting yang ditunggu-tunggu pasar domestik antara lain pengumuman dari S&P mengenai prospek mereka terhadap Indonesia, serta tinjauan klasifikasi negara dari MSCI.

"Dalam lingkungan ini, kami tetap selektif terhadap aset berkualitas tinggi yang didukung oleh fundamental yang kuat karena volatilitas masih tinggi. Pada saat yang sama, kami merekomendasikan untuk mempertahankan diversifikasi di antara kelas aset untuk mendapatkan keuntungan," demikian seperti dikutip.