IHSG Anjlok 4,5% ke 5.342, Ini Pemicunya

Analis mengungkapkan sejumlah sentimen yang memicu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada Senin, (8/6/2026).

Diterbitkan 08 Juni 2026, 18:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah di zona merah pada perdagangan saham Senin, (8/6/2026). Analis menilai, koreksi IHSG hari ini, salah satunya dipicu rupiah yang makin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data RTI, IHSG turun 4,52% menjadi 5.342,13. Indeks saham LQ45 merosot 5,5% menjadi 527,07. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 5.523,94 dan level terendah 5.317,90. Sebanyak 661 saham melemah sehingga bebani IHSG. 78 saham menguat dan 78 saham diam di tempat.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG masih berada di fase downtrend yang cukup kuat. Sedangkan dari sentimen, ia menilai, sentimen negatif dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih kuat dari hadapan pasar. Hal ini meningkatkan kekhawatiran the Federal Reserve (the Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama (higher for longer). Sedangkan dari dalam negeri didorong nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh 18.170 terhadap rupiah, berdasarkan data RTI.

"Dari domestik, pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut hingga mencapai 18.200 terhadap dolar Amerika Serikat turut menekan sentimen investor terhadap aset berisiko di Indonesia,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, transaksi perdagangan saham juga cukup ramai. Nilai transaksi harian mencapai Rp 21,7 triliun. Selain itu, total frekuensi perdagangan saham sekitar 2.215.560 kali dengan volume perdagangan saham 32,5 miliar saham.

Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi merosot 4,03%, sektor saham basic terpangkas 4%, sektor saham industri tergelincir 6,39%, dan sektor saham consumer nonsiklikal susut 4,36%.

Lalu sektor saham consumer siklikal turun 4,25%, sektor saham kesehatan terpangkas 4,44%, sektor saham keuangan melemah 2,82%, sektor saham properti tergelincir 2,92%. Lalu sektor saham teknologi susut 4,68%, sektor saham infrastruktur merosot 6,29% dan sektor saham transportasi tergelincir 5,58%.

Top Gainers-Losers

Saham-saham LQ45 yang masuk  top gainers antara lain:

  • Saham ADMR naik 3,57%
  • Saham MBMA naik 1,38%
  • Saham UNVR naik 0,32%

 

Saham-saham LQ45 yang masuk top losers antara lain:

  • Saham TLKM melemah 14,86%
  • Saham HRTA melemah 13,62%
  • Saham ISAT melemah 8,78%
  • Saham PGAS melemah 8,55%
  • Saham JPFA melemah 8,01%

 

Saham-saham LQ45 teraktif berdasarkan nilai antara lain:

  • Saham BBCA senilai Rp 3,5 triliun
  • Saham BBRI senilai Rp 1,7 triliun
  • Saham BMRI senilai Rp 1,5 triliun
  • Saham TLKM senilai Rp 810,1 miliar
  • Saham ANTM senilai Rp 712,7 miliar

 

Saham-saham LQ5 teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:

  • Saham BBCA tercatat 117.342 kali
  • Saham BBRI tercatat 108.280 kali
  • Saham BUMI tercatat 67.285 kali
  • Saham BMRI tercatat 53.393 kali
  • Saham BRPT tercatat 51.642 kali