100 Kamera dan AI Awasi Peserta Muktamar NU ke-35 di Jombang

Panitia memasang lebih dari 100 kamera pengawas di sejumlah titik strategis terhubung secara real-time dengan Command Center sebagai pusat pemantauan muktamar.

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 20:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamanan dan pelayanan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, disiapkan dengan pendekatan teknologi digital untuk mengantisipasi berbagai persoalan selama forum berlangsung.

Panitia memasang lebih dari 100 kamera pengawas di sejumlah titik strategis terhubung secara real-time dengan Command Center sebagai pusat pemantauan kegiatan Muktamar.

Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan kamera tersebut memantau sejumlah lokasi penting, mulai dari arena persidangan, akomodasi peserta, distribusi konsumsi hingga ruas jalan di sekitar lokasi Muktamar.

"Santri tapi paham teknologi, sehingga dari tempat ini kita bisa mengetahui semua yang terjadi di arena Muktamar," kata Gus Ipul saat meninjau Command Center Muktamar di MTs Bahrul Ulum Tambakberas, Selasa (25/8/2026).

Menurut Gus Ipul, sistem tersebut tidak hanya digunakan untuk melihat kondisi lapangan, tetapi juga menjadi pusat koordinasi ketika terjadi persoalan yang membutuhkan penanganan cepat.

Setiap laporan yang masuk akan dicatat dalam sistem dan diteruskan kepada petugas terkait sehingga proses penanganannya dapat dipantau secara langsung.

"Ini hal yang baru yang patut kita syukuri. Mudah-mudahan dengan adanya command center seperti ini, memudahkan layanan, cepat mengatasi masalah, dan sekaligus segera bisa mencarikan jalan keluar," ujar dia.

Selain pengawasan, teknologi digital digunakan untuk memastikan sistem kepesertaan berjalan ketat dan terverifikasi.

Gus Ipul mengatakan data peserta telah dipersiapkan, diverifikasi dan dikunci sebelum kontingen tiba di lokasi Muktamar.

"Jadi tidak ada yang bisa main-main. Setiap pendaftaran kelihatan, sudah terekam semua," tegas Gus Ipul.

Kartu Chip dan AI Perkuat Sistem Pelayanan

Anggota Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU Prof. Muh. Nuh mengatakan penyelenggaraan Muktamar bertumpu pada tiga aspek utama, yakni kesiapan fisik, tata kelola atau governance, serta supporting berupa layanan pendukung peserta.

"Aspek fisik mulai dari rencana pembukaan, tempat parkir sampai ke tempat penataan. Tapi aspek fisik saja juga belum cukup," kata Nuh.

Dia menjelaskan tata kelola menjadi bagian penting karena Muktamar melibatkan peserta dalam jumlah besar dengan kebutuhan yang beragam. Untuk memperkuat sistem tersebut, panitia menyiapkan kartu identitas peserta berbasis chip yang telah melalui proses verifikasi.

"Sudah kita verifikasi. Sampai dengan model-model kepesertaan ini sudah kita siapkan. Sudah pakai chip," ujar dia.

Kartu tersebut digunakan untuk membantu pengaturan akses peserta ke sejumlah zona di arena Muktamar, termasuk kawasan persidangan dan akomodasi.

Panitia juga mengembangkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk melengkapi sistem pelayanan peserta.

Tim IT Muktamar ke-35 NU Mukorobin Ma'rufi mengatakan kartu identitas berbasis chip akan terintegrasi dengan data foto pemilik sehingga sistem dapat mencocokkan identitas ketika peserta melewati pintu masuk.

"Ini merupakan Muktamar pertama kita di abad kedua NU dan juga menjadi pertama di Muktamar kita yang menggunakan kartu identitas berbasis chip," kata Mukorobin.

AI juga disiapkan sebagai asisten virtual melalui layanan WhatsApp. Peserta yang kesulitan menemukan lokasi kamar dapat mengirimkan foto kartu identitas melalui layanan resmi panitia untuk memperoleh informasi lokasi akomodasi.

Sistem yang sama dirancang untuk menerima laporan barang hilang, barang temuan hingga kondisi darurat yang terjadi di lokasi Muktamar.

Setiap laporan akan diteruskan kepada petugas terdekat sehingga penanganan dapat dilakukan dalam waktu singkat.

"Dengan demikian hitungan menit, tidak sampai jam, kita sudah langsung ada yang menangani di lapangan," kata dia.

Kecepatan penanganan laporan dipantau melalui sistem Service Level Agreement (SLA). Jika laporan melewati batas waktu yang telah ditentukan, Command Center akan memberikan indikator peringatan sehingga penanggung jawab sektor dapat segera diketahui.

"Ini langsung merah. Ini siapa penanggung jawabnya, kita langsung tahu," pungkas Mukorobin.

Panitia berharap penerapan teknologi tersebut mampu membuat pelaksanaan Muktamar ke-35 NU berlangsung lebih aman, tertib, cepat dalam pelayanan dan memberikan kenyamanan bagi seluruh muktamirin yang datang ke Jombang.