IHSG dan Rupiah Kompak Melesat Pekan Lalu, Sentimen Ini Perlu Dicermati

Berikut sejumlah sentimen yang mempengaruhi nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu.

Diterbitkan 24 Agustus 2026, 18:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kompak menguat pada pekan lalu, tepatnya 18-21 Agustus 2026. Lalu apa saja sentimen yang perlu dicermati pekan ini?

Mengutip riset Syailendra Capital, Senin, (24/8/2026), pada pekan lalu, ada sejumlah sentimen yang pengaruhi IHSG dan rupiah. Dari sentimen internal, Bank Indonesia (BI)  mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate tetap di 5,75% melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026, sesuai harapan pasar.

Selain itu, meski tidak ada perubahan suku bunga, BI tetap memberikan stimulus melalui jalur non-rate, termasuk menaikkan insentif FX swap hedging menjadi 12,5%, memangkas MDR QRIS menjadi 0% untuk transaksi hingga Rp 100 ribu serta meningkatkan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi 6% terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK).

Sentimen lainnya yakni FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market dan menunda penambahan maupun upgrade bobot Indonesia hingga review Desember. “Namun, pengurangan bobot dan penghapusan saham tetap dapat dilakukan mulai 21 September sehingga tekanan dari sisi index-related flow masih berpotensi terjadi,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.

Di sisi lain, Current Acccount Deficit (CAD) atau defisit neraca transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit tertinggi sejak kuartal IV 2018, melebar ke US$ 12,5 miliar atau 3,34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2026. Hal itu dikarenakan antara lain:

-Impor melonjak ke rekor US$ 70,5 miliar, terutama dari minyak dan gas (migas)

-Defist jasa melebar ke rekor US$ 5,9 miliar, karena aktivitias impor dan musim ibadah haji.

Di sisi lain, defisit Balance of Payment (BoP) atau neraca pembayaran menyempit menjadi US$ 0,9 miliar vs kuartal I 2026 sebesar US$ 9,2 miliar ditopang surplus arus modal dan investasi US$ 12 miliar, terutama dari aliran dana masuk atau inflow Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) US$ 8,5 miliar.

 

Sentimen Eksternal

Dari sentimen eksternal yakni Departemen Keuangan Amerika Serikat meningkatkan porsi buyback obligasi tenor panjang 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun menjadi US$ 4 miliar per operasi dari sebelumnya US$ 2 miliar pada 9 September-4 November 2026.

"Langkah ini dinilai sebagai upaya Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk menjaga likuiditas di pasar dan menahan tekanan kenaikan long-en yield yang kini telah mencapai 4,7%. Di sisi lain, hasil minutes Fed menunjukkan kecenderungan hawkish dengan ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin atau bps pada Federal Open Market Committee (FOMC) Juli,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

Sentimen lainnya yakni perundingan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Kanada resmi gagal. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan, negosiasi dihentikan karena menilai perubahan syarat terbaru dari Amerika Serikat tidak adil. Hal itu berdampak Kanada bersiap menerapkan tarif balasan secara penuh terhadap AS di tengah ancaman bea masuk hingga 50% yang membayangi sekitar 5% ekspor negara-nya.

Seiring hal itu, pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,74% ke level 17.649. Selain itu, indeks dolar AS tercatat turun ke level 98,83 sepanjang pekan lalu.

Sementara itu, pasar obligasi bertenor 10 tahun tercatat turun ke level 6,95% yang diikuti dengan aliran dana investor asing yang keluar sebesar Rp 458 miliar pada pekan lalu. Di sisi lain, obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun bergerak naik dari 4,68% ke 4,73% pada pekan lalu. Sedangkan pasar saham ditunjukkan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG naik 1,9% pada pekan lalu ke level 6.526 dengan aliran dana yang masuk Rp 1,25 triliun.

 

Sentimen yang Perlu Dicermati

Sementara  itu, di wall street, tiga indeks saham acuan melemah. Indeks Nasdaq susut 2,5%, indeks S&P 500 merosot 1,9% dan Dow Jones terpangkas 1,8%.

Lalu sentimen apa yang perlu dicermati pekan ini?

Pada 26 Agustus 2026 ada rilis data persediaan uang, indeks Personal Consumption Expenditures (PCE). Kemudian pada 27 Agustus 2026 ada klaim pengangguran.