Liputan6.com, Jakarta - Pasar keuangan global menghadapi ketidakpastian yang yang berkelanjutan mengenai kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal ini karena target dari dari kedua belah pihak diserang meskipun gencatan senjata sedang berlangsung.
“Premi risiko tetap tinggi karena pasar menyeimbangkan sentimen yang mendorong upaya berkelanjutan untuk menegosiasikan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran serta kenyataan Selat Hormuz tetap tertutup secara efektif,” demikian seperti dikutip dari riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (10/5/2026).
Sejak AS meluncurkan Project Freedom, hanya sekitar 9-15 kapal per hari yang melewati Selat Hormuz selama 2-7 Mei 2026, dibandingkan dengan sekitar 120-140 kapal per hari sebelum Selat Hormuz terpengaruh,” demikian seperti dikutip.
Advertisement
Sejak itu, belum ada peningkatan signifikan pada lalu lintas Hormuz dan gencatan senjata.
Baik AS maupun Iran sedang meninjau kerangka kerja sementara 13 poin baru dengan tujuan membuka kembali Selat Hormuz dan untuk mengurangi eskalasi tindakan militer, meskipun terjadi bentrokan baru-baru ini di mana Iran menyerang kapal perusak Angkatan Laut AS dan AS menyerang target militer di Iran.
“Pasar terus melihat kerapuhan gencatan senjata saat ini sementara Trump masih mendorong kesepakatan,”
Selain itu, pasar masih memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi dengan imbal hasil obligasi yang tetap tinggi, terutama pada jangka panjang karena obligasi treasury bertenor dua tahun tetap sekitar 3,9% sementara obligasi bertenor 10 tahun tetap sekitar 4,4%.
“Tingkat imbal hasil tetap tinggi sebagian karena pasar telah melihat beberapa gubernur Fed mengambil sikap yang lebih hati-hati dan mungkin lebih memilih suku bunga tetap hingga akhir tahun,”
Harga minyak Brent tetap relatif tinggi di sekitar level USD 100 dan akan tetap sangat sensitif terhadap perkembangan berita utama.
Nilai Tukar Rupiah Melemah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
Dari sentimen domestik, pekan ini terjadi pelemahan berkelanjutan pada Rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah, tetapi kombinasi data yang lebih kuat dan intervensi pemerintah telah meredam dampaknya. Rupiah sempat mencapai titik terlemah terhadap dolar AS di 17.443, tetapi kemudian mereda menjadi 17.373 pada penutupan pasar.
Namun, sebagian dari pelemahan ini dapat dilihat sebagai faktor musiman karena pembayaran utang luar negeri di sekitar periode ini, di samping musim dividen yang cenderung meningkatkan permintaan USD. Selain itu, lelang SRBI baru-baru ini terus memberikan imbal hasil tinggi untuk menarik arus dana asing, tetapi lelang terbaru mengalami penurunan menjadi 6,4%.
“Sejalan dengan selera risiko global, imbal hasil obligasi Indonesia juga tetap tinggi, namun kita telah melihat penurunan imbal hasil yang lebih signifikan pekan ini, di mana IndoGB2Y turun -15bps sejak puncaknya baru-baru ini menjadi 6,28% dan IndoGB10Y turun lebih jauh lagi sebesar -34bps sejak puncaknya baru-baru ini menjadi 6,60%,” demikian seperti dikutip.
Advertisement
Diversifikasi Aset
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1505536/original/011475000_1486967390-Pembukaan-Saham3.jpg)
Kondisi secara keseluruhan tetap bergejolak dengan selera risiko yang sangat berkorelasi dengan perkembangan konflik di Timur Tengah. Namun, bahkan di tengah latar belakang yang tidak pasti ini, masih ada kelas aset yang dapat dimanfaatkan investor untuk menghadapi badai.
“Kami percaya bahwa selera risiko tetap relatif moderat dan investor akan lebih baik melakukan diversifikasi di antara kelas aset, paparan geografis, serta mata uang di mana penekanannya harus pada strategi aktif dalam aset berkualitas tinggi dan likuid,”
Selain itu, dengan kondisi pasar saat ini, pelaku pasar terus memantau perkembangan dan kesepakatan konkret untuk membuka kembali Selat Hormuz yang secara bertahap akan mengurangi premi jangka waktu.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4216934/original/094233100_1667793288-Wall-Street-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513111/original/058658300_1782436597-063_2283345627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8574835/original/057277000_1782531340-AP26177858339524.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264183/original/033782000_1782097869-063_2282689980-Timnas_Mesir_vs_Selandia_Baru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8571890/original/029692900_1782526551-000_B8H338Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4826293/original/061766900_1715176240-fotor-ai-20240508204951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525189/original/026743800_1782455197-usha_vance.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8529068/original/035999300_1782460827-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520782/original/001156700_1782448403-turki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8451107/original/036314100_1782347531-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520243/original/086003700_1782447581-063_2283364709.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519978/original/083186800_1782447080-063_2283364620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3046086/original/019208800_1581323845-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)