Liputan6.com, Jakarta - Rumah yang berantakan tidak selalu berarti penghuninya malas membersihkan atau tidak pandai menata barang. Sering kali, masalah justru muncul karena jumlah barang yang dimiliki sudah terlalu banyak dibandingkan ruang penyimpanan yang tersedia. Benda-benda kecil yang tampak sepele seperti kardus, kantong belanja, wadah kosong, pakaian yang tidak pernah dipakai, hingga kabel lama dapat terus menumpuk tanpa disadari. Akibatnya, rumah terasa lebih sempit, permukaan meja cepat penuh, dan kegiatan membersihkan rumah menjadi semakin melelahkan.
Kebiasaan menyimpan barang dengan alasan "nanti mungkin berguna" juga membuat proses merapikan rumah menjadi lebih sulit. Padahal, barang yang tidak pernah digunakan selama bertahun-tahun belum tentu akan tiba-tiba dibutuhkan. Decluttering bukan berarti harus membuang semua benda yang dianggap tidak penting, melainkan menyeleksi barang berdasarkan fungsi, kondisi, frekuensi penggunaan, dan nilai sentimentalnya. Barang yang masih layak digunakan tetapi tidak dibutuhkan dapat disumbangkan atau diberikan kepada orang lain.
Sebelum membuang sesuatu, pastikan barang tersebut memang tidak lagi dibutuhkan, tidak memiliki nilai penting, dan aman untuk disingkirkan. Untuk dokumen, obat, elektronik, baterai, atau barang yang mengandung bahan tertentu, jangan membuangnya sembarangan. Pisahkan pula barang yang masih layak pakai untuk disumbangkan, dijual, atau didaur ulang. Lantas apa saja barang yang harus dibuang agar rumah tidak berantakan? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (11/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Pakaian yang Sudah Tidak Pernah Dipakai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4952899/original/035752000_1727258014-pexels-liza-summer-6347515.jpg)
Pakaian menjadi salah satu barang yang paling mudah menumpuk di rumah. Lemari bisa penuh bukan hanya karena sering membeli pakaian baru, tetapi juga karena masih menyimpan pakaian yang sudah bertahun-tahun tidak dikenakan. Beberapa pakaian mungkin sudah kekecilan, kebesaran, tidak lagi sesuai gaya, atau sebenarnya tidak nyaman dipakai. Jika ada pakaian yang hanya tersimpan di bagian belakang lemari tanpa pernah digunakan, benda tersebut patut masuk daftar untuk diseleksi.
Cara sederhana untuk menentukannya adalah melihat kapan terakhir kali pakaian tersebut dikenakan. Jika sudah sangat lama dan tidak ada alasan khusus untuk menyimpannya, pertimbangkan apakah pakaian tersebut benar-benar masih dibutuhkan. Pakaian yang kondisinya bagus dapat dicuci dan disumbangkan, sedangkan pakaian yang sudah rusak parah dapat dipisahkan untuk didaur ulang sebagai kain lap atau material tekstil jika memungkinkan.
Namun, jangan terburu-buru membuang pakaian yang memiliki nilai sentimental, seperti pakaian bayi pertama, seragam sekolah, atau pakaian dari momen penting. Barang semacam itu bisa disimpan secara khusus dalam jumlah terbatas. Tujuan decluttering bukan menghilangkan semua barang, melainkan membuat isi rumah lebih terkontrol sehingga lemari hanya dipenuhi pakaian yang memang digunakan atau memiliki alasan kuat untuk disimpan.
Advertisement
2. Kardus Bekas yang Tidak Lagi Dibutuhkan
Kardus dari pembelian peralatan elektronik, sepatu, paket belanja online, hingga kemasan berbagai produk sering kali disimpan karena dianggap mungkin berguna suatu hari nanti. Satu atau dua kardus mungkin tidak menjadi masalah, tetapi jika terus dikumpulkan, jumlahnya bisa memenuhi gudang, sudut kamar, bawah tempat tidur, atau bagian atas lemari. Kardus yang menumpuk juga dapat membuat ruangan terlihat berantakan meskipun barang lain sudah tertata.
Simpan kardus hanya jika memang ada kebutuhan yang jelas, misalnya untuk garansi produk tertentu, pindahan, penyimpanan barang, atau kebutuhan pengiriman dalam waktu dekat. Setelah masa penggunaannya tidak diperlukan lagi, kardus sebaiknya dilipat agar tidak memakan banyak tempat. Kardus yang bersih dan masih layak dapat dimanfaatkan kembali atau diberikan kepada pihak yang membutuhkan.
Perhatikan pula kondisi kardus sebelum menyimpannya. Kardus yang lembap, berjamur, robek, atau sudah rusak tidak banyak memberikan manfaat dan justru dapat menjadi tempat berkumpulnya debu. Jika tidak lagi diperlukan, pisahkan untuk didaur ulang sesuai sistem pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal. Dengan mengurangi tumpukan kardus, area penyimpanan biasanya langsung terasa lebih lapang.
3. Wadah Plastik yang Tidak Memiliki Pasangan
Wadah makanan memang sangat berguna, tetapi koleksi wadah plastik bisa menjadi sumber kekacauan di dapur apabila jumlahnya terlalu banyak. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah menyimpan wadah yang sudah tidak memiliki tutup atau tutup yang tidak memiliki pasangan. Benda seperti ini biasanya terus berada di lemari dengan harapan suatu saat pasangan yang hilang akan ditemukan.
Daripada memenuhi ruang, lakukan penyortiran dan pasangkan semua wadah dengan tutupnya. Jika setelah dicocokkan masih ada wadah tanpa tutup atau tutup tanpa wadah, pertimbangkan untuk menyingkirkannya. Wadah yang retak, berubah bentuk, berbau sulit dihilangkan, atau sudah terlalu rusak juga sebaiknya tidak terus disimpan untuk penggunaan makanan.
Setelah proses seleksi, susun wadah berdasarkan ukuran dan bentuk agar mudah diambil. Tutup dapat ditempatkan secara vertikal atau dikelompokkan di satu tempat khusus. Dengan jumlah wadah yang lebih terkendali, lemari dapur menjadi lebih mudah diatur dan tidak perlu dibongkar setiap kali ingin mencari satu wadah tertentu.
Advertisement
4. Kabel dan Charger Lama yang Tidak Diketahui Fungsinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309347/original/026892100_1785225493-4602.jpg)
Laci berisi kabel kusut sering kali menjadi tempat berkumpulnya berbagai aksesori elektronik yang sudah tidak digunakan. Kabel charger dari ponsel lama, kabel data, adaptor, earphone rusak, hingga kabel yang bahkan tidak diketahui pasangannya dapat terus disimpan selama bertahun-tahun. Masalahnya, semakin banyak kabel, semakin sulit pula menemukan kabel yang benar-benar dibutuhkan.
Mulailah dengan mengumpulkan semua kabel di satu tempat. Pisahkan kabel yang masih digunakan, kabel cadangan yang memang kompatibel dengan perangkat tertentu, dan kabel yang sudah rusak atau tidak diketahui fungsinya. Kabel yang kondisinya buruk sebaiknya tidak digunakan kembali hanya karena ingin mengurangi sampah, terutama jika terdapat bagian yang terkelupas, konektor rusak, atau tanda kerusakan lainnya.
Untuk kabel yang masih diperlukan, gunakan label sederhana agar mudah dikenali. Kabel yang sudah tidak terpakai sebaiknya disalurkan melalui jalur pengumpulan atau daur ulang elektronik yang sesuai jika tersedia di daerah Anda. Hindari membakar atau membuang komponen elektronik sembarangan karena beberapa di antaranya membutuhkan penanganan khusus.
5. Kantong Belanja yang Menumpuk
Kantong plastik, kantong kertas, maupun tas belanja yang dikumpulkan dengan alasan "bisa dipakai lagi" dapat berubah menjadi tumpukan jika tidak dikontrol. Satu atau dua kantong cadangan memang berguna, tetapi menyimpan terlalu banyak justru membuat laci, bawah wastafel, atau sudut dapur terlihat penuh. Bahkan, terkadang jumlah kantong yang tersimpan jauh lebih banyak daripada kebutuhan sebenarnya.
Pilih beberapa kantong yang masih bersih dan kuat untuk digunakan kembali. Kantong yang sudah robek, kotor, berbau, atau rusak dapat dipisahkan sesuai jenis materialnya untuk dibuang atau didaur ulang jika fasilitas tersedia. Untuk tas belanja yang bisa digunakan berulang kali, tentukan jumlah yang realistis sesuai kebiasaan berbelanja keluarga.
Agar tidak kembali menumpuk, buat satu tempat khusus untuk menyimpan tas belanja yang masih digunakan. Setelah berbelanja, kembalikan tas tersebut ke tempat semula. Kebiasaan ini membuat jumlahnya lebih mudah dikontrol dan mencegah kantong tercecer di berbagai sudut rumah.
Advertisement
6. Peralatan Dapur yang Jarang atau Tidak Pernah Digunakan
Dapur sering menjadi tempat penyimpanan berbagai peralatan yang dibeli karena terlihat menarik atau dianggap akan berguna. Namun, beberapa alat hanya digunakan sekali kemudian tersimpan bertahun-tahun. Misalnya cetakan khusus, alat pemotong tertentu, peralatan dekorasi kue, atau gadget dapur yang memiliki fungsi sangat spesifik.
Periksa setiap peralatan dan tanyakan kapan terakhir kali benda tersebut digunakan. Jika selama bertahun-tahun tidak pernah dipakai dan tidak ada rencana realistis untuk menggunakannya, pertimbangkan untuk menjual, menyumbangkan, atau memberikannya kepada orang lain. Peralatan yang rusak dan tidak ekonomis untuk diperbaiki juga layak dikeluarkan dari lemari.
Bukan berarti dapur harus hanya memiliki peralatan dasar. Jika sebuah alat memang sering digunakan atau memiliki nilai khusus bagi Anda, tentu boleh dipertahankan. Prinsipnya adalah memberikan ruang lebih besar untuk barang yang benar-benar mendukung aktivitas sehari-hari dan mengurangi barang yang hanya menghabiskan ruang penyimpanan.
7. Kosmetik dan Produk Perawatan yang Sudah Tidak Layak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309232/original/006026700_1785221441-0hFdvSEPEqITlitxYiZWOBFUvtGp1qT6b17xW0b9.jpg)
Produk kosmetik dan perawatan pribadi yang sudah lama tidak digunakan dapat memenuhi meja rias, laci kamar mandi, hingga lemari. Beberapa produk memiliki masa penggunaan terbatas setelah dibuka, sehingga tidak sebaiknya disimpan tanpa memperhatikan kondisi dan petunjuk penggunaan. Produk yang berubah bau, warna, tekstur, atau menunjukkan tanda kerusakan sebaiknya tidak dipaksakan untuk digunakan.
Lakukan pemeriksaan secara berkala pada kosmetik, skincare, produk rambut, dan perlengkapan perawatan lainnya. Kelompokkan produk yang masih digunakan, masih layak dan akan segera digunakan, serta produk yang sudah tidak layak. Untuk produk yang masih bagus tetapi tidak cocok digunakan, pertimbangkan apakah dapat diberikan kepada orang lain sesuai kondisi dan ketentuan kebersihan produk tersebut.
Jangan menuangkan atau mencampurkan sembarang produk ke saluran air. Untuk produk tertentu, ikuti petunjuk pembuangan pada kemasan atau ketentuan pengelolaan limbah setempat. Setelah barang yang tidak diperlukan disingkirkan, simpan produk yang tersisa berdasarkan kategori agar lebih mudah ditemukan dan tidak kembali membeli barang yang ternyata masih tersedia.
Advertisement
8. Sepatu yang Rusak dan Tidak Nyaman Dipakai
Rak sepatu juga sering menyimpan barang yang sebenarnya sudah tidak layak digunakan. Sepatu yang solnya rusak, permukaannya retak, ukurannya tidak lagi sesuai, atau sudah tidak nyaman dipakai mungkin tetap berada di rak karena pernah dibeli dengan harga mahal. Sayangnya, mempertahankan barang hanya karena merasa sayang mengeluarkan uang tidak akan mengembalikan nilai pembelian tersebut.
Jika kerusakannya masih dapat diperbaiki dengan biaya yang masuk akal dan Anda memang akan menggunakannya kembali, simpan untuk diperbaiki. Sebaliknya, jika sepatu sudah rusak parah dan tidak realistis untuk diperbaiki, sebaiknya jangan terus memenuhi rak. Sepatu yang masih layak dapat diberikan kepada orang lain atau disalurkan melalui program donasi.
Menyortir sepatu juga membantu mengetahui koleksi yang sebenarnya dimiliki. Terkadang seseorang membeli sepatu baru karena lupa bahwa masih memiliki beberapa pasang dengan fungsi serupa. Dengan mengurangi barang yang rusak dan jarang digunakan, rak menjadi lebih rapi dan pilihan sepatu untuk aktivitas sehari-hari juga lebih mudah ditemukan.
9. Handuk dan Kain Lap yang Sudah Terlalu Rusak
Handuk, kain lap dapur, dan kain pembersih sering kali dipertahankan terlalu lama karena dianggap masih dapat digunakan. Padahal, kain yang sudah sangat tipis, berlubang, berbau menetap, atau sulit dibersihkan dapat menjadi kurang efektif. Menyimpan terlalu banyak kain semacam ini juga membuat lemari linen atau area dapur cepat penuh.
Sortir berdasarkan kondisi dan fungsi. Handuk yang sudah tidak nyaman digunakan sebagai handuk mungkin masih dapat dimanfaatkan sebagai kain pembersih jika kondisinya sesuai. Namun, kain yang sudah berjamur, sangat kotor, atau rusak parah sebaiknya tidak dipaksakan untuk digunakan terus-menerus.
Tetapkan jumlah kain yang benar-benar dibutuhkan untuk kebutuhan rumah. Dengan jumlah yang lebih terkontrol, Anda tidak perlu mengisi satu lemari hanya dengan handuk atau kain lap lama. Selain membuat ruang penyimpanan lebih lega, kebiasaan ini juga memudahkan Anda mengetahui kapan perlu membeli pengganti.
Advertisement
10. Majalah, Koran, dan Kertas Lama yang Tidak Lagi Dibutuhkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3477552/original/048542700_1623230844-pexels-photo-518543.jpeg)
Tumpukan kertas dapat membuat rumah terlihat berantakan dengan cepat. Majalah lama, koran, brosur, katalog, kuitansi, dan berbagai lembar informasi sering kali ditumpuk tanpa pernah dibaca kembali. Jika tidak segera disortir, kertas dapat memenuhi meja, rak, laci, dan sudut ruangan.
Namun, jangan membuang dokumen penting secara sembarangan. Pisahkan terlebih dahulu dokumen yang berkaitan dengan identitas, keuangan, kepemilikan, pendidikan, pekerjaan, garansi, atau kebutuhan administratif lainnya. Kertas yang sudah tidak memiliki fungsi dan tidak mengandung informasi sensitif dapat didaur ulang sesuai fasilitas yang tersedia.
Untuk dokumen penting, gunakan sistem penyimpanan yang teratur dan beri label berdasarkan kategori. Sementara itu, kertas yang tidak penting dapat langsung diproses secara berkala. Kebiasaan menyortir surat dan dokumen begitu masuk ke rumah dapat mencegah tumpukan kertas baru terbentuk.
11. Barang Elektronik yang Sudah Rusak
Telepon lama, remote yang tidak berfungsi, keyboard rusak, perangkat elektronik usang, dan berbagai gadget yang sudah tidak digunakan sering disimpan karena dianggap mungkin suatu saat bisa diperbaiki. Masalahnya, "nanti diperbaiki" dapat berlangsung selama bertahun-tahun hingga barang tersebut akhirnya hanya menjadi penghuni gudang.
Kelompokkan perangkat yang masih layak diperbaiki dan tentukan batas waktu realistis untuk memperbaikinya. Jika tidak kunjung diperbaiki atau biaya perbaikan lebih besar daripada manfaatnya, pertimbangkan untuk menyingkirkannya melalui jalur pengelolaan limbah elektronik yang tepat. Jangan membuang perangkat elektronik bersama sampah rumah tangga biasa jika tersedia fasilitas e-waste di wilayah Anda.
Sebelum menyerahkan perangkat elektronik, periksa apakah masih menyimpan data pribadi. Ponsel, komputer, tablet, dan perangkat penyimpanan sebaiknya dibersihkan atau dihapus datanya dengan benar sebelum didaur ulang atau diberikan kepada orang lain. Dengan begitu, decluttering tidak hanya membuat rumah lebih rapi tetapi juga membantu menjaga keamanan informasi pribadi.
Advertisement
12. Barang Dekorasi yang Sudah Tidak Sesuai
Dekorasi memang dapat mempercantik rumah, tetapi terlalu banyak ornamen juga dapat membuat ruangan terasa penuh. Pajangan yang sudah rusak, bingkai yang tidak lagi disukai, vas yang tidak pernah digunakan, atau dekorasi musiman yang hanya tersimpan dalam kardus selama bertahun-tahun dapat memenuhi ruang penyimpanan.
Pilih dekorasi yang benar-benar masih disukai dan sesuai dengan kondisi rumah saat ini. Barang yang masih bagus tetapi tidak lagi cocok dapat dijual atau diberikan kepada orang lain. Sementara itu, dekorasi yang rusak atau sudah tidak layak sebaiknya dipisahkan untuk dibuang atau didaur ulang sesuai materialnya.
Decluttering dekorasi bukan berarti membuat rumah menjadi kosong tanpa karakter. Justru dengan memilih lebih sedikit barang yang benar-benar disukai, setiap dekorasi dapat terlihat lebih menonjol. Ruangan juga terasa lebih tenang karena tidak terlalu banyak benda memenuhi pandangan.
13. Barang Promosi dan Merchandise yang Tidak Terpakai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2754690/original/052630100_1552944953-TOTE_BAG.jpeg)
Barang gratis sering kali lebih sulit dibuang karena muncul perasaan bahwa sayang jika tidak disimpan. Gelas promosi, kalender lama, gantungan kunci, tote bag, pulpen, tempat makan, hingga berbagai merchandise dapat terkumpul dalam jumlah banyak tanpa pernah benar-benar digunakan.
Coba kumpulkan semua barang promosi di satu tempat dan lihat jumlah sebenarnya. Pilih hanya benda yang masih berguna atau benar-benar memiliki nilai sentimental. Jika terlalu banyak barang memiliki fungsi sama, pertahankan beberapa yang terbaik dan singkirkan sisanya agar tidak memenuhi laci serta lemari.
Untuk mencegah tumpukan kembali terjadi, biasakan berpikir sebelum menerima barang gratis. "Gratis" tidak selalu berarti harus dibawa pulang. Jika benda tersebut tidak dibutuhkan, menolaknya sejak awal justru merupakan cara paling sederhana untuk mengurangi barang yang masuk ke rumah.
Advertisement
14. Mainan yang Sudah Tidak Sesuai Usia atau Rusak
Rumah dengan anak-anak biasanya memiliki banyak mainan yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Ketika anak tumbuh, beberapa mainan mungkin sudah tidak lagi menarik atau sesuai dengan usianya. Mainan yang rusak, kehilangan bagian penting, atau tidak pernah dimainkan juga akhirnya hanya memenuhi kotak penyimpanan.
Ajak anak ikut menyortir mainan apabila usianya memungkinkan. Berikan kesempatan untuk memilih mana yang masih ingin dipertahankan dan mana yang bersedia diberikan kepada orang lain. Cara ini tidak hanya mengurangi barang tetapi juga membantu anak belajar memahami konsep berbagi, merawat barang, dan menentukan prioritas.
Mainan yang masih bagus dapat didonasikan atau diberikan kepada keluarga lain, sedangkan mainan rusak dapat dipilah berdasarkan material dan kemungkinan didaur ulang. Untuk mainan tertentu yang memiliki bagian kecil atau kerusakan yang berpotensi membahayakan, jangan diberikan kepada anak lain hanya demi mengosongkan rumah.
15. Barang yang Disimpan Hanya karena "Sayang Dibuang"
Kategori terakhir mungkin yang paling sulit, yaitu barang yang sebenarnya sudah tidak digunakan tetapi terus disimpan karena memiliki keterikatan emosional. Misalnya pakaian lama, hadiah, souvenir perjalanan, kemasan dari momen tertentu, atau benda kecil yang mengingatkan pada seseorang. Nilai sentimental memang valid, tetapi menyimpan semuanya dapat membuat rumah semakin penuh.
Cobalah menentukan batas untuk barang sentimental. Anda tidak harus menyimpan setiap benda untuk mempertahankan kenangan. Foto dapat menjadi alternatif untuk mengabadikan barang tertentu sebelum dilepaskan. Untuk benda yang benar-benar memiliki makna besar, siapkan satu kotak khusus sehingga jumlah barang sentimental tetap terkendali.
Yang terpenting, jangan memaksakan proses decluttering sekaligus dalam satu hari jika hal tersebut terasa berat. Mulailah dari barang yang paling mudah dilepaskan, kemudian perlahan beralih ke barang yang memiliki nilai emosional. Dengan cara ini, rumah dapat menjadi lebih lega tanpa membuat proses merapikan terasa seperti kehilangan semua benda yang memiliki cerita.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Barang yang Harus Dibuang agar Rumah Tidak Berantakan
1. Barang apa saja yang sebaiknya dibuang agar rumah tidak berantakan?
Beberapa barang yang dapat diseleksi antara lain pakaian yang tidak pernah dipakai, kardus bekas, wadah tanpa pasangan, kabel lama, kantong belanja berlebihan, peralatan dapur yang jarang digunakan, kosmetik yang sudah tidak layak, hingga dekorasi yang tidak lagi diperlukan.
2. Apakah barang yang jarang digunakan harus langsung dibuang?
Tidak selalu. Pertimbangkan fungsi, kondisi, frekuensi penggunaan, dan nilai sentimentalnya terlebih dahulu. Barang yang masih bagus tetapi jarang digunakan dapat dijual, disumbangkan, atau diberikan kepada orang lain daripada terus memenuhi ruang penyimpanan.
3. Bagaimana cara menentukan barang yang sudah tidak diperlukan?
Tanyakan kapan terakhir kali barang tersebut digunakan, apakah masih berfungsi, apakah memiliki nilai penting, dan apakah ada kemungkinan realistis untuk menggunakannya kembali. Jika sudah lama tidak digunakan dan tidak memiliki fungsi atau nilai khusus, barang tersebut dapat dipertimbangkan untuk disingkirkan.
4. Apakah kardus bekas sebaiknya dibuang?
Jika tidak ada kebutuhan khusus untuk menyimpannya, kardus bekas sebaiknya dilipat dan didaur ulang atau disalurkan ke tempat pengelolaan sampah yang sesuai. Simpan hanya kardus yang memang diperlukan untuk garansi, pindahan, penyimpanan, atau kebutuhan lain dalam waktu dekat.
5. Bagaimana cara mengurangi pakaian yang menumpuk?
Keluarkan seluruh pakaian dari lemari, kemudian kelompokkan menjadi pakaian yang sering dipakai, jarang dipakai, tidak lagi sesuai ukuran, rusak, dan memiliki nilai sentimental. Pakaian yang masih layak tetapi tidak digunakan dapat disumbangkan atau dijual.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4804864/original/058141600_1713412064-cek_fakta_atm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4697744/original/075382200_1703490520-20231225-Taman-Margasatwa-Ragunan-Herman-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3341307/original/037033900_1609899603-cek_fakta_kosmetik_cega_covid-19.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320548/original/068244200_1786355298-cek_fakta_-_bansos_hut_ri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289829/original/024800200_1783415485-MbzrIgdn8ZoBPIIwzB55oFI8qmZbGsmZOdZVByk6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321099/original/048194700_1786428661-07bd36da-c63d-4943-9883-2651e01f8cce.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3457538/original/038165100_1621227090-13092.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1013558/original/005420700_1444269375-rupiah230715.jpg)