Indosat Teken Tiga Perjanjian Strategis, Fokus Perkuat Bisnis Dark Fiber

Indosat (ISAT), Lintasarta dan investor telah menandatangani perjanjian yang mengatur kerangka investasi terkait usaha infrastruktur dark fiber.

Diterbitkan 08 Mei 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Indosat Tbk (ISAT) menandatangani sejumlah perjanjian strategis terkait pengembangan bisnis infrastruktur dark fiber di Indonesia. Langkah ini dilakukan bersama anak usaha PT Aplikanusa Lintasarta dan investor PT Ainfrastruktur Indonesia Raya sebagai bagian dari rencana restrukturisasi dan investasi aset jaringan kabel optik.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (8/5/2026) penandatanganan dilakukan pada 6 Mei 2026 dan mencakup amandemen perjanjian investasi, perjanjian jual beli saham bersyarat, hingga perjanjian pemegang saham. Rangkaian transaksi tersebut menjadi fondasi pembentukan struktur usaha baru untuk pengelolaan aset dark fiber dan sistem terkait di Indonesia.

Dalam keterbukaan informasi, Indosat bersama Lintasarta dan PT Ainfrastruktur Indonesia Raya menandatangani tiga dokumen utama. Ketiganya meliputi Amandemen dan Pernyataan Kembali atas Perjanjian Investasi (A&R Perjanjian Investasi), Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA), serta Shareholders Agreement (SHA).

"Pada tanggal 6 Mei 2026, Perseroan, Lintasarta, dan Investor telah menandatangani A&R Perjanjian Investasi, CSPA dan SHA yang mengatur kerangka investasi antara para pihak terkait usaha infrastruktur dark fiber dan sistem terkait yang dijalankan serta dimiliki oleh Perseroan dan Lintasarta di Indonesia," tulis Chief of Legal and Regulatory PT Indosat Tbk, Reski Damayanti.

Perjanjian tersebut mengatur kerangka investasi terkait usaha infrastruktur dark fiber yang dijalankan dan dimiliki oleh Indosat serta Lintasarta. Kedua perusahaan diketahui memiliki dan mengelola aset berupa jaringan kabel optik di Indonesia.

 

 

Skema Transaksi

Dalam skema transaksi tersebut, investor akan mengambil alih suatu perusahaan target secara tidak langsung melalui perusahaan baru yang nantinya akan ditentukan. Perusahaan baru itu kemudian akan menjadi entitas utama yang menguasai mayoritas saham perusahaan target.

Rencana transaksi juga mencakup pengalihan aset jaringan ke perusahaan target melalui kombinasi penyetoran modal non-tunai atau inbreng, pembiayaan utang, dan transaksi tunai.

Setelah proses rampung, para pihak akan menjadi pemegang saham langsung di perusahaan baru tersebut. Selain aspek investasi, para pihak juga mengatur mekanisme operasional, tata kelola, dan hubungan antar pemegang saham dalam perusahaan baru melalui SHA yang telah ditandatangani.

 

Pendapatan dan Laba Indosat Kompak Naik Dua Digit

Sebelumnya, PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat kinerja keuangan positif pada kuartal pertama 2026. Perseroan meraup pertumbuhan pendapatan dan laba double digit hingga Maret 2026.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis, (30/4/2026), PT Indosat Tbk meraup pendapatan naik 12,1% menjadi Rp 15,22 triliun hingga Maret 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 13,57 triliun. Layanan selular, MIDI dan telekomunikasi tetap memiliki masing-masing memberikan kontribusi 83,5%, 15,1% dan 14% terhadap pendapatan konsolidasi untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026.

Pendapatan perseroan dari layanan selular meningkat 11,2% menjadi Rp 12,7 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 11,42 triliun. Kemudian pendapatan dari MIDI tumbuh 17,5% menjadi Rp 2,30 triliun hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,96 triliun. Lalu pendapatan telekomunikasi tetap naik 9,3% menjadi Rp 212,8 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 194,7 miliar.

Beban-beban naik 13,1% menjadi Rp 12,20 triliun hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 10,78 triliun.

“Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban penyelenggaran jasa, penyusutan, amortisasi, karyawan dan (beban) penghasilan operasional lain-lain bersih yang diimbangi dengan penurunan beban pemasaran, beban umum dan administrasi,” demikian seperti dikutip.

 

Aset Perseroan

Perseroan juga mencatat kenaikan beban lain-lain sebesar 6,3% menjadi Rp 1,09 triliun dari kuartal pertama 2025. Hal ini disebabkan oleh kenaikan biaya keuangan yang diimbangi oleh kenaikan penghasilan bunga dan keuntungan selisih kurs-bersih.

Seiring kinerja keuangan tersebut, perseroan mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 13,7% menjadi Rp 1,49 triliun hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,31 triliun. Hal itu terutama didorong kenaikan pendapatan, penurunan pemasaran, umum dan administrasi yang diimbangi oleh kenaikan beban penyelenggaran jasa, penyusutan, amortisasi, karyawan, (beban) penghasilan operasional lain-lain dan beban lain-lain bersih.

Adapun perseroan mencatat ekuitas naik menjadi Rp 41,03 triliun hingga Maret 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 39,50 triliun. Liabilitas bertambah 2,5% menjadi Rp 81,06 triliun dari Desember 2025 sebesar Rp 79,12 triliun. Aset perseroan naik 2,9% menjadi Rp 122,10 triliun dari Desember 2025 sebesar Rp 118,62 triliun.