Indosat Raup Pendapatan Rp 30,65 Triliun hingga Semester I 2026

Indosat (ISAT) mencatat pendapatan tumbuh 13,1% dan laba naik 84,5% hingga semester I 2026.

Diterbitkan 28 Juli 2026, 18:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba hingga semester I 2026. Kinerja keuangan itu dinilai didukung model bisnis perseroan yang skalabel dan pengelolaan biaya yang disiplin.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (28/7/2026), PT Indosat Tbk meraup pendapatan konsolidasi Rp 30,65 triliun hingga semester I 2026. Pendapatan perseroan tumbuh 13,1% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 27,11 triliun.

Kontribusi pendapatan perseroan itu disumbang dari layanan selular, MIDI dan telekomunikasi masing-masing 83,3%, 15,3% dan 1,4% terhadap pendapatan konsolidasi selama enam bulan pertama 2026.

Pendapatan selular naik 12,2% menjadi Rp 25,52 triliun hingga semester I 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan MIDI tumbuh 18,5% menjadi Rp 4,69 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,96 triliun. Lalu kontribusi pendapatan dari telekomunikasi tetap naik 8,4% menjadi Rp 431,9 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 398,3 miliar.

Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization (EBITDA) Perseroan naik 13,6% menjadi Rp 14,60 triliun, sehingga menghasilkan margin EBITDA yang solid 47,6%.

Beban perseroan naik 4,5% menjadi Rp 22,91 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 21,92 triliun. “Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban penyelenggara jasa, penyusutan dan amortisasi, karyawan, pemasaran dan beban umum dan administrasi yang diimbangi dengan peningkatan penghasilan (beban) operasional lain-lain bersih,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Selain itu, beban lain-lain tercatat Rp 2,12 triliun, naik Rp 25 miliar atau 1,2% dibandingkan semester I 2025. Hal itu disebabkan kenaikan biaya keuangan yang diimbangi dengan peningkatan keuntungan selisih kurs, bersih dan pendapatan bunga.

Seiring hal itu, Indosat meraup laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 84,5% menjadi Rp 4,30 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,33 triliun. Kenaikanl aba didorong kenaikan pendapatan dan penghasilan (beban) operasional lain-lain bersih yang diimbangi oleh kenaikan beban penyelengagraan jasa, penyusutan dan amortisasi, karyawan, pemasaran umum dan administrasi.

 

Aset Perseroan

Aset perseroan tumbuh 16,6% menjadi Rp 138,30 triliun hingga semester I 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 118,62 triliun. Aset lancar perseroan naik 37,1% menjadi Rp 26,06 triliun. Hal itu terutama disebabkan oleh peningkatan kas dan setara yang diimbangi oleh penurunan aset yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual karena monetisasi FiberCo.

Di sisi lain, aset tidak lancar meningkat 12,7% menjadi Rp 112,24 triliun terutama disebabkan oleh kenaikan aset tetap, investasi pada entitas asosiasi dan venturan bersama.

Sementara itu, liabilitas perseroan naik 24,1% menjadi Rp 98,21 triliun hingga Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 79,12 triliun. Liabilitas itu terdiri dari liabilitas jangka pendek yang naik 28,5% menjadi Rp 39,18 triliun terutama disebabkan kenaikan pinjaman jangka pendek, liabilitas sewa, utang pengadaan jangka pendek dan utang pajak. Sementara itu, liabilitas jangka panjang bertambah 21,4% menjadi Rp 59,02 triliun terutama disebabkan oleh kenaikan liabilitas sewa jangka panjang yang diimbangi oleh penurunan liabilitas jangka panjang.

 

Status Utang

Perseroan memiliki utang pokok (tidak termasuk biaya transaksi yang belum diamortisasi dan liabilitas sewa) sebesar Rp 18,53 triliun per 30 Juni 2026. Posisi kas perseroan per 30 Juni 2026 adalah sebesar Rp 15,78 triliun dengan utang bersih Rp 2,75 triliun.

Perseroan memiliki utang jatuh tempo sebesar Rp 6,88 triliun. Jatuh tempo rata-rata utang adalah dua tahun pada 30 Juni 2026.

Belanja Modal

Pengeluaran belanja modal hingga semester I 2026 sebesar Rp 9,51 triliun tidak termasuk Rp 6,57 triliun aset hak guna. Sekitar 57,15 dari pengeluaran modal ini dialokasikan untuk bisnis seluler untuk mendukung permintaan layanan data dan sisanya dialokasikan pada pengeluaran modal untuk MIDI dan telekomunikasi tetap.