Rupiah Melemah, Ini Strategi Emiten Produsen Keju Prochiz Jaga Kinerja

Manajemen PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) menanggapi mengenai nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS.

Diterbitkan 21 April 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi tantangan bagi banyak emiten, terutama yang memiliki ketergantungan pada bahan baku impor. Namun, PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) menilai dampak tersebut masih dapat dikelola melalui sejumlah strategi bisnis yang telah dijalankan sepanjang 2025.

Direktur dan Corporate Secretary KEJU, Jeffry Halim, mengungkapkan perusahaan telah mengantisipasi fluktuasi nilai tukar dengan mendorong kinerja penjualan ekspor. Langkah ini menjadi salah satu penopang pertumbuhan perusahaan selama tahun buku 2025.

"Dampak pelemahan nilai tukar rupiah sebenarnya sudah sempat disinggung sebelumnya, di mana salah satu cara untuk kami untuk bisa memitigasi terkait dengan nilai tukar rupiah itu dengan penjualan ekspor. Kalau kita perhatikan di salah satu presentasi kami tadi, untuk pertumbuhan tahun 2025 itu salah satu yang ikut menunjang itu sebenarnya juga datang dari penjualan ekspor," kata Jeffy dalam Public Expose KEJU, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Jeffry menjelaskan, peningkatan penjualan ekspor memberikan kontribusi positif dalam menjaga stabilitas kinerja keuangan di tengah pelemahan rupiah. Dengan adanya pendapatan dalam mata uang asing, perusahaan dapat mengimbangi sebagian tekanan biaya yang timbul dari bahan baku impor.

Meski demikian, ia menegaskan ekspor bukan satu-satunya solusi. Penjualan luar negeri hanya mampu memitigasi sebagian dampak kurs, sehingga perusahaan tetap perlu menjalankan strategi lain untuk menjaga margin keuntungan.

Menurut dia, kondisi nilai tukar yang fluktuatif membuat perusahaan harus lebih adaptif dalam mengelola risiko, termasuk melalui efisiensi operasional dan penguatan strategi bisnis secara keseluruhan.

"Namun penjualan ekspor sendiri tidak bisa sepenuhnya memitigasi nilai tukar rupiah ini. Tentunya, kami tetap melakukan beberapa aktivity lainnya untuk mengurangi dampak dalam nilai tukar rupiah," ujarnya.

Efisiensi Produksi

Selain mengandalkan ekspor, KEJU juga mendapatkan keuntungan dari peningkatan skala produksi sepanjang 2025. Pertumbuhan bisnis yang solid mendorong volume produksi ke level yang lebih tinggi, sehingga menciptakan efisiensi biaya.

Jeffry menambahkan, efisiensi tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk tetap kompetitif meskipun menghadapi kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah. Dengan kombinasi strategi ekspor dan efisiensi, KEJU optimistis mampu menjaga kinerja operasional tetap solid ke depan. "Di satu sisi juga pertumbuhan yang bagus selama tahun 2025 itu juga membuat kami berada dalam skala produksi yang cukup tinggi.

Di mana skala produksi yang cukup tinggi itu juga membantu kami untuk bisa mempunyai biaya produksi yang lebih efisien ataupun juga biaya operasional yang lebih rendah," pungkasnya.

 

Tebar Dividen 2025

Sebelumnya, PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) memutuskan pembagian dividen tunai dari laba bersih tahun buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar hari ini, Selasa (21/4/2026). Emiten produsen keju tersebut mencatat laba bersih sebesar Rp 179,44 miliar sepanjang 2025.

Direktur Utama PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU), Indrasena Patmawidjaja menyampaikan, sebagian laba tersebut akan dikembalikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.

Dalam keputusan RUPST, perseroan menetapkan dividen tunai sebesar Rp 16 per saham atau sekitar Rp 89,88 miliar. Nilai ini setara dengan sekitar 50,09% dari total laba bersih tahun buku 2025.

"Sebesar Rp 16,- per saham atau sekitar Rp 89,88 miliar atau sekitar 50,09% dari laba tahun buku 2025, ditetapkan sebagai dividen tunai tahun buku 2025 dan akan dibagikan secara tunai kepada seluruh pemegang saham," kata Indrasena dalam Public Expose PT Mulia Boga Raya Tbk, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Dividen tersebut dijadwalkan akan dibagikan kepada para pemegang saham pada 13 Mei 2026. Adapun investor yang berhak menerima dividen adalah mereka yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 1 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.

"Daftar Pemegang Saham Perseroan yang berhak atas dividen tersebut adalah pemegang saham yang terdaftar pada tanggal 1 Mei 2026 pukul 16.00 WIB," ujarnya.

Perseroan juga memberikan kuasa dan wewenang kepada Direksi untuk mengatur tata cara pelaksanaan pembagian dividen tersebut, termasuk mekanisme teknis pembayaran kepada para pemegang saham.

Â