Volatilitas Masih Tinggi di Tengah Konflik Timur Tengah

Volatilitas di pasar keuangan diperkirakan masih tinggi di tengah konflik di Timur Tengah.

Diterbitkan 24 Maret 2026, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar keuangan saat ini masih menunjukkan volatilitas tinggi dan sensitif terhadap berita utama dan pergerakan harga energi. Hal ini seiring perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian tetap tinggi.

Mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia ditulis Selasa (24/3/2026), konflik di Iran diharapkan berakhir lebih cepat seiring konflik yang berkepanjangan akan menjaga harga energi tetap tinggi yang mendorong inflasi global kembali naik, menunda penurunan suku bunga, dan menekan pertumbuhan serta meningkatkan biaya politik bagi pemerintah.

Bagi Amerika Serikat (AS), pemilihan paruh waktu yang akan datang akan menjadi faktor penting karena pemilih sangat sensitif terhadap tekanan biaya bahan bakar dan biaya hidup.

“Tekanan inflasi tambahan ini muncul di tengah ketidakpastian yang berkelanjutan dan tekanan inflasi yang timbul dari tarif global,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Selain itu, the Federal Reserve (the Fed) dapat mengambil sikap lebih hati-hati dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Adapun Eropa dan Asia merupakan importir energi utama, di mana biaya energi yang mahal dapat menyeret kesehatan dan stabilitas fiskal.

“Di tengah kondisi ini, kami percaya investor harus mengambil posisi defensif tetapi tidak sepenuhnya menghindari risiko,” demikian seperti dikutip.

Di saham, Ashmore tetap selektif dan lebih menyukai perusahaan berkualitas tinggi yang menghasilkan pendapatan dalam dolar AS, didukung oleh valuasi dan prospek pertumbuhan yang wajar. “Untuk pendapatan tetap, kami lebih menyukai obligasi berkualitas tinggi dengan durasi lebih pendek dan likuiditas yang kuat hingga ada bukti lebih jelas tentang de-eskalasi dan stabilitas pasar,” demikian seperti dikutip.

Konflik Iran

Adapun saat pasar saham Indonesia memasuki periode libur panjang, sejumlah peristiwa antara lain pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) memberikan gambaran mengenai suku bunga. Selain itu, beberapa bank sentral besar antara lain Bank of Japan (BoJ),Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB) juga menggelar pertemuan setelah the Fed.

“Konflik Iran tetap sangat dinamis dan akan menjadi pendorong sentimen risiko yang paling signifikan dalam jangka pendek,” demikian seperti dikutip.

Sebelumnya, pasar saham dan obligasi global bereaksi terhadap sentimen konflik di Timur Teengah. Sektor energi dan defensi mengalami kenaikan. Namun, sektor siklikal dan sektor yang sensitive terhadap minyak mengalami penurunan kinerja.

Bursa saham Asia lebih rentan karena cenderung lebih terpapar pada biaya energi impor, mata uang yang lebih lemah dan arus modal keluar.

 

Dolar AS Menguat

Di sisi lain, dolar AS menguat karena dinilai sebagai aset safe haven, sedangkan pasar obligasi harus menyeimbangkan pertumbuhan yang lebih lemah dan risiko inflasi yang lebih tinggi.

Sentimen itu juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 28 basis poin (bps) menjadi 4,22% dan obligasi bertenor dua tahun naik 30 bps menjadi 3,67% sejak akhir Februari.

Bagi Indonesia, konflik di Timur Tengah dapat mendorong kenaikan biaya energi impor. Hal itu akan berdampak terhadap inflasi, neraca transaksi berjalan, subsidi bahan bakar dan rupiah.

“Tekanan ini datang pada saat aset Indonesia sudah berada di bawah tekanan, lembaga pemeringkat global menyuarakan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal Indonesia. Sementara itu, lembaga penyedia indeks global menunjukkan kurangnya transparansi di pasar saham,” demikian seperti dikutip.

Adapun otoritas Indonesia masih dalam proses mengatasi semua kekhawatiran ini. Pemerintah telah merespons dengan menegaskan disiplin fiskal, realokasi anggaran dan perencanaan kontingensi.