Harga Minyak Melambung Setelah Iran Serang Kuwait

Harga minyak Brent dan WTI kompak melesat di atas 4% setelah Iran menyerang pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air di Kuwait.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak menguat pada Jumat, 17 Juli 2026. Lonjakan harga minyak terjadi setelah Kuwait mengatakan, Iran menyerang pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air di tengah meningkatnya pertempuran di Teluk Persia.

Mengutip CNBC, Sabtu (18/7/2026), harga minyak Brent menguat sekitar 4,6%, dan ditutup di US$ 88,10 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertambah 4,5%, dan ditutup di US$ 82,49.

Kementerian Listrik, Air dan Energi Terbarukan Kuwait menuturkan, serangan tersebut merusak fasilitas memicu kebakaran yang mempengaruhi sejumlah besar unit pembangkit listrik. Demikian dilaporkan The Kuwait Times.

Kuwait sangat bergantung pada pabrik desalinasi untuk air minum. Para analis telah lama khawatir Iran akan menyerang infrastruktur yang penting untuk mendukung kehidupan sipil di Timur Tengah.

Iran mengatakan, pihaknya menyerang target AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Suriah sebagai balasan atas serangan terbaru oleh Washington, menurut kantor berita pemerintah PressTV.

Sebuah kapal tanker terkena proyektil di lepas pantai Oman yang menyebabkan kerusakan ringan, kata Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris dalam laporan insiden pada hari Jumat. Iran telah berulang kali menyerang kapal tanker selama seminggu terakhir dalam upaya memaksa kapal sipil untuk melintasi Selat Hormuz melalui perairannya.

Komando Pusat AS mengatakan, telah menyelesaikan serangan malam keenam berturut-turut terhadap Iran, menghantam puluhan target militer seperti infrastruktur logistik militer dan kemampuan maritim.

Centcom mengatakan lebih dari 50.000 anggota militer beroperasi di seluruh Timur Tengah. Centcom menambahkan kalau mereka "tetap waspada, mematikan, dan siap."

Pertempuran yang meningkat ini terjadi ketika gencatan senjata yang rapuh yang dicapai bulan lalu telah runtuh, sekali lagi mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis, yang biasanya menangani sekitar 20% lalu lintas minyak dunia.

Rystad’s Head of Geopolitical Analysis, Jorge Leon menuturkan, Rystad Energy masih melihat kesepakatan terbatas antara Washington dan Teheran sebagai hasil yang paling mungkin meskipun kepercayaan pada penilaian ini telah melemah.

Leon menuturkan, Iran dan AS masih memiliki insentif ekonomi yang kuat untuk menghindari kegagalan total dalam pembicaraan, dengan AS berupaya menurunkan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu November dan Iran enggan untuk melepaskan insentif ekonomi.

"Teheran memiliki paket ekonomi substansial yang ditawarkan, termasuk akses ke aset yang dibekukan dan keringanan ekspor, yang tidak ingin mereka tinggalkan secara permanen,” kata León.

Harga Minyak Tergelincir Usai Ketegangan di Timur Tengah Meningkat

Sebelumnya, harga minyak dunia merosot sekitar 1% pada Kamis, 16 Juli 2026 (Jumat pagi Jakarta). Namun, harga minyak masih mendekati level tertinggi sejak pertengahan Juni karena perang Iran meningkat. Teheran meminta Houthi Yaman bersiap menutup jalur ekspor minyak Laut Merah.

Mengutip CNBC, Jumat (17/7/2026), harga minyak Brent turun 0,85% menjadi US$ 84,23 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka terpangkas 0,82% menjadi US$ 78,95 per barel. Pada sesi level tertinggi, kedua kontrak naik lebih dari 1%.

Pada Rabu, harga minyak mentah Brent ditutup pada level tertinggi sejak 12 Juni, dan WTI pada level tertinggi sejak 15 Juni.

Iran telah meminta Houthi untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur listrik Iran, tiga sumber mengatakan kepada Reuters. Pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengulangi ancaman untuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran.

"Dengan Selat Hormuz yang sudah tertutup, ancaman ini meningkatkan risiko serius terganggunya kedua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah secara bersamaan,” kata Direktur di perusahaan pialang StoneX, Alex Hodes.

Total volume minyak bumi yang melewati Bab el-Mandeb mencapai 7,4 juta barel per hari pada bulan Juni, atau sekitar 7% dari produksi minyak global, menurut data Kpler, naik dari 4,2 juta barel per hari tahun lalu.

“Gangguan simultan yang memengaruhi Hormuz dan Bab el-Mandeb akan secara signifikan memperkuat tekanan rantai pasokan, meningkatkan kendala ketersediaan kapal tanker, dan menaikkan premi asuransi,” ujar Financial Markets Strategist Lead Exness, Wael Makarem.

 

Ketegangan di Timur Tengah

Pada Rabu, AS menyerang pertahanan pantai dan situs rudal Iran setelah memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhannya. Teheran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi regional, dengan mengatakan, mereka terlibat dalam "perang eksistensial" dengan Amerika.

Gencatan senjata yang rapuh yang dicapai pada Juni telah runtuh, mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global harian sebelum perang dimulai.

Tujuh kapal melewati selat pada Rabu, sehari setelah AS memberlakukan kembali blokade angkatan lautnya terhadap Iran, turun dari 13 kapal pada hari sebelumnya.

"Tidak mungkin (penurunan penyeberangan Selat) berubah tanpa meredanya ketegangan," kata Hodes.

Iran dan AS saling bertukar tembakan yang intensif pada hari Kamis, yang terus menekan harga. Yang membebani harga adalah pembebasan seorang warga negara AS oleh Iran, yang dapat menunjukkan jalan untuk mencegah dimulainya kembali perang habis-habisan.

Dari sisi pasokan, pengiriman minyak mentah Irak meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi rata-rata sekitar 1,2 juta barel per hari pada paruh pertama Juli, menurut data Kpler dan sumber yang memiliki pengetahuan langsung tentang arus tersebut. Hal ini karena ekspor meningkat setelah berbulan-bulan pengiriman dibatasi.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6