Spanyol Boleh Pede Kalahkan Argentina, Ini 3 Alasannya

Spanyol melaju ke final Piala Dunia 2026 melawan Argentina. Kolektivitas, pertahanan solid, dan jejak Luis de la Fuente jadi modal utama.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Timnas Spanyol menantang Argentina pada final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey, AS, Senin (20-7-2026) mulai pukul 02.00 WIB. La Furia Roja datang dengan momentum kuat setelah rangkaian hasil positif sepanjang turnamen.

Sejak ditahan imbang Tanjung Verde di fase grup, Spanyol selalu menang atas Arab Saudi (4-0), Uruguay (1-0), Austria (3-0), Portugal (1-0), Belgia (2-1), dan Prancis (2-0). Mereka hanya kebobolan satu gol, lewat sepakan Charles De Ketelaere di perempat final.

Laga puncak ini menjadi final Piala Dunia kedua bagi Spanyol setelah menjuarai edisi 2010 di Afrika Selatan. Dengan performa tersebut, tim Matador ikut diunggulkan untuk mengalahkan Argentina di partai puncak, dilansir dari DPA.

Kolektivitas La Furia Roja

Lamine Yamal, 19 tahun, menjadi magnet perhatian publik sepanjang turnamen. Namun pengaruhnya tidak sedominan peran Lionel Messi bagi Argentina, Harry Kane dan Jude Bellingham bagi Inggris, Erling Haaland bagi Norwegia, ataupun trio Prancis Kylian Mbappe, Michael Olise, dan Ousmane Dembele.

"Kami bertanding melawan salah satu tim nasional terbaik, tapi mereka harus menghadapi tim yang sesungguhnya. Kami adalah sebuah tim," ujar Luis de la Fuente, pelatih Timnas Spanyol, seusai laga semifinal.

Spanyol menembus final meski Yamal baru mencatatkan satu gol dan satu assist. Peran penentu justru kerap lahir dari pemain lain yang menyatu dalam sistem.

Mikel Oyarzabal menjadi contoh menonjol. Eksekusi penaltinya ke gawang Prancis menghadirkan gol kelima di Piala Dunia 2026, capaian besar dari penyerang Real Sociedad yang bahkan mungkin tidak masuk deretan sepuluh penyerang paling terkenal di dunia.

Mikel Merino juga berkontribusi krusial dari bangku cadangan. Gelandang ini mencetak gol penentu kemenangan di menit-menit akhir saat menghadapi Portugal dan Belgia.

"Kami semua bekerja demi tujuan yang sama, bukan sekadar ambisi individu. Saya belum pernah merasakan kebersamaan dalam kelompok yang begitu luar biasa, baik di dalam maupun di luar lapangan. Selama 47 hari bersama, kami tidak mengalami satu masalah pun," ungkap de la Fuente.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Menjelang final, Spanyol baru kebobolan satu gol. Hasil imbang 0-0 pada laga pembuka melawan Tanjung Verde sempat menuai cemoohan. Namun kini sang juara Eropa menjalani turnamen dengan performa pertahanan yang luar biasa. Hanya Belgia di perempat final yang benar-benar mampu menekan barisan belakang Spanyol dalam beberapa kesempatan dan menjadi satu-satunya tim yang mencetak gol. Kiper Unai Simon mencatatkan rekor Piala Dunia dengan 649 menit tanpa kebobolan, melampaui rekor milik Walter Zenga yang telah bertahan selama 36 tahun dengan selisih yang cukup jauh. Kerapian struktur di depan Simon juga penting. Rodri berperan sebagai jenderal lini tengah yang melindungi empat bek, sementara Pau Cubarsi yang baru berusia 19 tahun nyaris tak memberi ruang bagi lawan untuk menciptakan peluang di areanya.

Halaman
Show All
Vincentius Atmaja, Aning Jati, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan