Serhii Koretskyi, dari Perusahaan Energi Negara ke Kursi PM Ukraina

Pemerintahan baru Ukraina menghadapi agenda mendesak, mulai dari ketahanan energi hingga pengelolaan bantuan internasional di tengah perang.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 08:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kyiv - Serhii Koretskyi (48), pimpinan perusahaan energi milik negara yang ditunjuk sebagai perdana menteri baru Ukraina pada Kamis (16/7/2026), bukan sosok yang lazim dipilih untuk memimpin pemerintahan.

Berbeda dengan banyak pejabat tinggi Ukraina, Koretskyi tidak meniti karier melalui partai politik, parlemen, ataupun birokrasi. Berbekal pendidikan teknik, ia membangun karier di dunia usaha dan menghabiskan lebih dari dua dekade mengelola industri bahan bakar dan pangan sebelum dipercaya membenahi sejumlah perusahaan energi milik negara Ukraina yang tengah dilanda masalah. Demikian seperti dilaporkan Associated Press.

Dalam waktu singkat, Koretskyi dikenal sebagai manajer krisis yang andal. Ia berhasil memulihkan perusahaan-perusahaan negara yang terpuruk dan membawa perusahaan-perusahaan itu kembali mencetak laba.

Kini, ia menghadapi tantangan terbesar sepanjang kariernya. Kecakapan bisnis saja tidak akan cukup untuk memimpin pemerintahan masa perang yang tengah kekurangan dana. Tugas tersebut juga menuntut keluwesan politik, kemampuan diplomasi, dan kecakapan mengelola dinamika kekuasaan.

Presiden Volodymyr Zelenskyy menugaskan Koretskyi membawa Ukraina melewati musim dingin yang, menurut para pejabat, bisa menjadi yang terberat sepanjang perang akibat serangan Rusia. Ia menjadi perdana menteri ketiga Ukraina sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran.

Namun, masa jabatannya langsung dibayangi gejolak. Ketika parlemen menggelar pemungutan suara untuk mengesahkan pengangkatannya, ratusan demonstran berkumpul di pusat kota. Mereka meluapkan kemarahan terhadap Zelenskyy dan menuding presiden telah menyingkirkan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov yang populer secara tidak adil dalam perombakan pemerintahan mendadak yang diumumkan pekan ini.

Saat berpidato di hadapan parlemen, Koretskyi mengatakan prioritas utamanya adalah melindungi sistem energi Ukraina yang rusak parah, menstabilkan perekonomian, memastikan bantuan internasional digunakan secara efektif, serta memperluas produksi senjata di dalam negeri.

Pada 2022, setelah pemerintah mengambil alih kendali atas produsen minyak Ukrnafta dan operator kilang Ukrtatnafta dari oligark Ihor Kolomoiskyi, Koretskyi ditunjuk untuk memimpin kedua perusahaan tersebut sekaligus.

Dalam dua tahun, Ukrnafta membukukan laba tertinggi sepanjang sejarah, melunasi tunggakan pajak, dan meningkatkan produksi. Perusahaan itu kemudian menjadi salah satu pembayar pajak terbesar di Ukraina sekaligus penyokong penting upaya perang dengan memasok bahan bakar kepada militer dan menyediakan pendanaan untuk drone.

Tahun lalu, Koretskyi dipilih untuk memimpin Naftogaz, perusahaan energi raksasa milik negara, ketika perusahaan tersebut tengah menghadapi masa sulit. Cadangan gas merosot ke titik terendah sepanjang sejarah setelah manajemen sebelumnya gagal mengamankan impor yang memadai, sementara Rusia meningkatkan serangan terhadap fasilitas produksi.

Koretskyi kemudian menggelar audit yang berujung pada restrukturisasi besar-besaran. Sejumlah fungsi yang tumpang tindih dihapus dan struktur kepegawaian dirampingkan, meski langkah tersebut menuai kritik dari internal perusahaan.

Di bawah kepemimpinannya, Naftogaz berhasil meningkatkan cadangan gas menjadi lebih dari 13 miliar meter kubik dan menghimpun dana hampir US$ 1 miliar.

Zelenskyy menyebut Koretskyi sebagai "kandidat yang paling siap" untuk menjadi perdana menteri, dengan menekankan kesiapan menghadapi musim dingin sebagai salah satu prioritas utamanya.