Duel Taktik Guru dan Murid di Final Piala Dunia 2026

Spanyol dan Argentina bertemu di final Piala Dunia 2026. De la Fuente dan Scaloni kembali bersua, dari ruang kelas Las Rozas ke pinggir lapangan.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Timnas Spanyol berhadapan dengan Argentina pada final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Partai puncak ini bukan sekadar adu kualitas skuad, tetapi juga panggung adu strategi Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni.

Spanyol datang sebagai juara Euro 2024, sementara Argentina memegang status juara bertahan dunia. Pertemuan dua tim besar ini sejak awal dikaitkan dengan kisah guru dan murid di balik bangku cadangan.

"Juara Eropa melawan juara dunia dan Amerika Selatan, dengan seorang guru dan mantan muridnya berdiri di area teknis yang berlawanan," tulis ESPN.

Perjalanan Menuju Final: Spanyol Hanya Kebobolan Sekali

Spanyol melaju meyakinkan sejak fase grup. Setelah sempat ditahan tim debutan, Tanjung Verde, laju Tim Matador tak terbendung hingga final.

Rangkaian kemenangan Spanyol datang beruntun atas Arab Saudi (4-0), Uruguay (1-0), Austria (3-0), Portugal (1-0), Belgia (2-1), dan Prancis (2-0). Dari semua pertandingan itu, gawang Spanyol hanya sekali kebobolan.

Satu-satunya gol yang bersarang ke jala Spanyol lahir di perempat final melalui pemain Belgia, Charles De Ketelaere. Catatan tersebut menegaskan rapinya organisasi pertahanan pasukan De la Fuente.

Argentina tampil konsisten sejak fase grup dengan selalu menang. Di babak gugur, La Albiceleste menyingkirkan Tanjung Verde (3-2), Mesir (3-2), Swiss (3-1), dan Inggris (2-1) untuk mengamankan tiket final.

Di partai puncak, Spanyol memburu gelar Piala Dunia kedua mereka—16 tahun setelah meraih yang pertama—sementara Argentina mengejar pencapaian beruntun yang terakhir kali diraih Brasil pada 1962.

Dari Las Rozas ke New Jersey: Hubungan De la Fuente–Scaloni

Usia Luis de la Fuente 65 tahun, sedangkan Lionel Scaloni 48 tahun. Keduanya memiliki hubungan lama yang terjalin di akademi kepelatihan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) di Las Rozas.

Pada 2017, dua tahun setelah gantung sepatu, Scaloni mengikuti kursus di Las Rozas dengan De la Fuente sebagai instruktur. Saat itu De la Fuente menangani tim muda Spanyol dan menjadi salah satu mentor yang membimbing langkah awal Scaloni di dunia kepelatihan.

Perjumpaan mereka di ruang kelas waktu itu tak pernah dibayangkan akan berujung pada pertemuan di final Piala Dunia. Ikatan profesional yang terbangun kemudian berlanjut menjadi hubungan baik di luar lapangan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

"Saya sering berbincang dengannya dan saya mendoakan yang terbaik baginya," ujar Scaloni sebelum kemenangan Argentina atas Ekuador di perempat final Copa America 2024. Rasa saling menghargai juga datang dari kubu Spanyol. De la Fuente bahkan pernah menyebut Scaloni sebagai seorang "guru", penanda hormat kepada sosok yang mengantarkan Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 dan Copa America 2024. "De la Fuente sangat membantu kami yang mengikuti kursus kepelatihan di Las Rozas. Saya menyukai cara dia mengelola tim dan bagaimana dia mengerahkan segalanya," ujar Scaloni.

Halaman
Show All
Vincentius Atmaja, Aning Jati, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan