Dubes Rwanda: Persatuan Jadi Pencapaian Terbesar Kwibohora 32

Kwibohora tidak hanya menyoroti perjalanan Rwanda, namun juga tradisi masyarakat dalam merayakan Hari Pembebasan.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 07:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar (Dubes) Republik Rwanda untuk Indonesia Sheikh Abdul Karim Harelimana menyebut keberhasilan mempersatukan kembali masyarakat sebagai pencapaian terbesar Rwanda dalam 32 tahun sejak pembebasan negara tersebut pada 1994.

Pernyataan itu disampaikan Dubes Harelimana dalam rangka memperingati Kwibohora 32. Kwibohora merupakan istilah dalam bahasa Kinyarwanda yang berarti "membebaskan". Istilah ini merujuk pada Hari Pembebasan Rwanda, yang diperingati setiap 4 Juli untuk menandai berakhirnya Genosida 1994 terhadap Tutsi serta pembebasan negara itu dari masa penderitaan dan kehancuran.

Dubes Harelimana mengatakan masyarakat Rwanda mengalami perpecahan yang mendalam sebelum 1994. Perpecahan itu terjadi berdasarkan kelompok etnis atau klan, daerah asal, serta keyakinan keagamaan.

Masyarakat, sebut Dubes Harelimana, ketika itu terpecah meskipun berbicara dalam bahasa yang sama dan memiliki kebudayaan yang sama.

Ia menggambarkan perpecahan berdasarkan daerah asal dengan perbandingan orang-orang dari Sumatra, Jawa, dan Sulawesi yang saling membenci hanya karena berasal dari wilayah berbeda.

Dubes Harelimana juga mencontohkan sikap individualistis dan sektarian di antara penganut Protestan, Katolik, dan kelompok Kristen lainnya, meskipun menganut agama yang sama.

"Pencapaian utama yang dapat dibanggakan Rwanda adalah mempersatukan kembali masyarakat," kata Dubes Harelimana menjawab pertanyaan Liputan6.com soal pencapaian paling penting dalam perjalanan Rwanda selama 32 tahun terakhir.

Menurut dia, hasil studi menunjukkan bahwa lebih dari 95 persen warga Rwanda meyakini adanya persatuan di tengah masyarakat.   

Dubes Harelimana menggarisbawahi bahwa persatuan tersebut menjadi pencegah terhadap terulangnya persoalan yang pernah dialami Rwanda sebelum dan selama 1994.

"Ini merupakan pencapaian yang sangat besar," ujarnya.

Ia menuturkan bahwa masyarakat Rwanda kini dapat duduk bersama untuk membicarakan berbagai persoalan, menyusun rencana, serta bergerak menuju tujuan yang mereka tetapkan sendiri.

Kami tidak menunggu seseorang mendikte apa yang harus dan tidak boleh kami lakukan," tegasnya.

Menurut Dubes Harelimana, masyarakat Rwanda mengenal diri mereka dan memahami persoalan yang dihadapi lebih baik daripada pihak lain.

"Jadi, ini adalah pencapaian terbesar yang kami banggakan," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dubes Harelimana menjelaskan cara masyarakat Rwanda memperingati Hari Pembebasan. Menurut dia, kebudayaan menjadi unsur utama yang ditampilkan dalam perayaan tersebut.

Ia mengatakan nilai dan tradisi merupakan bagian dari identitas yang membedakan suatu masyarakat dari bangsa lain.

Untuk menjelaskan hal itu, Dubes Harelimana memberikan contoh batik sebagai bagian dari identitas Indonesia. Menurut dia, ketika seseorang mengenakan batik di Kigali, masyarakat dapat mengetahui bahwa orang tersebut pernah berkunjung ke Indonesia atau memiliki hubungan dengan seseorang di Indonesia.

"Ketika kami merayakannya, hal pertama yang kami kedepankan adalah kebudayaan kami," tuturnya.

Dubes Harelimana juga menyinggung kedisiplinan dalam aspek keuangan dan ekonomi ketika menjelaskan bahwa perayaan berskala besar tidak diselenggarakan setiap tahun.

Di luar perayaan berskala besar, peringatan dilaksanakan di tingkat desa dan pemerintahan daerah. Masyarakat berkumpul untuk berbincang, menikmati makanan dan minuman, serta menari.

Adapun perayaan berskala besar dapat diselenggarakan setiap lima tahun atau terkadang setiap 10 tahun.

Menurut Harelimana, perayaan tidak diselenggarakan apabila terdapat keadaan yang menghalanginya. Ia mencontohkan pandemi Covid-19 yang menyebabkan berbagai kegiatan perayaan tidak dapat digelar.

Ketika diselenggarakan dalam skala besar, rangkaian peringatan mencakup pertunjukan kebudayaan, parade militer, tarian, pidato, serta kegiatan masyarakat untuk berkumpul, makan, minum, dan berbincang.

Hari Pembebasan Rwanda merupakan hari libur nasional.

"Demikianlah cara kami memperingati hari-hari penting kami," imbuh Harelimana.