Wapres AS Buka-bukaan soal Salah Langkah Penanganan Epstein Files

Skandal Epstein adalah kasus hukum terkait jaringan perdagangan seks anak dan kekerasan seksual yang diduga melibatkan deretan elite dunia.

Diterbitkan 17 Juli 2026, 16:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengakui pemerintahan Presiden Donald Trump keliru menyampaikan informasi kepada publik terkait dokumen Jeffrey Epstein atau kerap dijuluki Epstein Files. Menurutnya, seluruh berkas tersebut seharusnya dirilis sejak awal tanpa ditunda-tunda.

Meski demikian, Vance membantah anggapan bahwa pemerintah sengaja menutupi informasi.

"Terus terang, kami memang salah menangani penyampaian informasi soal dokumen Epstein," kata Vance dalam siniar 'The Joe Rogan Experience' seperti dilaporkan CNN.

Pernyataan itu disampaikan setelah Vance ditanya apakah ada pihak tertentu yang berusaha memengaruhi pemerintah agar dokumen tersebut tetap dirahasiakan.

"Namun, apakah kesalahan itu terjadi karena kami berusaha menyembunyikan sesuatu? Tidak," ujar Vance dalam episode siniar yang dirilis pada Rabu (15/7/2026).

Pemerintahan Trump terus menghadapi kritik dari para pendukungnya sendiri akibat cara mereka menangani perilisan dokumen Epstein.

Saat menjelaskan sumber masalahnya, Vance menyinggung pernyataan Pam Bondi ketika masih menjabat sebagai jaksa agung. Bondi pernah menyatakan bahwa daftar klien Epstein yang selama ini menjadi perhatian publik telah berada di mejanya.

Vance juga menyoroti pembagian sejumlah bundel dokumen kepada para pemengaruh media sosial sayap kanan pada Februari 2025. Menurutnya, sebagian besar isi dokumen tersebut sebenarnya sudah pernah dipublikasikan.

"Saya tidak tahu apa tujuan pembagian dokumen itu. Namun, dampaknya adalah masyarakat menjadi tidak percaya terhadap seluruh proses tersebut," kata Vance.

Meski mengkritik langkah Bondi, Vance mengaku tidak menilai mantan jaksa agung itu memiliki niat buruk.

"Saya pikir Pam hanya berusaha merespons situasi politik saat itu. Namun, dia menyampaikan seolah-olah kami memiliki lebih banyak informasi daripada yang sebenarnya tersedia. Akibatnya, dia mendapat banyak kritik terbuka, termasuk dari saya," terang Vance.

Vance kemudian kembali menyebut dirinya sebagai salah satu orang yang sejak awal mencurigai adanya hal-hal yang belum terungkap dalam kasus Epstein.

"Saya mungkin sudah mendalami hampir semua teori konspirasi yang beredar soal Epstein," katanya.

Menurut Vance, masalah utama dalam penyelidikan Epstein bermula pada 2007 dan 2008. Ia menilai penyelidikan pada masa itu terlalu terbatas sehingga gagal mengungkap kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas.

Vance juga menyalahkan mantan Jaksa AS Alex Acosta, yang merundingkan kesepakatan pengakuan bersalah kontroversial dengan Epstein.

"Jika memang ada konspirasi yang lebih luas—dan menurut saya kemungkinan besar memang ada—bukti yang ditemukan pada 2007 seharusnya bisa digunakan untuk membongkar semuanya," kata Vance.

Ketika ditanya mengenai teori bahwa Epstein mungkin memiliki hubungan dengan badan intelijen Israel, Mossad, Vance menjawab, "Ya, bisa Mossad, CIA, atau bagian lain dari pemerintahan bayangan."

"Dia jelas memiliki hubungan dengan pejabat di tingkat tertinggi dalam intelijen AS. Dia juga jelas memiliki hubungan dengan kalangan tertinggi dalam intelijen Israel," tambahnya.

Vance membela peran Trump dalam perilisan dokumen Epstein. Ia menolak anggapan bahwa presiden baru bersedia merilis berkas tersebut setelah mendapat tekanan.

Menurut Vance, Trump sebenarnya dapat menghentikan upaya Kongres yang bertujuan memaksa kementerian kehakiman merilis dokumen tersebut apabila memang menginginkannya.

Trump dan para pemimpin Partai Republik sebelumnya berusaha keras menggagalkan upaya tersebut. Namun, Trump kemudian mengubah sikapnya pada saat-saat terakhir.

Meski membela Trump, Vance tetap mengakui bahwa pemerintah membutuhkan waktu terlalu lama untuk merilis dokumen Epstein.

"Jika masyarakat menilai kami salah menangani perilisan dokumen Epstein, saya mengakuinya. Kami memang salah menanganinya, terutama dalam menyampaikan informasi kepada publik," katanya.

"Seharusnya seluruh dokumen itu langsung kami rilis sejak awal," ujar Vance. "Kami seharusnya melakukannya secepat mungkin."