Pulau 'Iblis' Yunani Berubah jadi Surga bagi Anjing Laut Langka

Pulau Gyaros Yunani menjadi kawasan penting bagi konservasi satwa laut terutama anjing laut Mediterania.

Diterbitkan 17 Juli 2026, 17:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Athena - Di tengah Laut Aegea, terdapat sebuah pulau tandus yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simbol penindasan politik Yunani. Pulau Gyaros, yang terletak sekitar 30 menit perjalanan laut dari Syros di Kepulauan Cyclades, pernah menjadi tempat pengasingan dan penjara bagi ribuan tahanan politik.

Kini, pulau yang pernah dijuluki “Pulau Iblis” (Devil Island) itu justru dikenal sebagai salah satu kawasan penting bagi konservasi satwa laut, terutama anjing laut Mediterania (Mediterranean monk seal) yang terancam punah.

Dikutip dari BBC, Jumat (17/7/2026), dari kejauhan, Gyaros tampak seperti daratan kosong dengan lanskap berbatu dan semak belukar. Berbeda dengan pulau-pulau Yunani lain seperti Mykonos atau Andros yang berkembang menjadi tujuan wisata dengan bangunan putih, hotel, dan aktivitas ekonomi, Gyaros hampir tidak tersentuh pembangunan.

Di tengah pulau berdiri bangunan besar berbahan bata merah, bekas kompleks penjara yang menjadi pengingat masa lalu kelam kawasan tersebut.

Jejak Kelam Pengasingan Politik

Sejarah Gyaros sebagai tempat pembuangan tahanan telah berlangsung sejak era Romawi. Namun, masa paling kelam terjadi setelah Perang Saudara Yunani berakhir pada akhir 1940-an.

Pada 1948, pemerintah Yunani mengambil alih properti milik 31 penduduk terakhir Gyaros dan mengubah pulau itu menjadi penjara politik. Dalam dua periode penindasan, lebih dari 20.000 orang dikirim ke pulau tersebut, termasuk anggota kelompok kiri, penulis, mahasiswa, dan seniman yang dianggap menentang pemerintah.

Gelombang pertama terjadi pada akhir 1940-an. Para tahanan dipaksa tinggal dalam kondisi berat, menghadapi suhu ekstrem tanpa fasilitas memadai, serta diwajibkan membangun tembok penjara yang kemudian menjadi bagian dari sejarah kelam Gyaros.

Periode berikutnya berlangsung saat rezim militer Yunani yang dikenal sebagai pemerintahan “kolonel” berkuasa pada 1967 hingga 1974. Pemerintah saat itu menyebut Gyaros sebagai tempat rehabilitasi politik, tetapi laporan sejarah mencatat adanya praktik kerja paksa dan penyiksaan terhadap para tahanan.

Setelah rezim militer berakhir, Angkatan Laut Yunani menggunakan pulau tersebut sebagai lokasi latihan pengeboman hingga 2002. Aktivitas tersebut semakin memperkuat isolasi Gyaros dari dunia luar.

Hingga kini, pulau itu tidak memiliki permukiman tetap, hotel, maupun layanan transportasi reguler. Namun, kondisi tersebut justru menciptakan ruang aman bagi ekosistem yang sebelumnya terancam.

 

Penemuan Koloni Anjing Laut Langka

Perubahan citra Gyaros mulai terjadi pada awal 2000-an ketika nelayan melaporkan keberadaan anjing laut Mediterania di sekitar pulau tersebut.

Perhatian internasional meningkat setelah seorang nelayan spearfishing amatir mengambil foto seekor induk anjing laut bersama anaknya yang sedang beristirahat di pantai terbuka pada siang hari.

Foto tersebut mengejutkan para ilmuwan karena perilaku seperti itu hampir tidak pernah ditemukan lagi di kawasan Mediterania. Anjing laut Mediterania yang dahulu tersebar luas telah mengalami penurunan populasi drastis akibat perburuan, hilangnya habitat pesisir, serta konflik dengan aktivitas manusia.

Pada akhir abad ke-20, jumlah populasi global spesies tersebut diperkirakan hanya tersisa sekitar 350 hingga 450 ekor. Hewan ini kemudian dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah dan sebagian besar bertahan hidup dengan bersembunyi di gua-gua laut terpencil.

Penemuan di Gyaros mendorong penelitian lebih lanjut. Para ilmuwan menemukan sekitar 70 ekor anjing laut dewasa di kawasan tersebut, menjadikannya salah satu koloni terbesar yang diketahui di Laut Mediterania pada saat itu.

 

Minimnya Aktivitas Manusia Jadi Faktor Perlindungan

Para peneliti menilai keberhasilan populasi anjing laut di Gyaros tidak terlepas dari sejarah isolasi pulau tersebut.

Spyros Kotomatas, ahli biologi dan pejabat konservasi laut WWF Yunani, mengatakan bahwa anjing laut di Gyaros menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan populasi lain yang hidup dekat dengan manusia.

Di wilayah lain, anjing laut cenderung lebih waspada karena sering terganggu oleh aktivitas manusia. Namun, di Gyaros, hewan tersebut terlihat lebih tenang dan berani menggunakan pantai terbuka untuk merawat anak-anaknya.

Menurut para peneliti, meskipun ribuan tahanan pernah berada di Gyaros, aktivitas manusia hanya terkonsentrasi di area tertentu dan tidak mengganggu habitat utama anjing laut. Penggunaan pulau sebagai lokasi latihan militer juga terbatas pada wilayah tertentu.

Selain itu, pembatasan aktivitas perikanan selama puluhan tahun turut membantu menjaga ketersediaan sumber makanan bagi satwa laut tersebut.

“Anjing laut adalah hewan yang mampu beradaptasi,” ujar Kotomatas. Ia menjelaskan bahwa bahkan ketika kapal cepat melintas di dekat habitatnya, beberapa anjing laut tetap tidak menunjukkan tanda gangguan.

Dari Simbol Penindasan Menjadi Kawasan Konservasi

Penemuan populasi anjing laut di Gyaros mendorong pemerintah dan organisasi konservasi meningkatkan perlindungan terhadap kawasan tersebut.

Pada 2019, Gyaros secara resmi ditetapkan sebagai Kawasan Perlindungan Laut (Marine Protected Area/MPA), menjadikannya salah satu kawasan konservasi laut penting di wilayah tersebut.

Transformasi Gyaros menjadi contoh bagaimana sebuah wilayah yang pernah identik dengan penderitaan manusia dapat berubah fungsi menjadi tempat perlindungan kehidupan liar.

Pulau yang dahulu menjadi simbol pengasingan dan represi kini memiliki peran baru: menjaga salah satu spesies laut paling langka di dunia.