Microsoft Kehilangan Kapitalisasi Pasar Rp 5.992 Triliun

Saham Microsoft anjlok 10% dan memangkas kapitalisasi pasar setelah laporan kinerja mengecewakan. Tekanan cloud dan Azure jadi sorotan investor.

Diterbitkan 30 Januari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa teknologi Microsoft mengalami penurunan tajam nilai pasar setelah saham Microsoft merosot sekitar 10 persen dalam satu hari perdagangan. Kejatuhan saham ini menjadi yang terparah sejak Maret 2020 dan memangkas kapitalisasi pasar perusahaan hingga USD 357 miliar atau setara lebih dari Rp 5.992 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.790).

Penurunan terjadi pada perdagangan Kamis waktu setempat, menyusul laporan kinerja keuangan terbaru yang dinilai mengecewakan sebagian investor. Alhasil, kapitalisasi pasar Microsoft menyusut menjadi sekitar USD 3,22 triliun atau Rp 54.049 triliun pada penutupan perdagangan. Demikian mengutip CNBC, Jumat (30/1/2026).

Tekanan terhadap saham Microsoft turut menyeret sektor teknologi secara lebih luas. Dana indeks sektor perangkat lunak berbasis ETF iShares tercatat melemah sekitar 5 persen, sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi ditutup turun 0,7 persen. Meski demikian, tidak semua saham teknologi bernasib sama.

Saham Meta justru melonjak sekitar 10 persen setelah perusahaan tersebut merilis kinerja keuangan yang solid serta memberikan panduan pendapatan triwulan yang melampaui ekspektasi analis.

Pelaku pasar menyoroti sejumlah catatan penting dalam laporan keuangan Microsoft, khususnya pada bisnis komputasi awan. Pertumbuhan Azure dan layanan cloud lainnya tercatat sebesar 39 persen, sedikit di bawah konsensus analis StreetAccount yang berada di angka 39,4 persen.

Selain itu, Microsoft memproyeksikan pendapatan sekitar USD 12,6 miliar untuk kuartal ketiga fiskal dari segmen More Personal Computing yang mencakup Windows lebih rendah dibandingkan perkiraan analis sebesar USD 13,7 miliar. Margin operasi yang diperkirakan untuk kuartal mendatang juga berada di bawah ekspektasi pasar.

 

Kata Analis

Chief Financial Officer Microsoft, Amy Hood, menjelaskan kinerja cloud berpotensi lebih tinggi jika perusahaan memprioritaskan alokasi infrastruktur pusat data kepada pelanggan, alih-alih kebutuhan internal.“Jika GPU yang baru aktif pada kuartal pertama dan kedua sepenuhnya dialokasikan ke Azure, indikator kinerja utama kami akan melampaui 40 persen,” ujar Hood.

Analis Melius Research, Ben Reitzes, menilai Microsoft perlu mempercepat pembangunan pusat data untuk mendukung pertumbuhan Azure. Ia menyebut adanya tantangan dalam eksekusi bisnis cloud perusahaan.“Saya melihat ada persoalan eksekusi pada Azure. Mereka harus membangun infrastruktur lebih cepat,” katanya dalam program Squawk on the Street.

Sementara itu, analis UBS yang dipimpin Karl Keirstead mempertanyakan strategi Microsoft dalam mengamankan kapasitas komputasi kecerdasan buatan untuk produk seperti Microsoft 365 Copilot. Menurut UBS, kontribusi Copilot terhadap pertumbuhan pendapatan belum terlihat signifikan.

“Microsoft perlu membuktikan bahwa investasi ini benar-benar memberikan imbal hasil yang sepadan,” tulis UBS dalam catatannya.Meski demikian, pandangan negatif tidak datang dari seluruh Wall Street. Analis Bernstein yang dipimpin Mark Moerdler justru menilai manajemen Microsoft mengambil langkah strategis demi kepentingan jangka panjang perusahaan.

“Kami percaya manajemen secara sadar memilih strategi yang terbaik untuk keberlanjutan perusahaan, meski berisiko menekan kinerja saham dalam jangka panjang,” tulis analis Bernstein.

Ke depan, Amy Hood menyampaikan belanja modal Microsoft diperkirakan akan sedikit menurun pada kuartal ini, seiring penyesuaian strategi dan kapasitas perusahaan.