Microsoft Peringatkan Bahaya Pakai Wi-Fi Hotel, Modus Ini Paling Mengerikan!

Microsoft memperingati adanya operasi peretasan pada Wi-Fi hotel. Begini kata Microsoft.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam sebuah postingan di situs web Threat Intelligence, Microsoft memperingatkan operasi peretasan baru bernama “CaptiveCrunch,” yang diklaim perusahaan tersebut berkaitan dengan Rusia.

Microsoft menyatakan sejak Mei 2026, dideteksi adanya perluasan penyusupan jaringan Wi-Fi di organisasi sektor hospitality, termasuk jaringan Wi-Fi hotel. Demikian sebagaimana dikutip dari Mashable, Kamis (6/8/2026).

Operasi peretasan ini bekerja dengan mengoceh pengguna agar mengunduh file berbahaya melalui pop-up yang muncul ketika terhubung jaringan Wi-Fi hotel. Peretas dapat mengambil tangkapan layar dan merekam ketikan pengguna, bahkan mengambil alih perangkat.

Selain itu, terdapat layar login palsu, memungkinkan peretas mengakses alamat email pengguna.

Menurut Microsoft, cara terbaik menghindari modus peretasan itu adalah menggunakan jaringan yang lebih privat ketika bepergian, seperti mobile hotspot. Ketika tidak memungkinkan dan harus menggunakan Wi-Fi hotel, waspada terhadap segala jenis pop-up setelah terhubung dengan jaringan.

Pop-up ini bisa muncul berupa pembaruan Windows atau jenis pembaruan lainnya tepat setelah terhubung ke Wi-Fi hotel. Sebaiknya jika sedang tidak mengharapkan pembaruan, abaikan saja notifikasi apapun yang muncul.

Microsoft PHK 4.800 Karyawan

Di sisi lain, Microsoft belum lama ini memangkas 4.800 karyawan mereka atau sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerja perusahaan secara global pada Senin, 6 Juli 2026, waktu setempat, dengan divisi Xbox paling terdampak.

Keputusan Microsoft PHK karyawan ini menjadi sorotan karena tidak hanya memangkas posisi, tetapi juga mengubah struktur sejumlah studio game di bawah Xbox.

Amy Coleman, Executive Vice President sekaligus Chief People Officer Microsoft, menyampaikan keputusan ini melalui memo internal kepada karyawan.

Ia menyebut perusahaan perlu menyesuaikan sumber daya di tengah industri teknologi yang berubah cepat, sebagaimana dikutip dari GeekWire, Selasa (7/7/2026).

Coleman menegaskan, posisi yang dihapus tidak akan digantikan langsung oleh kecerdasan buatan (AI). Namun, ia menyebut AI kini mengubah cara pekerjaan diselesaikan di dalam perusahaan.