Ketegangan Jepang dengan Tiongkok Guncang Pasar Saham Pariwisata Tokyo

Jepang mengirim utusan senior ke Tiongkok setelah Beijing menerbitkan peringatan perjalanan yang memicu aksi jual saham pariwisata di Tokyo.

Diterbitkan 17 November 2025, 14:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan terbaru antara Jepang dan Tiongkok muncul setelah Beijing mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang mempertimbangkan untuk berkunjung ke Jepang.

Peringatan tersebut muncul sebagai respons atas pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyinggung potensi penggunaan kekuatan militer dalam konflik Taiwan apabila situasi dianggap mengancam keamanan nasional Jepang.

Melansir laman CNBC, Senin (17/11/2025), pernyataan ini dinilai Tiongkok sebagai bentuk intervensi terhadap urusan dalam negeri mereka, sehingga menimbulkan reaksi keras dari pemerintah Beijing.

Hubungan Jepang–Tiongkok memiliki sejarah tensi yang kerap berdampak pada sektor ekonomi. Pada 2023, misalnya, konsumen Tiongkok memboikot produk-produk Jepang setelah Jepang membuang air limbah PLTN Fukushima yang telah diolah ke laut.

Fenomena serupa tampak kembali muncul, ketika sentimen publik dan langkah pemerintah Tiongkok langsung mempengaruhi performa berbagai perusahaan Jepang di pasar saham.

Melihat situasi yang kian memanas, Jepang mengirimkan seorang pejabat senior, Masaaki Kanai, Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri, untuk melakukan pembicaraan langsung dengan mitranya dari Tiongkok, Liu Jinsong.

Langkah diplomatik ini bertujuan meredakan ketegangan dan meminimalkan dampak ekonomi yang sudah mulai terlihat di pasar. Pemerintah Jepang juga meminta Beijing agar bersikap lebih proporsional dan tidak memperburuk keadaan yang dapat memengaruhi hubungan bilateral.

Langkah Beijing diikuti oleh sejumlah maskapai Tiongkok yang memberikan fasilitas pengembalian dana penuh serta perubahan rencana perjalanan secara gratis bagi penumpang yang sudah membeli tiket ke Jepang.

Hal ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran publik Tiongkok terhadap potensi risiko di Jepang, sekaligus memperlihatkan dampak praktis dari ketegangan yang terjadi di level diplomatik.

Dampak pada Perusahaan Besar yang Bergantung Wisatawan Tiongkok

Imbauan perjalanan tersebut segera memicu aksi jual di pasar saham Jepang, terutama pada sektor yang sangat bergantung pada kehadiran wisatawan Tiongkok. Saham Shiseido anjlok hingga 11 persen, disusul Departement Store Isetan Mitsukoshi yang merosot lebih dari 10 persen.

Operator taman hiburan Oriental Land, yang mengelola Tokyo Disney Resort, turut mengalami penurunan hampir 5 persen. Maskapai ANA Holdings turun 3,48 perden dan perusahaan ritel serta transportasi Hankyu Hanshin juga melemah lebih dari 2 persen, hal tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek turisme Jepang.

Dalam 11 bulan pertama 2024, wisatawan Tiongkok merupakan salah satu penyumbang terbesar perjalanan ke luar negeri menuju Jepang, mencapai sekitar seperlima dari total wisatawan internasional.

Lonjakan wisatawan ini selama bertahun-tahun menjadi sumber pendapatan penting bagi sektor konsumsi, ritel, hiburan, dan perhotelan di Jepang.

Melambatnya arus kedatangan wisatawan dari Tiongkok berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pemulihan ekonomi Jepang, terutama setelah pandemi.

Dinamika Geopolitik dan Dampaknya terhadap Stabilitas Ekonomi

Perkembangan terbaru ini menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara geopolitik dan stabilitas ekonomi. Jepang berada dalam posisi yang sulit, harus menjaga keamanan nasional sembari memastikan dampak ekonomi tidak semakin meluas.

Pertemuan diplomatik yang akan dilakukan antara kedua negara diharapkan dapat memperbaiki komunikasi dan mengurangi potensi konflik lebih besar yang bisa mengguncang kawasan Asia Timur.

 

Â