Harga Emas Sentuh Rekor, Prospek Emiten Terkait Dinilai Positif

Dalam jangka menengah harga emas diperkirakan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat.

Diterbitkan 02 September 2025, 17:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Analis menilai prospek emiten terkait emas akan tetap positif, seiring dengan penguatan harga emas global yang kini menembus level tertinggi sepanjang masa.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, mengatakan kenaikan harga emas diperkirakan akan memberikan korelasi positif terhadap kinerja emiten yang bergerak di sektor tersebut.

“Kami berpandangan positif pada emiten related emas seiring dengan harga emas global yang mencatatkan new ATH atau bergerak di atas level 3.490 USD per toz, karena hal ini akan berkorelasi positif pada kinerja emiten,” ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (2/9/2025).

Audi menambahkan, dalam jangka menengah harga emas diperkirakan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Menurutnya, ada sejumlah sentimen yang menopang pergerakan tersebut, mulai dari arah kebijakan moneter hingga dinamika global.

“Dalam jangka menengah kami memperkirakan harga emas akan cenderung stabil hingga menguat dengan sentimen pertama, pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral, termasuk Fed yang akan memangkas 50 bps FFR hingga akhir Desember dan membuka peluang flow ke safe-havens,” tuturnya.

Selain itu, sentimen lain yang bisa mendorong kinerja emas yaitu ketidakpastian kebijakan global salah satunya kebijakan tarif AS yang masih menimbulkan kekhawatiran pasar dan mendorong diversifikasi aset pada low risk hingga non yield aset.

 

Harga Emas Cetak Rekor

Harga emas mencapai rekor tertinggi karena dipicu oleh dua faktor utama: ekspektasi penurunan suku bunga dan pelemahan dolar AS.

Mengutip CNBC, Selasa (2/9/2025), harga emas spot naik 0,5% menjadi USD 3.492,26 per ons, setelah sempat mencapai rekor tertinggi USD 3.508,50. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga naik 1,4% menjadi USD 3.563,40.

Kondisi ekonomi AS yang lebih lemah meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga. Menurut Kyle Rodda, seorang analis dari Capital.com, hal ini mendorong investor untuk membeli logam mulia seperti emas. Menurut CME FedWatch Tool, para analis memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 17 September mencapai 90%.

Emas yang tidak menghasilkan imbal hasil, biasanya akan lebih menarik bagi investor ketika suku bunga rendah. Hal ini karena investasi lain seperti obligasi atau deposito menjadi kurang menguntungkan.

Pelemahan Dolar AS

Serangan verbal yang dilayangkan Presiden Donald Trump terhadap independensi The Fed menimbulkan krisis kepercayaan terhadap dolar AS. Dolar melemah ke level terendah dalam lebih dari satu bulan terhadap mata uang utama lainnya. Hal ini membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, sehingga mendorong permintaan dan harga emas.

Meskipun Menteri Keuangan Scott Bessent membela hak Trump untuk memecat pejabat The Fed, ia tetap menegaskan bahwa bank sentral tersebut harus independen. Pernyataan tersebut mencerminkan adanya ketegangan politik yang turut memengaruhi pasar keuangan.