Sukses

Jurus Adaro Minerals Sikapi Larangan Sementara Ekspor Batu Bara

Liputan6.com, Jakarta - PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menjadi salah satu emiten yang mengaku tak terdampak kebijakan larangan ekspor batu bara sepanjang Januari 2022. Hal itu lantaran Perseroan melalui entitas anak, PT Maruwai Coal (MC) telah antisipasi atas kebijakan tersebut.

"PT Maruwai Coal telah melakukan upaya mitigasi atas potensi wanprestasi dengan melakukan komunikasi secara intens dengan pembeli. Termasuk mengkaji kemungkinan penjadwalan ulang pengiriman dan atau penyampaian pemberitahuan terjadinya keadaan kahar," ujar Direktur dan Sekretaris Perusahaan Adaro Minerals Indonesia Heri Gunawan dalam keterbukaan informasi Bursa, ditulis Jumat (7/1/2022).

Dengan upaya tersebut, Perseroan mengaku hingga kini tidak ada potensi wanprestasi atas kontrak dengan pelanggan, pemasok, dan atau pihak terkait lainnya sebagai dampak dari larangan ekspor batu bara.

Sebelumnya, pada 3 Januari 2022, MC telah mengirimkan surat kepada Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara yang menyampaikan permohonan agar dapat diberikan izin ekspor kepada MC. Hal itu lantaran batu bara yang diproduksi MC tidak termasuk jenis batu bara yang dibutuhkan untuk memasok PLN.

"Jjenis batu bara yang diproduksi oleh MC adalah jenis batu bara metalurgi (yang digunakan sebagai bahan baku industri baja), berbeda dengan batubara termal yang dibutuhkan untuk penyediaan atau pembangkitan tenaga listrik," ujar Heri.

Perseroan dan entitas anak Perseroan sampai dengan saat ini masih terus memonitor dampak yang akan timbul maupun yang telah timbul dari ada larangan dan kewajiban dari surat larangan ekspor batu bara tersebut.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Gerak Saham ADMR

Pada perdagangan Jumat pagi pukul 09.58 WIB, saham ADMR naik 25 persen ke posisi Rp 380 per saham. Total frekuensi perdagangan 761 kali dengan volume perdagangan 158.925. Nilai transaksi Rp 6 miliar.