TBIG Siapkan Rp 47,4 Miliar untuk Ekspansi Bisnis Digital

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) ekspansi usaha seiring permintaan kebutunan layanan tidak hanya dari penyewaan menara tetapi konektivitas.

Diterbitkan 17 Juli 2026, 12:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) bersiap memperluas lini bisnis dengan masuk ke layanan gerbang akses internet atau Network Access Point (NAP).

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (17/7/2026), ekspansi tersebut akan dilakukan melalui entitas anak perusahaan, PT Tower Bersama (TB), yang selama ini bergerak di bidang jasa telekomunikasi, konsultasi telekomunikasi, pengembangan jaringan, penyewaan menara dan perangkat telekomunikasi, serta pekerjaan telekomunikasi.

Dalam keterbukaan informasi tersebut dijelaskan, bisnis utama TBIG melalui entitas anak selama ini adalah menyewakan ruang pada menara telekomunikasi (sites) sebagai lokasi pemasangan antena dan perangkat transmisi sinyal nirkabel dengan skema kontrak jangka panjang bersama operator telekomunikasi. Selain itu, perseroan juga menyediakan perangkat akses jaringan Repeater dan In Building System (IBS) untuk mendukung layanan telekomunikasi di pusat perbelanjaan maupun gedung perkantoran di kawasan perkotaan.

Namun, seiring perkembangan industri, manajemen menilai kebutuhan pelanggan kini tidak lagi terbatas pada penyewaan menara. Permintaan terhadap layanan konektivitas yang lebih luas, khususnya akses internet berbasis fixed broadband yang cepat, andal, dan aman, terus meningkat baik dari kalangan korporasi maupun individu.

Oleh karena itu, dalam rencana bisnis jangka panjangnya, TBIG akan menambah kegiatan usaha melalui PT Tower Bersama berupa Aktivitas Jasa Gerbang Akses Internet (NAP) yang termasuk dalam KBLI Nomor 61107.

Layanan NAP akan berfungsi sebagai penghubung antara jaringan distribusi internet lokal dengan jaringan backbone internet internasional. Layanan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akses internet berbasis protokol internet (IP) bagi penyedia jasa internet (ISP), korporasi, dan institusi dengan skema bisnis business-to-business (B2B).

 

 

Investasi Rp 47,4 Miliar

Berdasarkan Laporan Studi Kelayakan Bisnis yang disusun KJPP MPR, kebutuhan investasi awal pengembangan bisnis NAP diperkirakan mencapai sekitar Rp 47,4 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pembelian perangkat, kontrak sewa kapasitas Indefeasible Right of Use (IRU), serta biaya konsultan NAP.

Seluruh pendanaan akan berasal dari kas internal perseroan sehingga tidak akan menambah utang maupun mengubah struktur permodalan TBIG. Nilai investasi tersebut juga dinilai tidak material dibandingkan total aset konsolidasian perseroan per 31 Maret 2026 sehingga tidak memberikan dampak negatif terhadap kondisi keuangan.

Dalam proyeksi keuangan periode 2026-2041, bisnis NAP diperkirakan menghasilkan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 18,65%, lebih tinggi dibanding tingkat diskonto sebesar 10,16%. Selain itu, proyek diproyeksikan mencatat Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp 37,83 miliar, Profitability Index (PI) sebesar 1,86 kali, serta payback period sekitar 7 tahun 4 bulan.

Andalkan Infrastruktur yang Sudah Dimiliki

Perseroan menyebut model bisnis NAP akan difokuskan sebagai penyedia layanan wholesale IP transit. Strategi ini dinilai memiliki potensi sinergi yang besar karena Grup Tower Bersama telah memiliki infrastruktur telekomunikasi yang memadai.

Infrastruktur tersebut meliputi jaringan serat optik sepanjang sekitar 60.000 kilometer, kepemilikan menara telekomunikasi, pusat data (data center), hingga entitas anak yang bergerak sebagai penyedia layanan internet (ISP).

Meski demikian, rencana penambahan kegiatan usaha tersebut baru akan efektif setelah memperoleh persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Selain itu, PT Tower Bersama juga masih menyelesaikan proses perizinan usaha serta perubahan anggaran dasar untuk memasukkan KBLI Nomor 61107.

Â