Sukses

Dana Investor Asing ke Bursa Saham Indonesia Sentuh Rp 36,39 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - Aliran dana investor asing masih masuk ke pasar modal Indonesia hingga Oktober 2021. Kasus COVID-19 yang mulai melandai, pemulihan ekonomi dan harga komoditas yang menguat menjadi katalis sehingga investor asing masuk ke bursa saham.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (23/10/2021), aksi beli investor asing mencapai Rp 1,18 triliun pada Jumat, 22 Oktober 2021.

Pada periode 18-22 Oktober 2021, aliran dana investor asing yang masuk ke pasar saham Indonesia mencapai Rp 3,24 triliun. Dengan demikian, total dana investor asing yang masuk ke pasar saham mencapai Rp 36,39 triliun hingga 22 Oktober 2021.

"Investor asing yang ramau masuk bursa disebabkan oleh pemulihan ekonomi Indonesia, juga soal kasus COVID-19 yang sudah melandai,” ujar Head of Equity Trading PT MNC Sekuritas Medan, Frankie Prasetio saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (23/10/2021).

Ia menambahkan, dari segi pasar modal, banyaknya saham-saham bluechip yang sebelumnya masih tergolong murah juga menjadi daya tarik. Hal ini terutama sektor saham perbankan dan komoditas.

"Hal ini menjadi daya tarik investor asing untuk ramai-ramai masuk Indonesia,” kata dia.

Ia mengatakan, aksi beli saham bluechip oleh investor asing itu menyebabkan aliran dana luar biasa. Frankie mengatakan, aliran dana investor asing itu dapat dongkrak kinerja IHSG menjelang akhir 2021.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Harga Komoditas dan Aksi Korporasi Jadi Katalis

Sementara itu, Direktur PT Panin Asset Management Indonesia, Rudiyanto menuturkan, aliran dana investor asing masuk ke bursa saham Indonesia didorong aksi korporasi antara lain rights issue dan penawaran saham perdana. Hal ini seperti rights issue PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

"Indonesia dipersepsikan bagus seiring hagra komoditas seperti batu bara dan crude palm oil (CPO) yang menguat,” kata dia.

Akan tetapi, ada sejumlah hal yang dapat menajdi sentimen negatif bagi bursa saham antara lain jika ada lonjakan kasus COVID-19, China memperketat regulasi, dan tapering atau pengurangan stimulus oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve.

"Tapering meski sudah dikomunikasikan jauh-jauh hari tapi bisa jadi risiko tersendiri,” kata dia.

Adapun terkait target IHSG, Rudiyanto prediksi, IHSG dapat sentuh posisi 6.700. Sedangkan Frankie prediksi, IHSG sentuh posisi 6.850-6.920 hingga akhir 2021.