Makam Tanpa Nama dan Jembatan NU-Muhammadiyah di Karangkajen

Di beberapa sudut makam yang padat, berdiri ornamen berbentuk bambu runcing dengan ikatan bendera Merah Putih berukuran kecil di atasnya. Sebagian dari makam yang

Diterbitkan 29 Juni 2026, 07:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Ada sebentuk riak yang berbeda ketika kita melangkahi batas gerbang Makam Karangkajen. Bukan rasa ngeri yang datang, melainkan getaran heroisme masa lalu dan sebuah pesan bisu tentang bagaimana jubah perbedaan ormas bisa luruh di hadapan sepetak tanah kuburan.

Langkah kaki di Pemakaman Islam Karangkajen, Yogyakarta, kerap terhenti pada pemandangan unik di antara jajaran nisan para ulama. Di beberapa sudut makam yang padat, berdiri ornamen berbentuk bambu runcing dengan ikatan bendera Merah Putih berukuran kecil di atasnya.

Di sana, 'tertidur' para pahlawan muda dan veteran perang kemerdekaan 1945 yang bertaruh nyawa demi kedaulatan Indonesia, termasuk salah satunya Aris Munandar, sang Pahlawan Muda Ampera.

Sisi menyentuh dari klaster makam pejuang ini adalah tiadanya papan nama di atas pusara mereka. Kepada Liputan6.com, Juru Kunci Kompleks Pemakaman Karangkajen, Nur Samhudi (63), mengungkapkan bahwa ketiadaan nama tersebut merupakan keputusan sadar dari pihak keluarga demi menjaga kemurnian niat dan tauhid.

"Di sini banyak juga yang tidak pakai nama. Ada yang dari keluarganya supaya ahli warisnya itu tidak mau dipuja-puja atau bagaimana katanya. Artinya itu kan veteran gitu. Kan di sini ada yang pakai bendera-bendera di makamnya, itu penandanya," tutur Nur sambil membelai salah satu ornamen bambu runcing penanda makam pejuang.

Dukungan warga Karangkajen terhadap perjuangan bangsa memang telah mengakar kuat sejak masa KH Ahmad Dahlan mengawali dakwah memurnikan Islam di Indonesia. Wilayah ini dihuni oleh orang-orang militan, khususnya dari kalangan saudagar batik yang menyokong penuh pendanaan dan pergerakan dakwah Muhammadiyah.

Ikatan emosional yang erat antara sang Kiai dan para saudagar batik inilah yang mendasari alasan mengapa KH Ahmad Dahlan secara khusus meminta agar dirinya dimakamkan di pemakaman Islam Karangkajen ini.

"Semangat juang dan pengorbanan para pendahulu kampung inilah yang terus diwarisi oleh generasi-generasi pejuang berikutnya di masa kemerdekaan," kata Nur. 

Jembatan Silaturahmi Dua Saudara Seperguruan

Di luar kisah heroisme para veteran perang, Makam Karangkajen belakangan menjelma menjadi ruang kultural yang sangat sejuk bagi persatuan umat Islam di Indonesia. Kompleks makam yang secara historis lekat dengan Muhammadiyah ini, kini riuh oleh kedatangan saudara-saudara muslim dari berbagai latar belakang organisasi yang berbeda, termasuk Nahdlatul Ulama (NU).

Sejak Nur Samhudi memegang amanah sebagai juru kunci pada 2015, ia menyaksikan sendiri bagaimana dinding pembatas antarorganisasi perlahan runtuh. Karangkajen kini rutin menerima rombongan peziarah dari berbagai pelosok pulau, mulai dari Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, hingga Banten.

Mbah Nur mengenang momen haru saat menerima rombongan besar warga NU yang datang jauh-jauh dari Jawa Timur menggunakan berbus-bus sarana transportasi demi bisa mendoakan para tokoh di Karangkajen.

"Jadi waktu itu kan memang Muhammadiyah saja, tapi setelah saya jadi juru kunci itu, banyak yang datang warga NU. Ada juga 5 bus dari Surabaya yang merupakan warga NU, yang mereka ingin menyatukan," kenang Nur dengan senyum ramah di wajahnya yang tegas.

Bagi Nur, kedatangan rombongan ziarah lintas organisasi ini adalah sebuah kewajaran sejarah yang manis. Bagaimanapun, para tokoh yang bersemayam di Karangkajen sudah diangkat sebagai Pahlawan Nasional yang sumbangsihnya melampaui sekat kelompok.

 

 

Lebih dari itu, secara silsilah keilmuan, pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari pun lahir dari rahim guru yang sama saat menimba ilmu di tanah suci Mekah.

"Waktu itu saya setelah bertemu dengan pengurus di sini menjelaskan, itu kan sudah Pahlawan Nasional seperti KH Ahmad Dahlan ini, dan tokoh-tokoh yang dimakamkan di sini, nah kalau Pahlawan Nasional kan istilahnya milik seluruh umat. Itu kan sejarahnya, KH Ahmad Dahlan dengan NU sendiri masih satu perguruan, lah setelahnya kok bisa berbeda. Tapi sekarang sudah bebas siapapun bisa datang ke sini untuk mengetahui sejarah," tampaknya penuh semangat.

Mbah Nur bahkan mengatakan, simbol persatuan dua orams besaritu terlihat dari dimakamkannya tokoh NU, yang juga Mantan Menteri Agama Fathurahman Kafrawi. 

Menutup perbincangan di bawah keteduhan pohon kamboja kompleks makam, pria yang juga abdi dalem Keraton ini menitipkan seuntai pesan bijak bagi siapa saja yang melangkahkan kaki ke Karangkajen.

Menurutnya, berziarah ke makam ulama dan pejuang bukanlah soal mencari keajaiban instan, melainkan media pengingat kematian sekaligus sarana meneladani ketulusan hidup para pendahulu bangsa.

“Soal ziarah itu kan sebenarnya balik lagi, tergantung niat. Kan ada kunjungan-kunjungan ziarah itu yang mencari barokah, istilahnya niatnya berbeda gitu. Tapi selama niat kita baik, Insyaallah ziarahnya juga baik," pungkas Nur menutup obrolan sore itu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6