Liputan6.com, Jombang - Berangkat dari keprihatinan atas dinamika internal organisasi, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) secara terbuka memaparkan gagasan besar pembaharuan jamiyah menjelang forum tertinggi Muktamar ke-35 NU. Dalam wawancara eksklusif di Ndalem Kesepuhan Ponpes Denanyar, Jumat (28/8/2026), figur yang mengantongi restu kiai sepuh Ploso ini menegaskan komitmennya untuk menggaungkan agenda rekonsiliasi total guna menyatukan kembali seluruh potensi kader Nahdliyin yang sempat terbelah.
Berikut petikan wawancara khusus tim Liputan6.com dengan pemilik nama akrab Gus Salam:
Bagaimana imajinasi Gus Salam tentang NU di masa depan?
Advertisement
Dengan usia yang sudah cukup matang ini, yang harus kita perhatikan adalah situasi dan salah satu relevansinya adalah dengan transformasi. Tapi karena ormas NU adalah ormas yang landasannya adalah nilai-nilai (value), maka transformasi yang dilakukannya juga tidak bisa meninggalkan nilai-nilai itu: akhlak, kemudian etika. Itu yang prinsip.
Maka salah satu inspirasinya berdirinya NU ini kan untuk menjalin kebersamaan dan kekompakan, persatuanlah di antara ulama, juga tentu relevansinya nanti kepada umat. Maka juga relevansinya yang penting adalah untuk terus membangun jamiyah yang solid dan kompak untuk kemudian benar-benar keberadaannya itu manfaatnya dirasakan oleh umat.
Motivasi maju ketua Umum PBNU?
Kalau motivasi utama kita adalah sebenarnya karena kita dibesarkan oleh kiai. Kita ini kan santri, ya. Itu kan prinsipnya mengikuti perintahnya kiai. Kiai kita ada di Ploso, Kiai Haji Nurul Huda Djazuli, yang kemarin disungkemi sama Pak Prabowo. Itu mengutus kami untuk ikut muktamar.
Salah satu sebabnya adalah melihat dinamika konflik NU sendiri. Mereka menginginkan NU ini menjadi rukun. Sehingga saat memerintah saya, mereka berpesan, nanti segera ada rekonsiliasi total.
Tentu melibatkan semua kader-kader NU yang mempunyai potensi dan profesional dan membangun kembali semangat perjuangan. Kemudian itu saya artikulasikan dalam tiga hal.
Ada namanya ruh al-maad, jiwa kepesantrenan. Apa itu? Semua langkah-langkah yang kita lakukan harus berdasarkan ilmu, konsisten dengan keilmuan, dan kemudian akhlakul karimah. Artinya apa? Artinya pengurus NU, PBNU, harus memberikan teladan yang nyata, baik pada pengurus di bawahnya maupun kepada umat. Teladan terhadap kesederhanaan, teladan terhadap komitmen untuk bangsa dan agama, teladan tentang akhlakul karimah.
Kedua, ruh al-jihad, itu apa? Harus memiliki daya juang yang tangguh. Kita hidup harus berani untuk menghadapi tantangan dan menjaga independensi. Orang yang termasuk yang mungkin hari ini harus dibenahi kembali adalah nalar kritis. Kita tidak boleh menjadi stempel pemerintah, walaupun sebenarnya kita harus bekerja sama dengan pemerintah.
Pengawalan yang kita lakukan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah harus berlandaskan dengan kemaslahatan dan kemanfaatan. Daya juang yang tangguh untuk kita menjaga kemandirian dan independensi.
Ketiga, ruh al-himmah, jiwa pengabdian. Artinya apa? Kita NU harus dikembalikan kepada kerja sama. Ketika orang mengabdi, maka dia memahami tidak boleh mendahulukan interest pribadi, tapi harus mempertanyakan kepentingan umat, kepentingan organisasi. Dengan ruhul himmah, dengan jiwa pengabdian, akan muncul apa yang namanya integritas. Itu yang menjadi prioritas yang akan kami lakukan.
Konsolidasi yang sudah dilakukan seperti apa, Gus?
Kami sebelum muktamar kan sudah ke berbagai daerah. Sudah tiga puluh titik yang kami sambangi. Komitmen-komitmen perubahan, komitmen rekonsiliasi total yang kami tawarkan, sama dengan antusias beberapa karena memang pengurus-pengurus ini kan merasakan sekali dampaknya dari konflik yang terjadi di NU.
Hanya saya menyampaikan, perlu ada rekonsiliasi total dan kerukunan kebersamaan. Antusias karena mereka ingin mengabdikan NU dengan tenang, dengan kenyamanan, tanpa ada riak-riak.
Pandangan terkait posisi NU dalam dinamika politik nasional saat ini?
Jadi NU ini sebenarnya sudah punya panduan. NU ini kan sudah punya pengalaman di berbagai zaman dan berubah-ubah cara meresponsnya sesuai dengan tuntutan zaman.
NU di awal menjadi ormas, tapi juga berhubungan dengan parpol, yaitu Masyumi. Bahkan NU pernah menjadi parpol.
Tahun '94 NU dikembalikan ke Khittah, kemudian menjadi ormas yang fokusnya untuk kemasyarakatan nonpolitik, tapi tetap punya komunikasi politik yang terjalin dengan baik. Karena nggak mungkin NU dibebaskan dari politik.
Walaupun NU ini salah satu berdirinya adalah karena situasi politik di Jazirah Arab. Pergantian rezim, Saudi, dan kemudian di sana membawa juga apa namanya, akidah yaitu Wahabi. Itu juga diperjuangkan oleh NU, karena berlawanan dengan Ahlusunah waljamaah yang diperjuangkan ulama NU. Kemudian sudah punya komitmen mendirikan Komite Hijaz.
Hari ini politik yang dikendarai NU sesuai dengan KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudh (Kiai Sahal) saat beliau menjabat sebagai Rais Aam Syuriyah PBNU periode 1999–2014, beliau mengatakan bahwa politik NU siyasah aliyah, politik tingkat tinggi.
Apa politik tingkat tinggi itu? Yaitu keumatan dan kebangsaan. Ini berbeda dengan orientasinya partai, yang di sana pada siyasah safilah, yaitu politik tingkat rendah, yaitu tentang pragmatis.
Maka untuk menjalankan politik tingkat tinggi, maka NU harus memiliki hubungan yang proporsional dengan pemerintah dan semua partai.
Tapi bahwa ada sejarah-sejarah yang tidak bisa dihapus, yaitu sesuatu yang harus dijaga. Bahwa PKB dibentuk oleh pengurus NU pada waktu itu, itu historis. Tapi ada juga politik realitas, bahwa tidak semua kandidat NU di berbagai partai.
Itu yang sangat saya anggap menjaga politik secara proporsional.
Condong ke arah mana?
Kami akan berhubungan baik dengan semua pihak. Kalau sekarang presidennya Prabowo, ya kita harus kolaborasi dengan mereka.
Artinya, banyak tokoh-tokoh bangsa yang patut kita ajak komunikasi, ya itu harus dilakukan. Ada Pak SBY, ada Pak Jokowi, ada Bu Mega. Itu kan tokoh-tokoh Indonesia yang pernah jadi presiden.
Misalnya melenceng?
Inilah mengapa yang tadi saya bilang, politik kita ini politik kebangsaan yang bermartabat. Artinya apa? Kolaborasi dilakukan, tapi bukan berarti kami jadi stempel pemerintah.
Ketika program pemerintah, ketika kebijakan-kebijakan berpengaruh pada kesejahteraan rakyat, maka kita akan full memberikan dukungan. Tapi ketika kebijakan yang dianggap tidak pro-rakyat, yang berlawan dengan tujuan kesejahteraan rakyat, maka tidak lepas dari kritik.
Itu yang akan diperbaiki?
Iya, sebenarnya kita kehilangan daya kritis periode kemarin, selama periode kemarin. Maka kita gaungkan perubahan.
Seperti apa regenerasi yang dibutuhkan NU?
Yang bisa menjawab tantangan zaman. Artinya, biar tetap relevan, bagaimana NU ini juga diterima dengan baik di generasi milenial maupun Gen Z.
Karena yang mampu memahami psikis dan tantangan zaman, model beragama apa yang diinginkan generasi hari ini, itu ada pada orang-orang yang tidak terpaut jauh umurnya. Sehingga butuh kreativitas, butuh inovasi, butuh harmoni, untuk kemudian menunjukkan bahwa semuanya ini bisa berprofesi apa pun, namun juga sambil ber-NU. Itu menurut saya.
Fokus ke anak muda?
Saya kira kaderisasi di NU ini sudah berjalan dengan baik. Kemudian kita sudah libatkan lebih dalam lagi kepada generasi-generasi untuk terlibat dalam kebijakan-kebijakan NU yang sesuai dengan apa namanya keinginan mereka, tapi tidak keluar dari nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh para pendiri.
Tentu ada inovasi dan kreativitas. Kita melibatkan influencer, kita mengadakan agenda-agenda yang mungkin disukai oleh pemuda generasi saat ini. Itu dilakukan, sehingga mekanisme terjadi. Egalitarianisme, artinya menyatu dengan situasi yang dialami hari ini.
Santri dan teknologi?
Teknologi hari ini sudah menjadi kehidupan kita sehari-hari dan alhamdulillah santri saat ini sudah bisa untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Apalagi AI hari ini sudah menjadi semacam kebutuhan, sudah mulai masuk pelatihan-pelatihan teknologi.
Pesan ke gelaran muktamar?
Saya berharap muktamar yang pertama di abad kedua ini berlangsung dengan teduh, sejuk, penuh dengan kebersamaan, dan kemudian menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi umat dan bangsa, juga memilih pemimpin yang relevan dengan tantangan hari ini, dengan cara-cara yang baik, dengan cara-cara yang benar.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334781/original/015019500_1787897918-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-28T131649.453.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5327298/original/085035000_1756177391-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__83_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316841/original/059462500_1785991327-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-06T113319.126.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335180/original/030250800_1787917505-WhatsApp_Image_2026-08-28_at_18.21.47.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334864/original/085736300_1787901831-IMG_20260827_145959_153.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334858/original/002963100_1787901672-Screenshot_2026-08-28_141555.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334700/original/052434900_1787893425-20260828_090121.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334515/original/004728700_1787873236-ojek_muktamar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334317/original/045525900_1787830546-IMG_1642.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334452/original/075651100_1787845053-WA_1787840402975.jpg)