Kondisi Mengenaskan Korban Gempa di Nagekeo, Belum Tersentuh Bantuan

“Kami mau mengadu ke siapa, air minum saja tidak ada," ungkap warga.

Diterbitkan 18 Agustus 2026, 11:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan warga Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT masih bertahan di tenda pengungsian di kawasan perbukitan sekitar Mbay, ibu kota Nagekeo, tiga hari usai gempa magnitudo 7,7. Kondisi para pengungsi sangat memprihatinkan, anak-anak hingga dewasa tidur beralaskan terpal, persediaan makanan dan air bersih sangat terbatas.

Salah satu lokasi pengungsian berada di Bukit Air Panas. Warga mengaku belum mendapatkan bantuan yang memadai.

“Kami mau mengadu ke siapa, air minum saja tidak ada. Mau masak air di mana, mau omong juga air mata jatuh,” ungkap seorang warga.

Setidaknya terdapat tiga titik pengungsian di kawasan tersebut, dan dua di antaranya belum pernah menerima bantuan sama sekali.

Di salah satu posko, sebanyak 134 kepala keluarga berdesakan dalam satu tenda pengungsian. Mereka berasal dari Marapokot, salah satu desa pesisir yang terdampak paling parah. Bantuan yang ada saat ini masih sangat terbatas dan harus dibagi ke lokasi lain yang juga membutuhkan.

Akses darat menuju Nagekeo masih sulit. Jalur utara belum dapat dilalui, sedangkan jalur selatan yang sempat terbuka kembali tertutup longsor. Kondisi ini membuat kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, obat-obatan, dan tempat perlindungan yang layak semakin mendesak.