Senyum Terakhir Sari Sukoco di Atas KMP Mutiara Sentosa 2

Sari Sukoco menjadi salah satu korban meninggal dunia tragedi kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Pulau Sapudi, Sumenep, Minggu (2/8/2026).

Diterbitkan 04 Agustus 2026, 12:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tangis keluarga pecah saat pintu ambulans perlahan terbuka di depan rumah sederhana di Perumahan Mutiara Regency, Kelurahan Tretek, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung. Di balik peti jenazah baru tiba itu, kepulangan Sari Sukoco (39) bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari duka harus dipikul keluarga untuk selamanya.

Sari pulang dalam keadaan tak lagi bernyawa. Dia menjadi salah satu korban meninggal dunia tragedi kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Minggu (2/8/2026).

Isak tangis tak mampu dibendung keluarga dan kerabat telah menunggu sejak pagi. Suasana rumah duka berubah hening. Tak ada lagi harapan menyambut kepulangannya, selain mengantarkan Sari ke tempat peristirahatan terakhir.

Sehari-hari, Sari bekerja sebagai sopir truk ekspedisi. Dalam pelayaran nahas itu, dia bersama rekan kerjanya, Bambang Susilo, sedang mengantarkan muatan cold storage menuju Makassar. Barang tersebut sebelumnya diambil dari Jakarta sebelum keduanya melanjutkan perjalanan menggunakan KMP Mutiara Sentosa 2. Tak seorang pun menyangka pelayaran rutin itu berubah menjadi mimpi buruk.

Bambang masih mengingat jelas bagaimana kepanikan mulai menyelimuti kapal. Menurutnya, sesaat setelah para penumpang selesai sarapan, teriakan meminta tolong terdengar dari berbagai arah. Informasi tentang kebakaran menyebar begitu cepat.

Api diduga berasal dari dek paling bawah kapal, lokasi tempat kendaraan-kendaraan besar, termasuk truk ekspedisi, diparkir. Asap hitam terus membumbung sementara penumpang berhamburan mencari jalan menyelamatkan diri.

Di tengah kepanikan itu, Bambang dan Sari berlari menuju bagian ujung kapal. Keduanya telah mengenakan pelampung. Saat melihat kobaran api semakin membesar, Bambang mengajak rekannya segera melompat ke laut.

"Saya sempat mengajak beliau untuk terjun, tapi beliau hanya tersenyum dan mengangguk. Akhirnya saya terjun duluan," kenang Bambang dengan suara lirih.

Begitu berada di laut, Bambang bersama penumpang lain berusaha berenang menjauh agar terhindar dari kobaran api. Mereka kemudian mendekati kapal lain yang berada di sekitar lokasi dan berhasil dievakuasi.

Sejak saat itu, dia kehilangan jejak rekannya. Baru setelah berada di kapal penyelamat, Bambang menerima kabar paling tidak ingin didengarnya. Sari ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

"Saya baru tahu beliau ditemukan dalam kondisi meninggal setelah saya berada di kapal penyelamat," ujar Bambang.

Bagi Bambang, kehilangan itu terasa begitu berat. Hampir delapan tahun mereka bekerja bersama sebagai sopir ekspedisi. Sosok Sari dikenalnya sebagai pribadi yang ramah, ringan tangan, dan selalu siap membantu siapa pun yang membutuhkan.

Di sela perjalanan panjang yang sering mereka lalui bersama, Sari bahkan sempat bercerita mengenai rencana besarnya tahun ini. Dia ingin menikah dan memulai kehidupan baru bersama perempuan dicintainya.

Namun impian itu kini tinggal kenangan. Perjalanan menuju Makassar justru menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya.

Usai disemayamkan di rumah duka, jenazah Sari kemudian diantarkan ke Komplek Pemakaman Umum Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman. Diiringi doa dan tangis keluarga, dia dimakamkan, meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang mengenal sosoknya sebagai pekerja keras dengan banyak harapan belum sempat diwujudkan.