Siklon Senyar Picu Banjir Bandang di Tapanuli Selatan

Hujan ekstrem akibat Siklon Senyar memicu 1.572 titik longsor yang materialnya menyumbat aliran Sungai Garoga.

Diterbitkan 14 Agustus 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kajian Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia (UI) mengungkap banjir bandang di Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dipicu hujan ekstrem akibat Siklon Senyar.

Peneliti I-SER UI Dr. Eko Kusratmoko mengatakan hujan dengan intensitas luar biasa tinggi memicu ribuan longsoran di wilayah hulu. Material longsoran kemudian terbawa ke hilir, menyumbat aliran sungai, hingga menyebabkan banjir bandang.

"Hasil temuan karena siklon Senyar mengakibatkan banjir bandang," tutur Eko saat dihubungi.

Berdasarkan analisis pemodelan hidrologi dan hidrodinamik terhadap bencana yang terjadi pada 25 November 2025, curah hujan harian tercatat mencapai 229,7 milimeter dengan akumulasi selama sepekan lebih dari 600 milimeter.

Intensitas hujan tersebut tergolong ekstrem dan diperkirakan memiliki periode ulang hingga 300 tahunan.

Kajian I-SER UI menemukan faktor yang memperparah banjir bukan semata perubahan tutupan lahan, melainkan longsoran besar di kawasan hulu.

Pemetaan menggunakan citra satelit mendeteksi sedikitnya 1.572 titik longsor. Material dari longsoran tersebut kemudian terbawa aliran air menuju hilir dan menyumbat saluran sungai.

"Dari 1.572 titik, 81 persen ada di wilayah lahan hutan dengan lereng curam sampai sangat curam. Hujan yang ekstrem ini menimbulkan longsoran hebat di hulu dan kemudian aliran debris lumpur akan menutup di saluran, jebol dan terjadilah banjir bandang," paparnya.

Menurut Eko, kondisi tersebut membuat hujan ekstrem menjadi pemicu utama terjadinya bencana.

 

Tata Ruang Perlu Dibenahi

Kajian tersebut juga menganalisis perubahan tutupan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga.

Hasilnya, memang terdapat alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit pada periode 1990–2026. Namun, luas perubahan tersebut hanya sekitar 10 persen dari total DAS Garoga yang mencapai 445 kilometer persegi.

Selain relatif kecil, lokasi perubahan tutupan lahan tersebut juga dinilai tidak berkontribusi langsung terhadap banjir yang terjadi.

"Sebagian besar perubahan lahan sawit memang sebagian besar di bagian bawah, jadi sebenarnya tidak ada efeknya dengan banjir," ungkap Eko.

Kajian I-SER UI juga menelusuri isu aktivitas pertambangan Aek Pahu yang sempat dikaitkan dengan banjir bandang Garoga.

Eko menjelaskan aliran dari kawasan Aek Pahu berada pada sistem yang berbeda dengan wilayah utama yang terdampak banjir.

"Aek Pahu posisinya di sebelah selatan. Aliran air dari Aek Pahu itu dari wilayah pertambangan mengalir juga ke bagian hilir Sungai Garoga, sudah mendekati laut titiknya. Jadi tidak mengalir di tengah yang banjir ini, di luar sistem," jelas Eko.

Dengan demikian, berdasarkan kajian tersebut, aktivitas pertambangan Aek Pahu tidak berada pada sistem aliran yang menjadi lokasi utama terjadinya banjir bandang.

Kajian I-SER UI mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan.

Peneliti merekomendasikan pembenahan tata ruang sebagai salah satu langkah mitigasi. Pemerintah daerah perlu menentukan kawasan yang aman untuk permukiman sekaligus menyiapkan titik-titik evakuasi jika bencana serupa kembali terjadi.

Namun, penentuan kawasan aman tersebut dinilai perlu melibatkan masyarakat setempat.

"Kami beri batas aman mana yang boleh ditinggali, mana yang bisa jadi tempat evakuasi. Tata ruang perlu kesepakatan Pemda dengan masyarakat," pungkas Eko.