Merawat Pertemanan Jarak Jauh Saat Semua Sibuk, Kuncinya Bukan Intensitas Bertemu

Jarak sebenarnya bukan ancaman terbesar bagi sebuah persahabatan.

Diterbitkan 24 Agustus 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lulus kuliah, pindah kota karena pekerjaan, melanjutkan pendidikan, atau membangun keluarga sering kali membuat lingkaran pertemanan berubah. Frekuensi bertemu yang semula hampir setiap hari berganti menjadi percakapan singkat lewat pesan atau panggilan video.

Kesibukan masing-masing juga membuat banyak orang khawatir hubungan yang selama ini terjalin akan perlahan memudar. Psikolog sosial sekaligus Associate Professor di Loyola University Maryland, Theresa E. DiDonato, menjelaskan bahwa perubahan dari pertemanan yang intens menjadi hubungan jarak jauh memang memicu gejolak emosi.

Perubahan tersebut tidak hanya menghadirkan rasa kehilangan, tapi juga menuntut setiap orang menemukan cara baru untuk menjaga kedekatan di tengah rutinitas yang semakin padat. "Banyak orang sebenarnya sedang berduka karena kehilangan pola kedekatan yang dulu mereka miliki," katanya, melansir Refinery29, Sabtu, 18 Juli 2026.

Meski demikian, psikolog sekaligus profesor di Stony Brook University, Anne Moyer, menilai jarak bukan ancaman terbesar bagi sebuah persahabatan. Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pertemanan memiliki kemampuan beradaptasi selama kedua belah pihak masih menjaga kedekatan emosional.

"Penelitian menunjukkan bahwa persahabatan bukan hubungan yang rapuh, melainkan fleksibel. Karakter hubungan memang bisa berubah seiring perubahan hidup, tapi bukan berarti pertemanan itu berakhir," kata Moyer.

Moyer menjelaskan, rasa dekat tidak selalu ditentukan oleh seberapa sering seseorang bertemu secara langsung. Ikatan emosional justru menjadi fondasi utama yang membuat sahabat tetap merasa hadir dalam kehidupan satu sama lain.

Kedekatan tersebut dapat dibangun melalui perhatian kecil, saling mendukung ketika menghadapi masalah, hingga berbagi kabar penting tanpa harus menunggu momen khusus. Teknologi menjadi salah satu sarana yang memudahkan komunikasi lintas kota maupun negara.

Menjaga Hubungan Tetap Hangat

Panggilan video, pesan singkat, serta berbagi meme dapat membantu menjaga hubungan tetap hangat. Aktivitas sederhana seperti menonton serial favorit secara bersamaan sambil saling mengirim komentar juga mampu menciptakan pengalaman yang terasa akrab meski dilakukan dari tempat berbeda.

DiDonato mengingatkan bahwa komunikasi tidak sebaiknya berhenti pada percakapan ringan. Hubungan akan terasa semakin kuat ketika sahabat saling membuka diri mengenai persoalan pribadi, pencapaian, maupun keputusan penting yang sedang dihadapi.

"Penting untuk menjadi pihak yang memulai percakapan. Jangan hanya berbicara soal rutinitas sehari-hari. Hubungi teman ketika membutuhkan masukan, ingin berbagi kabar baik, atau menghadapi persoalan besar. Cara itu membangun keintiman dan rasa saling percaya," jelasnya.

Selain menjaga komunikasi, memiliki aktivitas bersama juga membantu mempertahankan kedekatan. Klub buku virtual menjadi salah satu contoh yang sempat populer ketika banyak orang tidak dapat bertemu langsung.

Beri Perhatian

Membaca buku yang sama, menentukan target bacaan mingguan, lalu mendiskusikannya secara daring dapat menciptakan ruang berkumpul yang konsisten sekaligus memberi topik baru untuk dibicarakan.

Kesibukan sering kali membuat pesan tidak langsung dibalas. Kondisi tersebut wajar selama tidak berubah menjadi kebiasaan mengabaikan komunikasi. Moyer menilai keseimbangan dalam memberi perhatian menjadi faktor penting agar tidak muncul perasaan bahwa hanya satu pihak yang terus berusaha mempertahankan hubungan.

Respons yang terlambat sesekali bukan masalah, tapi membiarkan pesan dan panggilan tanpa balasan dalam waktu lama dapat menciptakan jarak emosional. Moyer juga menekankan bahwa menjaga pertemanan tidak selalu membutuhkan komunikasi setiap hari.

Sejumlah penelitian menunjukkan, menghubungi sahabat secara konsisten, meski hanya pada momen tertentu seperti ulang tahun atau hari besar, tetap mampu mempertahankan hubungan dalam jangka panjang. Konsistensi dinilai lebih penting dibanding intensitas yang sulit dipenuhi ketika semua orang memiliki kesibukan berbeda.

 

Jangan Dianggap Ancaman

Pengalaman menjalani fase kehidupan yang serupa juga dapat memperkuat hubungan jarak jauh. Memulai pekerjaan pertama, pindah ke kota baru, membangun karier, atau memasuki kehidupan berkeluarga pada periode yang hampir bersamaan membuat sahabat lebih mudah memahami tantangan satu sama lain.

Rasa senasib tersebut sering kali menjadi perekat yang membuat komunikasi tetap mengalir meski tidak dilakukan setiap hari. Perubahan lingkungan juga membuat setiap orang berkesempatan membangun lingkaran sosial baru.

Kondisi ini tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi persahabatan lama. Masing-masing tetap membutuhkan teman yang hadir secara langsung di tempat tinggalnya, sementara sahabat lama tetap memiliki posisi yang tidak tergantikan karena telah melalui berbagai pengalaman bersama.

Hubungan jarak jauh pada akhirnya tidak bergantung pada seberapa sering bertemu, melainkan pada kesediaan kedua belah pihak untuk tetap hadir ketika dibutuhkan.