Pengemudi Ojol Curhat ke Polisi, Banyak Penumpang Enggan Pakai Helm

Pengemudi ojek online curhat karena banyak penumpang enggan menggunakan helm. Polisi meminta agar pengemudi ojol tetap meyakinkan para penumpangnya untuk menjaga keselamatan dengan menggunakan helm.

Diterbitkan 11 Februari 2026, 17:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Para pengemudi ojol curhat kepada polisi. Mereka bercerita, para penumpang yang bandel enggan menggunakan helm. Keluhan itu langsung disampaikan kepada Direktur Ditlantas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Raydian Kokrosono.

Ini adalah salah satu program yang diwajibkan oleh Kapolri yakni sinergitas bersama para pengemudi ojol. Polisi akan terus berdiskusi dan mendengarkan aspirasi para ojol. 

"Keluhannya, tadi sempat dikeluhkan masalah helm. Kadang-kadang ada penumpangnya yang enggak mau pakai helm, alasannya jaraknya dekat, mungkin rambutnya rusak, mungkin seperti itu," ucap Raydian di Bandung, Rabu (11/2/2026). 

Raydian mengingatkan pengemudi ojol agar tetap mengutamakan keselamatan baik untuk diri sendiri maupun penumpang. Oleh karenanya, aturan berkendara harus tetap dilaksanakan meski ada keluhan dari penyewa jasa ojol.

"Karena mereka kalau misalnya mereka nolak kan mereka akan dikasih bintang satu. Nah, ini masalah dari ojol kepada pimpinannya (perusahaan). Mungkin ke depan untuk pimpinan ojol bisa dipikirkan ini," ucap dia. 

Raydian mengatakan, menggunakan helm bagian dari menjaga diri dari kejadian tak terduga. Salah satunya kecelakaan lalu lintas. Karena itu, dia meminta agar pengemudi ojol tetap meyakinkan para penumpangnya untuk menjaga keselamatan dengan menggunakan helm.

"Karena kecelakaan tidak memilih tempat dan waktu, jadi bisa mengintai di mana saja. Apapun ceritanya dan apapun situasinya, jaraknya jauh atau pendek, harus pakai helm. Kebanyakan cewek dan anak-anak remaja. Ya, padahal kalau saya kalau dari Polantas, dari polisi, kita harus tegak lurus," jelas dia. 

Pada kesempatan yang sama, pihaknya telah melakukan berbagai kegiatan preemptive selama pelaksanaan Operasi Keselamatan Lodaya 2026. Kegiatan tersebut didominasi edukasi dan sosialisasi keselamatan berlalu lintas kepada masyarakat.

"Pada saat operasi keselamatan H+10 ini, di seluruh jajaran Polda Jawa Barat kita sudah melaksanakan kegiatan preemptive sebanyak 2,5 juta kegiatan," ujar Raydian.

Gencar Edukasi Keselamatan

Raydian menyebutkan, kegiatan tersebut meliputi penyebaran sekitar 1,3 juta lembar leaflet dan brosur imbauan keselamatan berlalu lintas. Petugas juga turun langsung ke sekolah dan perusahaan untuk memberikan edukasi keselamatan berkendara kepada pelajar dan karyawan.

"Kita juga melaksanakan sekitar 600 ribu kegiatan edukasi di media sosial, kemudian sosialisasi kampanye berkeselamatan. Kita kunjungi sekolah, kita datangi perusahaan untuk memberikan himbauan. Tujuan akhirnya tetap sama, bagaimana kita menjaga dan menyelamatkan nyawa manusia," kata Raydian.