Kisah Tragis Angga, Pelajar SMP di Grobogan yang Tewas Disiksa Teman Sekelasnya

Angga yang dikenal pendiam menjadi korban bullying teman-temannya hingga meninggal dunia.

Diterbitkan 14 Oktober 2025, 15:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Grobogan - Dunia pendidikan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kembali tercoreng dengan mencuatnya kasus bullying di lingkungan sekolah. Angga Bagus Perwira (12), siswa kelas VII SMP Negeri 1 Geyer, Kabupaten Grobogan, dilaporkan tewas di sekolah usai diduga menjadi korban bullying teman-teman sekelasnya.

Peristiwa tragis yang menimpa Angga terjadi pada Sabtu (11/10/2025). Yang mengejutkan, bocah pendiam yang tinggal di Desa Ledokdawan, Geyer Grobogan, ini konon kerap mengalami perundungan verbal dan fisik.

Tewasnya salah satu pelajar di Kabupaten Grobogan di tangan teman temannya sekelas itu, tentu memicu keprihatinan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten setempat.

Kepala Disdik Grobogan, Purnyomo, mengaku prihatin dengan kasus dugaan bullying yang menewaskan siswa kelas VII G, SMPN 1 Geyer.

Atas kasus yang terjadi di lingkungan sekolah ini, pihaknya berharap Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Grobogan menangani perkara ini dengan adil dan profesional.

"Kami sangat prihatin dan menyesalkan kejadian itu bisa terjadi. Ini jadi bahan evaluasi kami supaya hal serupa tidak terulang," ujar Purnyomo kepada wartawan, Selasa (14/10/2025).

Purnyomo pun mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Angga Bagus Perwira. Selain itu, ia mengharapkan semoga polisi bisa mengungkap tuntas.

Informasi yang diterima Liputan6.com menyebutkan, korban sebelumnya pernah mengalami perundungan teman temannya pada 28 Agustus 2025 lalu. Atas kejadian yang dialami cucunya, nenek Angga bahkan pernah melaporkan ke pihak sekolah. Aduan nenek korban langsung direspon cepat pihak SMPN 1 Geyer, selanjutnya telah dimediasi internal oleh pihak sekolah.

Selama ini, korban tinggal bersama neneknya sejak belasan tahun lalu. Sebab kedua orang tua korban merantau bekerja di Cianjur Jawa Barat.

Hal itu pun dibenarkan oleh Kepala SMPN 1 Geyer, Sukatno saat dikonfirmasi. Pihak guru Bimbingan Konseling (BK) telah melakukan pembinaan kepada pelaku yang juga rekan sekelas korban.

"Guru BK langsung menindaklanjuti dengan memberi bimbingan. Mereka teman satu kelas. Masalah selesai, pelaku sudah minta maaf. Selanjutnya mereka berteman seperti biasa," ujar Sukatno saat ditemui di ruangannya, Senin (13/10/2025).

Kasus perundungan yang menimpa Angga pada Agustus lalu, kata Sukatno, berbeda dengan dugaan bullying hingga membuat korban meninggal. Meskipun rekan satu kelas VII G, namun pelakunya berbeda.

Sukatno mengakui pihak sekolah kecolongan atas peristiwa itu. Namun saat itu dipastikan persoalan telah berakhir damai.

"Beda pelaku dengan yang ini. Kami sangat menyesal dan mohon maaf hal itu bisa terjadi. Kami percayakan penanganan kasus ini kepada kepolisian," tutur Sukatno.

Kasus dugaan penganiayaan yang menewaskan Angga ini, mendorong pihak keluarga menuntut keadilan. Mereka mendesak kepolisian bertindak profesional dalam menangani kasus tersebut.

Sawendra yang juga orang tua korban sangat menyesalkan kejadian yang menimpa anaknya itu. Pria berusia 38 tahun ini mengaku tak habis pikir tidak adanya pengawasan serius dari tenaga pendidik di SMPN 1 Geyer hingga membuat anaknya meninggal dunia.

Menurut Sawendra, kasus bullying verbal dan fisik yang membayangi Angga akhir-akhir ini bahkan sudah pernah dilaporkan ke pihak sekolah setempat.

"Tidak ada kata maaf intinya dan harapannya diproses seadil adilnya. Soalnya nyawa hubungannya ini. Kalau bisa nyawa dibayar nyawa. Tapi hukum kita ikuti aturan yang berlaku. Tapi harus dihukum setuntas-tuntasnya," tukas Sawendra.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Grobogan melalui Kasat Reskrim AKP Rizky Ari Budianto, mengaku masih mendalami kasus meninggalnya Angga yang diduga korban bullying teman-teman sekolahnya.

Tak hanya itu, pihak Penyidik Satreskrim Polres Grobogan juga masih memeriksa sejumlah saksi. Diantaranya teman-teman sekolah korban termasuk para guru SMPN 1 Geyer.

"Masih proses pemeriksaan semua. Saksi yang diperiksa banyak," ucap Rizky.

Satreskrim Polres Grobogan juga menggandeng Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jateng. Tujuannya melakuka autopsi jenazah korban.

Langkah yang ditempuh polisi untuk menindaklanjuti permintaan keluarga korban. Selain itu, untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban.

"Jadi kami harus ekstra hati-hati dan teliti dalam penanganan ini karena melibatkan anak berhadapan hukum," pungkas Rizky.

 

Sosok Angga di Sekolah

Angga Bagus Perwira (12), siswa kelas VII SMP Negeri 1 Geyer selama ini dikenal pendiam. Insiden tragis yang menimpa Angga di saat berlangsung jam istirahat sekolah.

Kepala SMPN 1 Geyer, Sukatno menyebut bahwa Angga merupakan sosok siswa berkepribadian baik. Bahkan tidak ada catatan buruk di SMPN 1 Geyer. Kelas VII G dengan jumlah 29 siswa tercatat sebagai kelas unggulan.

"Almarhum dik Angga adalah siswa yang baik dan pendiam. Kami mohon maaf sebesar-besarnya dan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga dik Angga," tutur Sukatno saat ditemui di ruanganya, Senin (13/10/2025).

Dari keterangan pihak sekolah, kejadian yang merenggut nyawa korban berlangsung saat jam istirahat kedua sekitar pukul 11.10. Dugaan bullying itu disebut terjadi di depan ruang kelas VII G, bukan di dalam kelas.

"Saat itu jam istirahat jadi di luar pantauan guru. Tiba-tiba ada siswa yang melaporkan ke kami. Kami langsung bertindak. Dari UKS, Angga kami larikan ke Puskesmas tapi dinyatakan meninggal dunia," kata Sukatno.

Sukatno sendiri mengaku sangat menyayangkan kejadian tak pantas ini bisa terjadi. Padahal, kata Sukatno, sosialisasi menyoal bahaya bullying sudah sering digencarkan di lingkungan sekolah.

"Kami sangat menyesal, anti bullying sudah sering disosialisasikan di sekolah," pungkas Sukatno.

 

Kronologis Kejadian Tewasnya Angga

Paman korban, Suwarlan (45), mengatakan, keluarga menerima informasi jika Angga meninggal dunia di sekolah pada siang sekitar pukul 11.00.

Sebelumnya, menurut Suwarlan, keponakannya itu diduga dikeroyok teman sekelasnya saat jam istirahat sekolah.

"Kata teman-teman sekolahnya, diduga korban bullying. Saat itu kejang-kejang dan mau dibawa ke UKS tapi sudah meninggal dunia," tutur Suwarlan saat ditemui di rumah duka di Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer.

Jenazah Angga kemudian diperiksa di Puskesmas dan kemudian dirujuk ke RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiardjo Grobogan untuk kepentingan autopsi.

"Permintaan kami supaya diautopsi kepolisian, biar jelas penyebab kematiannya. Perut dan dadanya menghitam," kata Suwarlan.

Sebelum meninggal, Angga kerap mengeluh kepada keluarga karena dibully teman temannya di sekolah. Akibat tindakan perundungan verbal dan fisik yang dialaminya itu, membuat korban takut untuk bersekolah.

"Pernah sakit juga di kepala karena dipukuli dan tidak masuk sekolah. Kami akhirnya datangi sekolah dan melaporkannya," imbuhnya.

Korban kemudian mau masuk sekolah meski tetap dihina dan dianiaya. Selama ini, korban adalah anak penurut dan hobinya sepak bola.

Suwarlaln pun mengaku sangat terpukul dengan kepergian cucunya. Pihaknya menyayangkan tidak adanya pengawasan dari pihak sekolah, hingga bullying yang menimpa cucunya itu bisa kembali terulang.

Pihak keluarga menerima informasi perihal kematian korban pada Sabtu siang dari pihak sekolah.

Berdasarkan keterangan teman-teman sekolahnya, ABP dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 11.00 usai diduga dianiaya teman-teman sekelasnya.

Ada juga yang menyebut ABP meninggal dunia lantaran sengaja dijatuhkan dari tangga.