Potensi Keindahan Alam Sumba Bisa jadi Destinasi Wisata Internasional

Melihat Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu destinasi Indonesia yang memiliki potensi luar biasa dan kualitas alam yang sangat berkelas.

Diterbitkan 08 Juni 2026, 16:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Sumba - Melihat Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu destinasi Indonesia yang memiliki potensi luar biasa dan kualitas alam yang sangat berkelas di mata internasional.

Dari pengalaman menjelajahi berbagai belahan dunia, Ferdinand Hamdan dapat mengatakan bahwa pesona alam Sumba memiliki karakter unik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Sebagai pelaku wisata dan CEO dari Lintas Dunia yang telah berkecimpung lebih dari satu dekade di industri pariwisata, Ferdinand mengembangkan layanan perjalanan antar pulau hingga antar negara, serta memiliki pengalaman mengunjungi lebih dari 40 negara di dunia.

"Setiap sudut Sumba menghadirkan pengalaman yang berbeda. Mulai dari savana luas, pantai eksotis, perkampungan adat, hingga budaya masyarakat lokal yang masih sangat terjaga," ujar Ferdinand, Senin (8/6/2026).

Dia melanjutkan, hamparan savana yang luas, perbukitan eksotis, pantai alami, hingga suasana alam yang masih sangat autentik membuat Ferdinand berpikir bahwa untuk menikmati keindahan seperti di Afrika, kita sebenarnya tidak perlu pergi jauh ke luar negeri.

"Setelah mengunjungi Sumba, saya semakin percaya bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan tidak kalah dengan destinasi dunia mana pun," kata Ferdinand.

 

Akses Masih Mahal

Ferdinand menyampaikan, rumah-rumah tradisional yang berdiri di tengah alam terbuka, budaya yang menyatu dengan kehidupan masyarakat, serta suasana alam yang begitu tenang membuat Sumba terasa seperti negeri dongeng yang nyata.

"Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Sumba adalah salah satu permata terbaik Indonesia yang belum sepenuhnya dikenal dunia," ucap dia.

Namun di balik keindahan itu, lanjut Ferdinand, ada hal yang juga perlu menjadi perhatian bersama, yakni akses menuju Sumba saat ini masih tergolong mahal.

"Terutama harga tiket pesawat yang cukup tinggi sehingga belum semua masyarakat Indonesia bisa dengan mudah menikmati destinasi luar biasa ini," kata dia.

Perjalanannya ke Sumba awalnya hanya untuk survei destinasi wisata selama lima hari. Namun sesampainya di sana Ferdinand justru memutuskan memperpanjang perjalanan menjadi lebih dari satu minggu karena begitu banyak tempat yang belum sempat dikunjungi.

 

Makna Pariwisata

Ferdinand juga mengembangkan bisnis pariwisata dengan nama Lintas Dunia yang bertempat di Pontianak, lalu kini telah membuka cabang di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.

"Bagi saya, pariwisata bukan sekadar bisnis perjalanan, tetapi juga cara memperkenalkan keindahan Indonesia kepada lebih banyak orang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara," papar dia.

Selain itu, lanjut dia, perkembangan investasi pariwisata juga perlu dijaga keseimbangannya. Di beberapa kawasan pantai khususnya di wilayah barat Sumba mulai terlihat adanya dominasi investor dan pembangunan properti wisata dengan harga yang sangat tinggi.

"Jika tidak dikelola dengan bijak kondisi ini bisa menciptakan kesenjangan sosial antara masyarakat lokal dan perkembangan pariwisata itu sendiri," ucap dia.

"Sumba seharusnya tidak hanya menjadi destinasi eksklusif bagi kalangan tertentu, tetapi juga menjadi kebanggaan bersama yang tetap memberikan ruang, manfaat ekonomi, dan keberlanjutan bagi masyarakat lokal. Pariwisata yang baik bukan hanya soal pembangunan resort mewah, tetapi juga bagaimana alam tetap terjaga dan masyarakat setempat ikut tumbuh bersama," tutup Ferdinand.