Pesona Abadi Tari Legong, Jejak Keanggunan Sejarah dan Makna Filosofis di Balik Gerakan yang Menawan

Tari ini menjadi bagian dari upacara adat, simbol rasa syukur, dan bentuk penghormatan terhadap leluhur, sehingga memperkaya khazanah budaya Bali

Diterbitkan 05 Juli 2025, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tari Legong adalah salah satu warisan seni pertunjukan klasik Bali yang tak hanya menampilkan keindahan gerak tubuh para penarinya, tetapi juga memancarkan aura kemegahan budaya yang lahir dari lingkungan kerajaan dan kemudian berkembang menjadi hiburan rakyat yang dinikmati hingga saat ini.

Diketahui, tari Legong dikenal dengan gerakan yang begitu luwes, anggun, dan kaya akan detail, sehingga membuat siapa saja yang menontonnya terhanyut dalam pesona gerak yang diselaraskan dengan irama gamelan Semar Pagulingan yang merdu dan menenangkan, membawa para penonton pada suasana magis yang penuh kehalusan rasa dan nilai-nilai estetika tinggi.

Menurut catatan dalam Babad Dalem Sukawati, Tari Legong diperkirakan muncul sekitar tahun 1811 dari lingkungan keraton (istana) Bali, di mana pada masa itu pertunjukan ini hanya diperuntukkan bagi keluarga bangsawan sebagai hiburan eksklusif di dalam istana yang megah dan sakral.

Tetapi seiring berjalannya waktu, tarian ini mengalami perkembangan dan transformasi penting, dari sekadar seni pertunjukan istana menjadi seni pertunjukan yang dapat disaksikan masyarakat luas di berbagai desa.

Bahkan tari ini menjadi bagian dari upacara adat, simbol rasa syukur, dan bentuk penghormatan terhadap leluhur, sehingga memperkaya khazanah budaya Bali yang terkenal dengan kehidupan seni dan adat istiadatnya yang begitu kuat dan lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tari Legong sendiri memiliki berbagai jenis dengan kekhasannya masing-masing, antara lain Legong Kraton, Legong Bapang, dan Legong Lasem. Setiap jenisnya membawa cerita, tema, serta koreografi tersendiri, namun tetap mempertahankan unsur utama yang menjadi ciri khas Legong, yakni gerakan yang luwes, indah, dan sarat makna.

Penari Legong kecuali penari Condong, menggunakan kipas sebagai properti penting yang bukan hanya sekadar pelengkap visual, tetapi juga menjadi media ekspresi emosi penari dalam menuturkan cerita melalui tarian, sekaligus memperkuat keindahan estetis setiap gerakan yang mereka tampilkan. Selain keindahan geraknya, Tari Legong juga memuat nilai-nilai filosofis mendalam.

Simbol Ajaran Hidup

Termasuk nilai-nilai religius dan gambaran tentang hubungan suami istri yang harmonis, menjadikan tarian ini bukan hanya tontonan semata, tetapi juga simbol ajaran hidup dan pengingat akan pentingnya keseimbangan, keselarasan, dan rasa hormat dalam hubungan antar manusia dan hubungan dengan alam semesta.

Sehingga setiap gerakan yang tertata rapi dengan struktur yang jelas, mulai dari bagian Pepeson, Bapang, Pengawak, Pengipuk, Pesiat, hingga Pekaad.

Bukan hanya sekadar rangkaian koreografi, tetapi juga menyimpan pesan-pesan luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, membuktikan bahwa Tari Legong adalah bagian dari identitas budaya Bali yang pantas untuk terus dijaga dan dilestarikan sepanjang masa.

Penulis: Belvana Fasya Saad

Â