Liputan6.com, Jakarta - Liburan sekolah atau akhir pekan menjadi momen yang tepat untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Bertempat di lingkungan Pondok Pesantren Yatim Mabda Islam, tepatnya di Kampung Pasir Gede, Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, ada destinasi wisata edukasi yang menawarkan pengalaman seru dan berbeda, yaitu Edupark Sukabumi.
Di sini, pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan berbagai satwa lucu, mencoba aktivitas memanah, hingga merasakan sensasi berkuda. Salah satu daya tarik utama Edupark Mabda Islam adalah mini zoo-nya yang beragam.
Wisatawan bisa menemukan rusa, domba, kelinci, dan banyak lagi. Resti Yah, seorang wisatawan yang sengaja datang bersama keluarganya, mengungkapkan kegembiraannya.
Advertisement
"Banyak mini zoo kayak rusa, domba, kelinci, terus kalau buat anak-anak mah seru gitu bisa buat edukasi. Bisa berkuda juga, ada kereta," kata Resti, pada Minggu (29/6/2025).
Resti menambahkan bahwa ia dan keluarganya sangat menikmati momen memberi makan hewan-hewan dan berkuda. Meskipun tinggal tidak terlalu jauh dari lokasi, ia mengaku jarang berkunjung.
"Nggak juga sih, jarang, walaupun dekat juga jarang kesini. Kalau libur bisa ke sini, kebetulan lagi libur panjang jadi ke sini, daripada jauh-jauh ke luar kota jadi ke sini, mendingan yang dekat aja," jelasnya.
Simak Video Pilihan Ini:
Tantangan dan Keseruan Menunggang Kuda
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/5267959/original/035090300_1751187020-IMG-20250629-WA0015.jpg)
Pengalaman berkuda menjadi salah satu favorit pengunjung. Namun, bagi sebagian orang, ada tantangannya tersendiri. Seperti yang diungkapkan Alfan, wisatawan asal Cianjur.
"Kudanya belum dipanasin kata pelatihnya tadi, iya susah-susah gampang," ujarnya sambil tertawa.
Ia menjelaskan bahwa bagian tersulitnya adalah saat menunggangi dengan cara yang benar, sementara jika sudah terbiasa akan terasa mudah.
"Naiknya soalnya kudanya tinggi, butuh (tenaga) kaki untuk menekuk, lengan untuk menjaga tali tres, ya senang," imbuhnya.
Advertisement
Edupark sebagai Pusat Edukasi sekaligus Penopang Pesantren Yatim
Salah satu wisata Edupark Sukabumi ini ternyata bukan sekadar tempat rekreasi biasa. Abi Sandi Nopiandi, Pimpinan Ponpes Yatim Mabda Islam, menjelaskan visi di balik pengembangan kawasan wisata ini.
Berangkat dari memanfaatkan potensi wisata geografis yang dimiliki Sukabumi, Abi pun menemukan ide dari berbagai pilihan wisata alam yang sudah ada.
"Maka kita coba inisiasi kawasan wisata yang memang di dalamnya ada eduwisata sehingga anak-anak bukan hanya wisata berlibur, mereka pulang dari sini mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tentang flora dan fauna, harapan kami seperti itu," ujar Abi Sandi.
Di wisata Sukabumi ini, pengunjung bisa menemukan berbagai jenis pohon, mulai dari pinus, kelapa, buah tin, hingga tanaman dapur. Tak hanya itu, beragam hewan pun hadir, baik lokal maupun impor.
"Seperti rusa, kemudian ada kambing pygmy dari Afrika, ada domba merino dari Australia, kemudian ada kelinci yang jelas memang konsepnya bagaimana anak-anak bisa berinteraksi dengan mereka, mendengar suaranya, bisa memegang badan dari hewan tersebut dan yang lainnya," jelasnya.
Berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya provinsi, biaya masuk ke Edupark tergolong terjangkau, yaitu sekitar Rp15.000. Untuk wahana tambahan seperti kereta api anak, menunggang kuda, atau ATV, terdapat tiket terusan yang bisa dibeli.
Manfaat Edupark bagi Pesantren dan Santri
Selain sebagai destinasi wisata edukasi, Edupark Sukabumi memiliki peran vital bagi Pondok Pesantren Yatim Mabda Islam.
"Pertama, karena pesantren kita perlu diketahui memang khusus untuk yatim dan gratis 100 persen, sehingga adanya kawasan wisata ini diharapkan menjadi salah satu sumber pemasukan bagi pesantren untuk membiayai operasional pendidikan anak santri yang ada di sini," ungkap Abi Sandi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kawasan ini juga berfungsi sebagai wakaf produktif terintegrasi antara peternakan, pertanian, dan wisata. Hasil pertanian dan peternakan di sini tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari para santri.
Yang menarik, santri-santri juga dilibatkan langsung dalam pengelolaan area wisata. Mereka belajar berjualan, mengurus hewan, melayani pengunjung, hingga menjaga tiket.
"Anak-anak santri kami ajarkan untuk memiliki mental wirausaha. Mereka belajar berjualan di sini dan perlu dicatat juga di sini santri-santri kami tidak boleh bahkan pengunjung dilarang memberikan uang ke santri,” tuturnya.
“Jadi kalau mau memberikan perhatian kepada santri cukup dengan membeli jualannya bukan memberi uangnya, karena kami disini sedang mendidik mereka untuk mampu menjadi pengusaha di masa depan sehingga mereka mampu mandiri secara ekonomi," tegas Abi Sandi.
Pelibatan santri ini juga bertujuan untuk melatih mental dan kemampuan komunikasi mereka. Pesantren ini didirikan pada tahun 2018, bersamaan dengan pengembangan Edupark. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah permodalan.
"Karena kita ini benar-benar minim modal hanya mengandalkan apa yang ada dan yang kami bisa yang mungkin tantangan paling utama adalah permodalan karena kami ini memang lembaga sosial yang mengurusi anak-anak yatim yang memang setiap hari membutuhkan operasional tinggi," jelas Abi Sandi.
Saat ini, Pondok Pesantren Yatim Mabda Alam menampung sekitar 250 santri dari usia PAUD hingga SMA, berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten.
Edupark Sukabumi menjadi bukti nyata bagaimana pariwisata dapat berkontribusi positif bagi pendidikan dan kemandirian. Adapun jam operasional di sini, buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317507/original/011159500_1786016808-cek_fakta_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/5267958/original/032252000_1751187020-IMG-20250629-WA0016.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1373282/original/024149200_1476385389-Sukabumi.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316519/original/033789400_1785936253-416144.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3990204/original/089633000_1649494709-IMG_20220329_102733.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315128/original/016652100_1785828961-397814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314620/original/073464600_1785754595-413724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3276071/original/013936200_1603437779-word-stop-with-child-s-hand-dark-wall.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313869/original/024113300_1785718643-413103.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313765/original/031305800_1785679623-413076.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313173/original/059154900_1785592609-412398.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312579/original/012078400_1785512521-orang_hilang.jpg)