Liputan6.com, Jakarta - Dua bulan lamanya keluarga menanti kepulangan Valent A. Tambuto (19), Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang tewas diduga dibunuh di Armenia. Penantian itu berakhir pada Minggu (20/9/2026) malam, ketika peti jenazah Valent tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Tangis keluarga pecah saat peti dikeluarkan dari gudang kargo sekitar pukul 21.00 WITA. Peti kemudian dibawa menggunakan ambulans untuk selanjutnya disemayamkan di rumah duka di kawasan Hertasning, Makassar.
Valent ditemukan meninggal dunia di kamar mes perusahaan tempatnya bekerja di Armenia pada 15 Juli 2026. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Valent diduga dibunuh oleh rekan kerjanya yang juga merupakan WNI.
Advertisement
Saat ditemukan, kondisi Valent disebut mengenaskan. Wajah, tangan, dan kakinya terikat lakban, sedangkan tubuhnya tertutup selimut.
Adik korban, Arnold, mengatakan keluarga harus melewati proses panjang untuk membawa jenazah pulang. Upaya tersebut dilakukan bersama sejumlah pihak hingga akhirnya Valent dapat kembali ke tanah air.
"Kalau tiba di Makassar-Maros ini sekitar jam 21.00 WITA. Jadi kurang lebih dua bulan kami berupaya mencari bantuan hingga akhirnya bisa memulangkan jenazah," kata Arnold kepada wartawan.
Bagi keluarga, kepulangan Valent menghadirkan perasaan yang bertolak belakang. Mereka lega karena akhirnya dapat membawa sang anak kembali, tetapi harus menerima kenyataan bahwa Valent pulang hanya dalam peti jenazah.
"Sangat rindu. Perasaan keluarga tentu campur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena akhirnya bisa pulang, tapi sedih karena yang kembali hanya nama dan jenazah," ujar Arnold.
Setelah dari bandara, jenazah Valent dibawa ke Rumah Sakit Grestelina sebelum disemayamkan di rumah duka. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung Senin (21/9/2026) sore di Tempat Pemakaman Kristen Pannara.
Â
Keluarga Masih Menunggu Kejelasan Kasus
Arnold mengatakan keluarga belum mendapatkan informasi resmi mengenai perkembangan penyelidikan kasus tersebut dari otoritas Armenia. Informasi yang mereka terima sejauh ini masih berasal dari komunikasi tidak resmi.
"Sampai saat ini kami belum menerima informasi resmi. Masih dari mulut ke mulut. Namun dari gambaran awal, diduga ada total sekitar lima orang pelaku yang terlibat dan seluruhnya merupakan WNI," jelas Arnold.
Keluarga juga menduga Valent dibunuh karena mengetahui rencana penggelapan uang di tempat kerjanya. Namun, dugaan mengenai motif maupun jumlah pelaku tersebut masih menunggu konfirmasi dan pembuktian dari aparat penegak hukum setempat.
Keluarga berharap kasus tersebut dapat diusut hingga tuntas dan pihak yang terbukti terlibat mendapat hukuman sesuai ketentuan hukum.
"Harapan kami tentu ada keadilan. Pelaku bisa dihukum setimpal atas perbuatannya," pungkas Arnold.
Â
Advertisement
Pemulangan Melewati Sejumlah Tahapan
Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan proses membawa jenazah Valent kembali ke Indonesia tidak mudah karena harus menunggu penyelesaian sejumlah prosedur di Armenia.
"Memang ini sebuah perjuangan yang begitu panjang. Ada beberapa hal yang sangat terbatas dengan kondisi tenaga kerja kita, terutama terkait hubungan bilateral dan penanganan lokasi kejadian di Armenia," ujar Chaidir.
Menurut dia, otoritas setempat harus menyelesaikan pemeriksaan, identifikasi, dan klarifikasi hukum sebelum jenazah dapat dipulangkan.
"Kasus yang menimpa almarhum membutuhkan berbagai tahapan, mulai dari pemeriksaan, identifikasi, hingga klarifikasi karena adanya penanganan kasus di sana. Hal ini yang membuat pemulangan tidak mudah," jelasnya.
Chaidir menyebut proses tersebut akhirnya dapat diselesaikan melalui koordinasi Pemerintah Kabupaten Maros dengan pemerintah pusat dan sejumlah pihak lainnya.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Maros, masyarakat, dan keluarga almarhum, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Republik Indonesia, Kemlu, Kementerian P3MI, serta para anggota DPR RI yang telah berjuang mengawal proses ini," kata Chaidir.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491146/original/066985700_1770086696-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-03T094228.234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354030/original/018131800_1789992594-cek_fakta_KM_Virgo_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4769936/original/006475700_1710237097-bank_papua_hoaks.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5141760/original/081875600_1740382803-IMG-20250224-WA0113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354097/original/025688500_1790003327-1169706.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354138/original/054107900_1790032786-IMG-20260921-WA0037.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/699933/original/_Dawn__Victims.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354134/original/075611600_1790029996-IMG_3760.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354132/original/060911700_1790016444-1001688843.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354131/original/069665600_1790015394-046675900_1790015011-1001611906.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354128/original/038782000_1790013910-IMG-20260921-WA0012-1-768x346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354126/original/046500600_1790008578-1001112084.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354124/original/098678800_1790007383-1001687129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354122/original/022820500_1790006605-WhatsApp-Image-2026-09-21-at-22.41.19.jpeg.webp)