Kerkhof Peutjoet, Kompleks Pemakaman Serdadu Belanda yang Menyimpan Kisah Tragis Meurah Pupok

Kerkhof Peutjoet memiliki gerbang bergaya art deco. Pada sisi kanan dan kirinya terdapat deretan prasasti marmer.

Diterbitkan 13 Juni 2025, 04:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Aceh - Kerkhof Peutjoet adalah persemayaman terakhir ribuan tentara Belanda yang tewas pada masa Perang Aceh (1873-1904). Kompleks pemakaman ini berlokasi tepat di sisi kanan Museum Tsunami Aceh.

Kerkhof Peutjoet memiliki gerbang bergaya art deco. Pada sisi kanan dan kirinya terdapat deretan prasasti marmer.

Mengutip dari laman Indonesia Kaya, nama kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara bahasa Belanda dan bahasa Aceh. Kerkhof dalam bahasa Belanda berarti kuburan.

Kerkhof sebenarnya tersusun dari dua kata, yakni kerk yang berarti gereja dan hof yang berarti halaman. Kerkhof diasosiasikan sebagai kuburan karena umumnya pemakaman di Belanda terletak di halaman gereja.

Sementara itu, kata peutjoet konon berasal dari nama seorang putra mahkota Kesultanan Aceh, Meurah Pupok. Ia adalah putra Sultan Iskandar Muda.

Dalam lingkungan istana, Meurah Pupok memiliki panggilan kesayangan Photeu Tjoet. Panggilan itu merupakan gabungan kata photeu yang berarti raja dan tjoet yang berarti kecil.

Sebelum menjadi kompleks pemakaman, Kerkhof Peutjoet memiliki sejarah yang berakar dari kisah tragis Meurah Pupok. Ia dimakamkan di sebuah bukit kecil di kawasan ini.

Makamnya terpisah dari keluarga kesultanan lainnya. Makamnya bersanding dengan dua makam yang diyakini sebagai pendamping atau penjaganya.

Pemisahan makam ini didasarkan pada hukuman rajam yang diterima Meurah Pupok. Algojo rajamnya adalah ayahnya sendiri. Hukuman ini mencerminkan betapa tegaknya hukum di dalam istana.

 

Penjelasan Sejarawan

Sejumlah sejarawan Aceh mengatakan bahwa penyebab hukuman yang diterima Meurah Pupok masih diperdebatkan hingga kini. Ada yang mengatakan Meurah Pupok menjalin hubungan terlarang dengan seorang gadis Belanda.

Penyebab lain diduga ia terlibat dengan istri perwira Kesultanan. Sementara itu, riwayat berbeda mengatakan Meurah Pupok difitnah dan hal ini berkaitan dengan intrik politik dalam lingkaran kekuasaan.

Keberadaan makam Meurah Pupok menjadi cikal bakal kawasan pemakaman Peutjoet. Kerkhof Peutjoet yang awalnya menjadi tempat pemakaman bangsawan istana pun berkembang menjadi kompleks pemakaman militer Belanda terbesar di Aceh.

Saat ini, Kerkhof Peutjoet dikenal sebagai kompleks pemakaman yang mencatat jejak panjang perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme. Salah satu nama paling dikenal dan dimakamkan di pemakaman ini adalah Jenderal Kohler yang tewas pada 1873 ketika memimpin serangan terhadap Masjid Raya Baiturrahman. Peristiwa ini menjadi simbol awal perlawanan bersenjata rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda.

Penulis: Resla