Mimpi Dedi Mulyadi Bangun Tugu Kujang di Bogor Minimal Setinggi Monas

Bogor adalah wilayah bersejarah, pusat pemerintahan dan peradaban Sunda, pada masanya.

Diperbarui 03 Juni 2025, 21:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, berwacana bangun Tugu Kujang minimal setinggi Monumen Nasional alias Monas yang kini tegak di Jakarta. Dia mencita-citakan, Tugu Kujang kelak akan julang di Bogor

Hal itu disampaikannya pada pidato saat Rapat Paripurna DPRD Kota Bogor dalam peringatan Hari Jadi Bogor, yang turut disiarkan secara daring DPRD Kota Bogor, Selasa, 3 Juni 2025.

Mudah-mudahan, kapayunna tiasa aya tugu kujang anu jangkungna minimal sami sareng Monas, kitu. (Mudah-mudahan, ke depan akan ada tugu kujang yang tingginya minimal sama dengan Monas, begitu),” kata Dedi Mulyadi.

Lewat pidato berbahasa Sunda, Dedi Mulyadi menegaskan, Bogor adalah wilayah bersejarah, pusat pemerintahan dan peradaban Sunda, pada masanya. Tugu Kujang seolah menjadi tanda bahwa Bogor, umumnya Jawa Barat, merupakan suatu wilayah yang penting dalam konteks kebangsaan.

Ieu teh kan penting, sabab Monas teh Jakarta. Jakarta teh kan pendudukna saeutik di bawah 10 juta. Kan urang mah hampir 54 juta. Naon nu aya di Jawa Barat pasti mangaruhan Indonesia.

(Ini penting. Monas itu di Jakarta. Jakarta itu penduduknya sedikit di bawah 10 juta. Kan kita hampir 54 juta. Kondisi Jawa Barat itu sangat mempengaruhi kondisi Indonesia),” katanya.

Pada hari jadi Bogor, Dedi menyeru, pemerintahan dan masyarakat di Jawa Barat bisa menanamkan ulang jati diri atau falsafah-falsafah lama ‘Ki Sunda’. Bogor dalam sejarah kebudayaan Sunda, kata Dedi, adalah tanah pusaka.

Pamungkas, kuring mah peupeujeuh, kulantaran ieu tanah pusaka ulah dirogahala, ulah disiksa. Kukituna peradaban geus ningalikeun, sing saha nu nyaah ka Bogor hirupna bakal nanjung, sing saha nu ngahina Bogor ngirupna bakal susah,kecap Dedi.

Diketahui, ada salah satu monumen bernama Tugu Kujang telah berdiri di Jalan Raya Pajajaran, Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Dibangun pada masa pemerintahan walikota Achmad Sobana, 4 Mei 1982. Tugu itu tingginya sekitar 25 meter. Sementara, Tugu Monas di Jakarta tingginya sekitar 132 meter.

 

Kenang Kerajaan Pajajaran

Sebelumnya diberitakan Liputan6, Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, mengenang kejayaan Kerajaan Pajajaran. Ia mengajak rakyat Jabar kembali ke jati dirinya, yakni Jati Diri Ki Sunda. Hal tersebut disampaikannya tepat di Hari Jadi Bogor ke-534 Tahun.  

“Pagi hari ini saya sudah berada di Bogor. Hari ini Kabupaten Bogor merayakan hari jadinya, sama juga dengan Kota Bogor. Agar seluruh masyarakat Jawa Barat paham bahwa dulu di Bogor bersemayam sebuah negara, sebuah kerajaan, yang bernama Pakuan Pajajaran,” ucapnya di media sosial, Selasa, 2 Mei 2025.

Dahulu, Dedi cerita, Pakuan Pajajaran dimimpin raja arif bijaksana, yang begitu mencintai rakyatnya, memilih menjadi seorang petani biasa, yang menjadi masyarakat biasa. Sosok demikian mesti dijadikan tauladan bagi masyarakat kiwari agar mencintai kembali tanah Sunda. "Dia bahkan menghindari konflik yang merugikan rakyatnya," kata Dedi.

“Di Hari Jadi Bogor, semoga bisa mengembalikan kembali spirit Siliwangi, spirit Sri Baduga, spirit Pamanah Rasa, spirit Jaya Dewata, spirit Ratu Haji, dan spirit Niskala Wastu Kancana,” imbuhnya.

Dalam konteks hari ini, mengembalikan spirit Pakuan Pajajaran, kata Dedi, artinya mengembalikan pembangunan berbasis kelestarian lingkungan. Dia menukil falsafah Sunda yang dipahaminya sebagai salah satu kerangka pembangunan; gunung kudu awian, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan

“Apa artinya? Bogor harus membebaskan diri dari berbagai eksploitasi sumber daya alam, penambangan ilegal, yang menimbulkan kerusakan lingkungan,” katanya.

Jati diri Bogor, menurutnya, antara lain adalah pertanian. Oleh karenanya, Bogor dianggap mesti meruwat kesuburan tanah, hingga kemudian menghasilkan ragam komoditi yang tumbuh secara khas.

“Seperti taleus Bogor, duren Bogor, manggu Bogor, rambutan Bogor, beas Bogor,” sebut Dedi.

Bogor dianugerahi alam yang indah seperti tugurnya Gunung Salak atau Gunung Salaka. Secara historis, kata Dedi, Bogor teruji sejarah sebagai daerah yang layak ditinggali, karena tak hanya asri tapi mestinya menunjang kesejahteraan.

“Itu bisa dibuktikan dengan dulu pada saat bangsa kita belum merdeka, istana dipilih di Bogor yaitu Istana Bogor. Kemudian ada istana yang memiliki nilai sejarah namanya Istana Batu Tulis," katanya.

Bertepatan Hari Jadi Bogor, sambil mengenang Kerajaan Pajajaran, Dedi Mulyadi mengajak masyarakat Jawa Barat untuk mencintai tanah air seperti mencintai ibunda sendiri.

“Mencintai bogor sebagaimana kita mencintai ibu kita”. “Saya yakin Bogor akan tumbuh menjadi kabupaten, menjadi kota, yang menjadi dambaan bagi kita semua. Mari, sama-sama mengembalikan Bogor pada jati dirinya, Jati Diri Ki Sunda,” tandas Dedi.