Tsunami Ternate 1674: Kombinasi Mematikan yang Menggulung Istana Raja

Ternate pernah dilanda gempa yang menimbulkan kombinasi bencana turunan berupa tsunami dahsyat dengan daya rusak masif.

Diterbitkan 13 Agustus 2026, 13:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pulau Ternate, Maluku, pernah mengalami bencana tsunami dahsyat yang meluluhlantahkan apa saja yang ada. Peristiwa mengerinkan itu terjadi pada 12 Agustus 1674, dan menjadi salag satu catatan kelam dalam katalog bencana seismik dan tsunami yang pernah terjadi di Indonesia. 

Guncangan gempa bumi dahsyat yang melanda kawasan tersebut tidak hanya menggetarkan daratan dengan intensitas guncangan yang sangat kuat, tetapi juga memicu ketakstabilan lereng di area pegunungan vulkanik Ternate.

Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Kamis (13/8/2026) mengatakan, kombinasi antara pelepasan energi tektonik yang besar dan topografi wilayah yang curam, berujung pada terjadinya runtuhan batu serta longsoran material masif yang meluncur deras dari kawasan perbukitan menuju pemukiman di bawahnya.

"Dampak dari runtuhan material tersebut sangat merusak dan menghancurkan infrastruktur penting pada masa itu," katanya.

Istana atau Rumah Raja Ternate yang berlokasi strategis di area kaki gunung bahkan tidak luput dari gempuran material longsoran.

"Kerusakan parah yang dialami oleh pusat pemerintahan lokal tersebut menjadi gambaran betapa masifnya volume material yang terhempas akibat guncangan gempa," katanya.

Tak berhenti di situ, rangkaian bencana ini mencapai puncaknya beberapa saat kemudian ketika gelombang tsunami besar menerjang kawasan pesisir dan pelabuhan Ternate.

Terjangan air laut yang datang secara mendadak menghempaskan dan menenggelamkan kapal-kapal yang sedang berlabuh, meluluhlantakkan garis pantai, serta melumpuhkan total aktivitas kebaharian di pulau tersebut.

 

Pelajara Berharga

Bencana historis Ternate tahun 1674 itu memberikan pelajaran berharga mengenai bahaya multi-hazard atau ancaman bencana ganda di wilayah kepulauan gunung api.

Kombinasi guncangan gempa, longsoran lereng (landslide), dan tsunami, baik yang dipicu oleh mekanisme deformasi dasar laut maupun oleh landslide-triggered tsunami, merupakan manifestasi kerentanan tinggi kawasan Maluku Utara terhadap dinamika tektonik dan vulkanik yang sangat aktif.

Guna mengantisipasi berulangnya tragedi serupa di masa depan, langkah-langkah mitigasi yang komprehensif dan berbasis sains mutlak harus diterapkan:

  • Penguatan sistem peringatan dini tsunami berbasis multi-fenomena perlu terus dikembangkan, khususnya untuk mengantisipasi tsunami lokal yang dipicu oleh longsoran lereng atau runtuhan tubuh gunung api di laut yang memiliki durasi lead time sangat singkat.
  • Penataan ruang di kawasan pesisir dan lereng gunung api harus dilakukan secara ketat dengan menetapkan zona sempadan pantai serta melarang pemukiman padat di area rawan longsoran.
  • Selain itu, edukasi dan simulasi evakuasi mandiri berbasis prinsip "gempa kuat atau berdurasi lama sebagai sinyal alami evakuasi" wajib ditanamkan secara berkelanjutan kepada masyarakat pesisir, sehingga warga dapat segera bergerak menuju tempat yang lebih tinggi tanpa harus menunggu peringatan resmi saat gempa besar terjadi.