Kisah Desa Saleman yang Berubah karena Pantai Ora Maluku

Kehidupan warga bergantung pada tangkapan ikan dan pengolahan sagu, dengan akses terbatas ke pasar luar Pulau Seram.

Diterbitkan 25 Mei 2025, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Maluku - Popularitas Pantai Ora sebagai destinasi wisata telah mengubah wajah ekonomi Desa Saleman, Maluku Tengah. Masyarakat yang semula bergantung pada hasil laut tradisional kini beralih menjadi pengusaha homestay, pemandu wisata, dan penyedia jasa kuliner.

Mengutip dari berbagai sumber, Desa Saleman terletak di Kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah. Dulunya desa ini dikenal sebagai pemukiman nelayan tradisional.

Kehidupan warga bergantung pada tangkapan ikan dan pengolahan sagu, dengan akses terbatas ke pasar luar Pulau Seram. Akan tetapi, sejak Pantai Ora yang berjarak 15 menit perahu dari desa ini viral sebagai maldives-nya Indonesia pada awal 2010-an, geliat ekonomi masyarakat mulai berubah.

Pantai Ora, dengan pasir putih dan air laut biru jernihnya, menarik ribuan wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahun. Data dari Dinas Pariwisata Maluku Tengah mencatat kunjungan meningkat dari 500 wisatawan pada 2013 menjadi lebih dari 5.000 pada 2024.

Lonjakan ini mendorong warga Desa Saleman untuk mengembangkan usaha berbasis pariwisata. Salah satu transformasi paling signifikan adalah munculnya homestay dan pondok wisata yang dikelola masyarakat.

Jika sebelumnya hanya ada Ora Beach Resort milik investor, kini terdapat 15 homestay tradisional di Saleman dengan tarif Rp200.000–Rp400.000 per malam. Homestay ini memanfaatkan rumah panggung khas Maluku yang dimodifikasi dengan fasilitas dasar untuk wisatawan.

 

Pemandu Wisata Lokal

Masyarakat juga beralih profesi menjadi pemandu wisata lokal. Mereka menawarkan paket snorkeling ke terumbu karang Pantai Ora, eksplorasi Goa Sawai, atau kunjungan ke Air Belanda dengan tarif Rp150.000–Rp300.000 per orang.

Nelayan yang dulu hanya menjual ikan kini menyewakan perahu untuk transportasi wisatawan dengan pendapatan Rp500.000–Rp1.000.000 per hari. Sektor kuliner juga turut berkembang.

Warung-warung tradisional bermunculan di sepanjang jalur menuju Pantai Ora. Warung-warung ini menjual hidangan lokal seperti sagu papeda dengan ikan kuah kuning atau gogos ikan (ikan asap bungkus ketan).

Pemerintah setempat mendukung transformasi ini melalui pelatihan pengelolaan homestay dan pembangunan infrastruktur dasar. Jalan trans-Seram yang menghubungkan Amahai ke Saleman diperbaiki, dan dermaga perahu wisata dibangun untuk memudahkan akses.

Penulis: Ade Yofi Faidzun