Liputan6.com, Jakarta - Banyak yang bertanya, apa itu blok masela yang akan groundbreaking? Blok Masela adalah lapangan gas raksasa di Laut Arafura, Maluku, dikelola Inpex bersama Pertamina dan Petronas. Proyek strategis ini memasuki babak baru usai tertunda tiga dekade.
Peletakan batu pertama dijadwalkan Kamis, 16 Juli 2026, diresmikanS langsung Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Momen ini menandai konstruksi proyek gas senilai sekitar Rp300 triliun, dinanti sejak era Presiden BJ Habibie.
Groundbreaking Blok Masela diharapkan memacu ketahanan energi nasional, membuka lapangan kerja, dan mempercepat infrastruktur di timur Indonesia. Produksi gas dan kondensat perdana ditargetkan 2029, menjadikan Masela tulang punggung migas nasional. Simak ulasan lengkapnya yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (16/7/2026).
Advertisement
Lapangan Gas Laut Dalam Terbesar di Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298278/original/012556200_1784164918-pic-project.webp)
Blok Masela berpusat pada Lapangan Abadi, sebuah lapangan gas laut dalam yang terletak sekitar 150–160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, di Laut Arafura, Provinsi Maluku, dengan kedalaman laut mencapai 400–800 meter. Lapangan ini disebut-sebut sebagai salah satu lapangan gas laut dalam dengan cadangan terbesar di Indonesia.
Estimasi cadangan gasnya berkisar antara 3 hingga hampir 7 triliun kaki kubik (TCF), tergantung sumber dan skema perhitungan terbaru, ditambah cadangan kondensat yang signifikan. Potensi sebesar ini menjadikan Blok Masela salah satu andalan utama untuk memperkuat pasokan energi nasional dalam beberapa dekade mendatang, terutama di tengah kebutuhan gas domestik yang terus meningkat untuk industri, listrik, dan rumah tangga.
Advertisement
Perjalanan Panjang Sejak Era Presiden Habibie
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5134789/original/077448100_1739679831-9BFC3E3C-3385-4BB3-8C89-1EB8674C0465_thumb.jpeg)
Kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC) Blok Masela pertama kali ditandatangani pada 16 November 1998, tepat di era Presiden BJ Habibie, dan telah diperpanjang hingga tahun 2055. Cadangan gas raksasa di Lapangan Abadi baru ditemukan pada tahun 2000, dua tahun setelah kontrak diteken.
Sejak saat itu, proyek ini mengalami berbagai perubahan skema pengembangan, mulai dari rencana kilang LNG terapung di lepas pantai yang kemudian diubah menjadi kilang di darat (onshore), hingga proses negosiasi ulang yang memakan waktu bertahun-tahun.
Alhasil, hampir 26–30 tahun berlalu sejak kontrak ditandatangani, proyek ini belum juga memasuki tahap produksi komersial, menjadikannya salah satu proyek migas dengan masa tunggu terlama dalam sejarah industri hulu migas Indonesia.
Nilai Investasi Fantastis, Capai Rp 300 Triliun Lebih
Blok Masela bukan proyek kaleng-kaleng. Nilai investasinya diperkirakan mencapai kisaran 20–22 miliar dolar Amerika Serikat, atau setara sekitar Rp300–355 triliun tergantung asumsi kurs yang digunakan. Angka ini menjadikan Blok Masela sebagai salah satu investasi hulu migas terbesar yang pernah digelontorkan di Indonesia.
Dana sebesar itu akan dialokasikan untuk pembangunan fasilitas produksi, kilang LNG di darat, infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, jalan, jaringan listrik, hingga fasilitas telekomunikasi di kawasan Maluku Barat Daya dan Kepulauan Tanimbar.
Besarnya nilai investasi ini juga diharapkan memberi efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian daerah, membuka lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan sektor pendukung seperti konstruksi, logistik, dan jasa di kawasan timur Indonesia yang selama ini relatif tertinggal dari sisi pembangunan infrastruktur.
Advertisement
Tiga Pemegang Hak Partisipasi: Inpex, Pertamina, dan Petronas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4615227/original/097346400_1697618135-WhatsApp_Image_2023-10-18_at_3.00.39_PM.jpeg)
Saat ini, operator utama sekaligus pemegang hak partisipasi (participating interest) terbesar di Blok Masela adalah Inpex Masela Ltd dengan porsi 65 persen. Sebelumnya, mitra Inpex adalah Shell Upstream Overseas Services yang menguasai 35 persen saham. Namun, Shell akhirnya memutuskan hengkang dari proyek ini.
Sejak Juli 2023, 35 persen saham milik Shell tersebut dialihkan kepada dua perusahaan, yaitu PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) yang mengambil porsi 20 persen, dan Petronas Masela Sdn. Bhd yang mengambil 15 persen.
Perjanjian jual beli hak partisipasi ini ditandatangani pada 25 Juli 2023, dan mendapat persetujuan resmi dari Menteri ESDM pada 4 Oktober 2023. Masuknya Pertamina dan Petronas sebagai mitra baru dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam pengelolaan sumber daya migas strategis di dalam negeri.
Dilengkapi Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS)
Salah satu aspek menarik dari Blok Masela adalah komitmennya terhadap energi bersih melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), yakni teknologi yang menangkap dan menyimpan emisi karbon dari proses produksi gas agar tidak lepas ke atmosfer.
Penerapan CCS di Blok Masela disetujui pemerintah Indonesia pada 28 November 2023 melalui Revisi 2 Plan of Development (PoD-I). Langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon secara nasional.
Setelah persetujuan tersebut, proyek berlanjut ke tahap tender Front End Engineering Design (FEED), hingga akhirnya Inpex resmi meluncurkan FEED Onshore LNG (OLNG) pada 9 April 2025. Kehadiran teknologi CCS ini menjadikan Blok Masela bukan sekadar proyek gas konvensional, melainkan proyek migas yang dirancang untuk lebih ramah lingkungan dibanding proyek-proyek sejenis di masa lalu.
Advertisement
Target Produksi Gas dan Kondensat yang Ambisius
Berdasarkan proyeksi pemerintah dan operator, Blok Masela berpotensi menghasilkan sekitar 9,5 juta metrik ton per tahun (MMTPA) LNG serta 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) gas pipa untuk kebutuhan domestik. Selain itu, lapangan ini juga diperkirakan mampu menghasilkan produksi kondensat dalam jumlah besar setiap harinya.
Dengan kapasitas produksi sebesar ini, Blok Masela diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung pasokan gas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen LNG utama di kawasan Asia Pasifik. Gas yang dihasilkan nantinya akan mendukung kebutuhan energi domestik, mulai dari sektor kelistrikan, industri, hingga rumah tangga, sekaligus berpotensi diekspor untuk menambah devisa negara.
Groundbreaking 16 Juli 2026, Konstruksi Dimulai 2027
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298568/original/051377900_1784174617-pic-project-02.webp)
Setelah menunggu puluhan tahun, momentum besar akhirnya tiba. Peletakan batu pertama atau groundbreaking Blok Masela dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 16 Juli 2026, di Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, dan direncanakan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Persiapan acara dilakukan secara matang, mulai dari pengiriman logistik sekitar 93 ton berupa tenda, karpet, genset, hingga fasilitas pendukung lain, hingga koordinasi keamanan bersama Pangdam XV Pattimura, Kapolda Maluku, dan pemerintah daerah setempat.
Setelah groundbreaking, tahap konstruksi fisik proyek ditargetkan dimulai pada tahun 2027, sementara produksi perdana atau on-stream diperkirakan baru berlangsung pada 2029 hingga 2030. Rentang waktu ini menunjukkan bahwa meski groundbreaking menjadi tonggak penting, perjalanan Blok Masela menuju produksi komersial masih membutuhkan beberapa tahun ke depan.
Advertisement
Dampak Besar bagi Maluku dan Indonesia Timur
Di luar aspek produksi gas, groundbreaking Blok Masela juga membawa harapan besar bagi pembangunan kawasan timur Indonesia yang selama ini kerap tertinggal dari sisi infrastruktur. Proyek berskala raksasa ini diproyeksikan memicu pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, pelabuhan, jaringan listrik, hingga telekomunikasi di Maluku Barat Daya dan Kepulauan Tanimbar.
Selain itu, proyek ini berpotensi membuka ribuan lapangan kerja baru, baik selama masa konstruksi maupun operasional, serta mendorong pertumbuhan sektor jasa dan logistik di kawasan sekitar. Para pejabat menyebut groundbreaking ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum strategis yang diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia, khususnya di sektor hulu migas yang selama ini dianggap berisiko tinggi namun bernilai strategis jangka panjang.
Pertanyaan Seputar Blok Masela
Apa itu Blok Masela yang akan groundbreaking?
Blok Masela adalah wilayah kerja gas bumi lepas pantai di Laut Arafura, Maluku, yang berpusat pada Lapangan Abadi. Proyek ini dikelola oleh Inpex Masela Ltd bersama PT Pertamina Hulu Energi dan Petronas, dan dikategorikan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) karena potensi cadangan gasnya yang sangat besar.
Kapan groundbreaking Blok Masela dilaksanakan dan siapa yang meresmikan?
Groundbreaking dijadwalkan pada Kamis, 16 Juli 2026, di Kepulauan Tanimbar, Maluku, dan rencananya diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, meski kehadiran fisik Presiden masih dikonfirmasi lebih lanjut oleh Istana.
Berapa nilai investasi dan kapan Blok Masela mulai berproduksi?
Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai 20–22 miliar dolar AS, atau sekitar Rp300–355 triliun. Konstruksi fisik ditargetkan dimulai pada 2027, sementara produksi gas dan kondensat perdana diproyeksikan mulai berlangsung pada 2029 hingga 2030.
Mengapa proyek Blok Masela butuh waktu puluhan tahun untuk direalisasikan?
Sejak kontrak ditandatangani pada 1998, proyek ini mengalami berbagai perubahan skema pengembangan, termasuk perubahan desain kilang LNG dari lepas pantai menjadi di darat, serta keluarnya Shell sebagai salah satu mitra pada 2023, sehingga proses negosiasi dan persiapan teknis memakan waktu jauh lebih lama dari perkiraan awal.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298463/original/022893100_1784171596-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-16T101149.857.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572710/original/034284200_1777866003-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-05-04T103851.830.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5393789/original/018389200_1761613015-proyek_gas_abadi_Blok_Masela..jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298224/original/042744300_1784155877-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298444/original/012761000_1784171006-Argentina_s_Leandro_Paredes__5__falls_as_he_battles_for_the_ball_with_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298306/original/004606900_1784166640-tuchel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298289/original/003845200_1784165599-063_2286277553.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298237/original/082194800_1784160981-England_head_coach_Thomas_Tuchel_talks_to_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298232/original/069179300_1784159975-England_s_Jude_Bellingham__10_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298228/original/014527500_1784157563-Argentina_s_Enzo_Fernandez__24__celebrates_england.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298219/original/046786200_1784155102-Argentina_s_Lautaro_Martinez.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4893080/original/092267000_1721123116-finalissima.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298207/original/014755300_1784152342-000_C2B98B9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298278/original/012556200_1784164918-pic-project.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292854/original/036782700_1783662401-IMG-20260710-WA0002.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294688/original/098312700_1783851042-Screenshot_2026-07-12_170822.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5393789/original/018389200_1761613015-proyek_gas_abadi_Blok_Masela..jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1013383/original/084754700_1444226774-20151007-Rizal-Ramli-bahas-blok-Masela-Jakarta-09.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6465876/original/074756200_1779328149-soal-blok-masela-skk-migas-tunggu-kajian-konsultan-independen.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5527671/original/098635500_1773210868-WhatsApp_Image_2026-03-11_at_12.21.49__1_.jpeg)