Sukses

Berkumpul Menikmati Pipa Cangklong Sembari Edukasi Soal Tembakau

Liputan6.com, Bandung - Tradisi mencangklong atau menggunakan pipa tembakau sudah berlangsung cukup lama. Penggunaan alat hisap tembakau ini sudah eksis sejak 1800-an dan dipopulerkan oleh oleh dua tokoh fiksi, Sherlock Holmes dan Popeye The Sailor Man.

Di Bandung, Jawa Barat, para penikmat tembakau menggunakan cangklong masih eksis. Mereka yang tergabung dalam Pipe Parade Nusantara berkumpul menikmati tembakau dengan menggunakan alat yang dikenal dengan istilah padud, dalam perayaan hari ulang tahunnya yang keenam di Duendee Kooffee & Galeria De Motos, Jalan Surapati No 43, Kota Bandung, pada Jumat (27/11//2021) malam.

Kegiatan hari jadi Pipe Parade Nusantara merupakan ajang sosialisasi. Komunitas ini juga menjadi tempat bertukar informasi terkait pipa dan tembakau.  

Sekretaris Jenderal Pipe Parade Nusantara Noke Agustianto mengatakan, kegiatan Pipe Parade keenam dilaksanakan untuk memeringati hari jadi komunitasnya. Di mana, pada usia sekarang ini Pipe Parade menjadi komunitas yang semakin kuat, di mana terdapat 450 anggota yang terdaftar.

"Dengan semakin banyaknya anggota kita hingga bisa bertahan enam tahun, itu artinya luar biasa. Harapannya kalau bisa sampai 100 tahun," katanya.

Noke mengungkapkan, Pipe Parade awalnya lahir dari para pehobi cangklong. Dari perkumpulan beberapa orang saja yang memiliki hobi sama, dalam perjalanannya komunitas ini berkembang tidak hanya sekadar bertemu menikmati tembakau menggunakan pipa.

"Tapi lebih jauh lagi soal bagaimana tembakau ini diproduksi, bagaimana kita bisa bermitra dengan petani tembakaunya. Dan kita juga bisa menjadi bagian bagaimana meningkatkan hasil atau nilai jual tembakau dari petani langsung," ujarnya.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 4 halaman

Pendampingan ke Petani Tembakau

Melalui anggotanya yang tersebar di luar Bandung, seperti di Sumatera, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Papua, komunitas Pipe Parade turut melakukan pendampingan kepada para petani tembakau.

Hal itu dilakukan agar pengetahuan para petani dalam memproduksi tembakau terus meningkat sehingga nilai jualnya lebih tinggi lagi.

"Kita coba mengedukasi, bermitra langsung dengan petaninya bahwa tembakau yang diproduksi oleh petani lokal kita ini sebetulnya nilai jual bisa ditambah lagi. Pada satu sisi kita berbisnis dengan mereka, tapi sisi lain setelah mengetahui nilai ekonomis dari tembakau lokal yang dihasilkan mereka bisa berbisnis secara mandiri ke depannya," tutur Noke.

Melalui acara berkumpul yang dilakukan komunitas, para petani tembakau turut dilibatkan. Para anggota komunitas menjadi konsumen.

"Kawan-kawan di sini sudah terbiasa menikmati tembakau yang dibeli dari petaninya," ucap Noke.

3 dari 4 halaman

Mengangkat Kesejahteraan Petani

Noke menegaskan, kerja sama dengan petani bukan dimaksudkan untuk memonopoli bisnis tembakau mereka. Namun visinya adalah bagaimana petani tembakau ini menjadi lebih berwawasan soal menanam hingga merawat tembakau.

"Karena dari beberapa tobaconist yang bergabung dengan Pipe Parade ini sudah membuktikan kalau produknya sudah diimpor ke Rusia, Iran, dll. Itu juga mungkin menjadi menarik minat pipe smoker di delapan negara di luar yang menyatakan diri bergabung," ungkapnya.

Komunitas Pipe Parade juga sudah bermitra dengan pemerintah daerah. Dengan begitu, pihaknya bisa mempertemukan regulator dengan petani sehingga diharapkan dari sisi pengelolaan dan pemasaran tembakau menjadi lebih baik.

"Yang terjadi adalah pemerintah sudah mulai menawarkan diri untuk memberikan dukungan setelah kita mengedukasi petani tembakau untuk lebih pintar terutama bisa meningkatkan nilai jual tembakau. Kalau sudah bertemu seperti itu tinggal ke arah pemberdayaan," ujarnya.

4 dari 4 halaman

Kesekretariatan dan Tempat Berkumpul

Duendee Kooffee & Galeria De Motos jadi kesekretariatan komunitas Pipe Parade Nusantara. Kafe yang menjadi tempat nongkrong ini mengusung galeri motor klasik di dalamnya.

Didirikan pada Agustus 2021, Duendee juga menyediakan perpustakaan tentang motor, bengkel custom dan restorasi. Tak hanya itu, di tempat ini juga disediakan penjualan motor.

"Semua pecinta moge bisa nongkrong di sini. Tapi enggak spesifik anak anak moge. Kebanyakan malah anak mahasiswa karena masih kuliah online, mereka perkuliahan sambil nongkrong karena ada WiFi gratis," kata Indra 'Blues Mann' Pranajaya selaku pemilik Duendee Kooffee & Galeria De Motos.

Indra yang hobi motor dan pipa tembakau berharap kafenya menjadi area publik untuk membicarakan bisnis, pengetahuan dan sekaligus tempat nongkrong.

"Kita buka dari jam 7 pagi, ada menu sarapan, dan untuk menu utamanya dari jam 10. Tutupnya jam 10 malam dan malam Minggu sampai jam 11 malam. Kalau mau ke bengkel visa langsung datang kapan saja," ungkapnya.