Sukses

PPDB Sistem Zonasi di Sumbar Tersendat, Penentuan Nasib Siswa bak Main Karambol

Liputan6.com, Padang - Penetapan sistem zonasi jarak terdekat antara rumah dan sekolah dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMA di Sumatera Barat, menyisakan banyak pro kontra.

Kali ini, pada Senin (6/7/2020) puluhan orangtua siswa mendatangi Dinas Pendidikan Sumbar, mereka memprotes sistem zonasi yang mengakibatkan kebingungan saat anaknya mendaftar.

Pantauan Liputan6.com di lapangan para orangtua tersebut mempertanyakan sistem yang tidak jelas, seperti anaknya sudah mendaftar di sekolah terdekat, tetapi tidak lolos.

Di website PPDB yang sudah disediakan Disdik Sumbar, siswa bisa melihat data kelolosan sementara, tetapi itu belum data pasti karena akan diverifikasi lagi.

"Anak saya sudah mendaftar di sekolah terdekat dari rumah, namun didata real time tidak lolos untuk sementara, mau mendaftar ke mana lagi," kata salah seorang orangtua siswa, Yesni (48) kepada Liputan6.com.

Anaknya, lanjut Yesni sampai tidak bisa tidur memikirkan sekolahnya, padahal Senin, 6 Juli 2020 merupakan hari terakhir pendaftaran untuk tahap pertama.

Kemudian masalah lainnya yang diadukan orangtua adalah tidak adanya koordinasi antara pihak sekolah dan Disdik Sumbar, orangtua yang berdomisili di Padang mendatangi sekolah mempertanyakan beberapa keluhan, tetapi disuruh ke dinas.

Kemudian ketika mereka datang ke disdik, malah disuruh bertanya ke sekolah yang bersangkutan karena di sekolah sudah disediakan operator yang lebih mengetahui persoalan jarak rumah dan sekolah.

"Kami bingung, nanti ujung-ujungnya masuk ke swasta, biayanya sangat besar," katanya.

Orangtua siswa lainnya, Una (46) warga Kota Padang mengeluhkan hal yang sama. Anaknya mendaftar ke SMA 10 Padang, tetapi dari data real time anaknya tidak lolos di sekolah tersebut.

"Di website PPDB dikatakan tidak lolos di sekolah mana pun, kasian anak saya memikirkan ini siang dan malam, saya juga menjadi beban pikiran soal ini," jelasnya.

Padahal, dia melanjutkan, rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari SMA 10 Padang. Jika memang sistem zonasi, seharusnya anaknya tidak tergeser oleh calon siswa lain yang jarak rumahnya lebih jauh.

2 dari 3 halaman

Jawaban Disdik Sumbar

Kedatangan puluhan orangtua siswa tersebut diterima oleh Ketua Panitia PPDB jenjang SMA Sumbar, Suryanto. Ia menyebut permasalahan itu terjadi karena data yang dimasukkan ada yang salah.

"Misalnya saat menuliskan jarak tidak mengetikkan koma atau titik sehingga sistem juga salah membaca," ujarnya.

Ia mencontohkan ada yang seharusnya mengetik 364 meter, tetapi karena pakai koma dan salah lalu menjadi 364 kilometer di sistem.

Selain kesalahan dalam memasukkan data angka, jelasnya, juga ada yang salah mengisi nama daerah. Apalagi di Sumbar ada sejumlah nama daerah yang mirip-mirip tetapi jaraknya sangat jauh.

Oleh sebab itu, jika ada orangtua yang tidak paham, maka bisa ke sekolah yang bersangkutan. Di setiap sekolah sudah ada tim verifikator yang siap untuk memperbaiki.

"Tidak dipungkiri kalau memakai teknologi ada yang salah pengertian karena belum terbiasa, ini terus kami evaluasi," ujarnya.

Hari ini merupakan hari terakhir pendaftaran sistem zonasi tahap I, bagi yang tidak lulus maka harus menerima dengan lapang dada.

Sebab sistem zonasi merupakan aturan baru yang harus dilaksanakan untuk meratakan kualitas pendidikan dan menghilangkan sekolah unggul.

"Sistem zonasi ini aturan dari pusat, suka tidak suka mesti kami jalankan," Suryanto menambahkan.

3 dari 3 halaman

Saksikan juga video pilihan berikut ini: