Sukses

Pesan Tersembunyi dari Konser Gamelan 4.0 di UGM

Liputan6.com, Yogyakarta- Pergelaran kolosal gamelan berkolaborasi dengan musik kekinian, Rhapsody Of The Archipelago: Gamelan 4.0 (ROAR GAMA 4.0) di Lapangan Pancasila Grha Sabha Pramana (GSP) UGM pada Sabtu, 30 November 2019 berlangsung sukses.

Di tengah gerimis, ribuan penonton tetap memadati area konser dan menyaksikan pertunjukan yang belum pernah digelar di tempat lain itu.

Namun, tidak banyak yang tahu, konser Gamelan 4.0 ini bukan sekadar menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Pesan-pesan kayak filosofi kehidupan menyertai pergelaran yang berlangsung sekitar 3,5 jam ini.

Lima band dengan aliran musik berbeda tampil bergantian dalam konser ini, mulai dari Mantra Vutura, Tashoora, Letto, FSTVLST, dan OM New Palapa featuring Brodin. Penampilan setiap band selalu berkolaborasi dengan gamelan.

Sekitar 100 pengrawit terlibat dalam ROAR GAMA 4.0. Mereka bermain dalam tiga set gamelan, yakni satu set gamelan diatonis dan dua set gamelan pentatonis mayor minor.

"Kolaborasi band dengan orkestra biasa di dunia barat, kali ini kami menawarkan orksetrasi timur, yakni gamelan, dalam konser musik ini," ujar Ari Wulu, Program Director ROAR GAMA 4.0.

Ia bercerita band yang tampil juga menjadi bagian dari filosofi yang ingin disampaikan lewat Gamelan 4.0. Setiap band melambangkan fase kehidupan manusia.

Mantra Vutura, merupakan band dari Jakarta yang mengusung musik elektronik berkolaborasi dengan musik nusantara. Keberadaan band ini menyimbolkan anak-anak yang penuh dengan mimpi dan harapan besar tentang masa depan.

Tashoora sebagai simbol masa remaja yang penuh kecemasan. Terlihat dari lirik-lirik lagunya yang sarat kritik dan berapi-api.

FSTVLST menyimbolkan masa muda yang meledak-ledak dan penuh pemberontakan. Letto sebagai representasi manusia yang lebih dewasa, kalem, dan tenang.

"Kehadiran OM New Palapa di akhir konser Gamelan 4.0 sebagai bentuk perayaan, bahwa kehidupan dalam kondisi apapun harus selalu dirayakan," ucapnya.

2 dari 3 halaman

Gamelan Menciptakan Zamannya

Kolaborasi gamelan dengan musik kekinian juga tidak lantas merusak gamelan yang adiluhung. Menurut Ari Wulu, gamelan ada di setiap zaman.

“Bukan karena gamelan dilestarikan, tetapi karena gamelan sebagai subyek menciptakan zamannya sendiri,” tuturnya.

Ia mencontohkan, gamelan pernah dianggap sakral karena tidak pernah dipertontonkan di depan umum dan hanya dimaninkan di dalam keraton. Zaman berubah, gamelan mulai menjadi hiburan rakyat.

Kini, saatnya gamelan menciptakan zaman yang berbeda. Artinya, gamelan bisa dilihat seperti alat musik gitar listrik yang boleh dimainkan siapa saja.

“Sudut pandang melihat gamelan yang harus diubah, masyarakat harus mulai terbiasa dengan gamelan sebagai bagian dari alat musik yang bisa berkolaborasi dengan alat musik lainnya,” kata Ari Wulu.

3 dari 3 halaman

Yogyakarta Sebagai Pilot Project

ROAR GAMA 4.0 diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM untuk memperingati memperingati Dies Fisipol UGM ke-64 sekaligus Lustrum ke-14 UGM.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno juga hadir dalam perhelatan ini mewakili Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA).

"Acara ini dimulai dari Yogyakarta, nanti menular ke daerah lain sesuai dengan alat musik khasnya masing-masing, misal di Jawa Barat bisa berkolaborasi dengan angklung," ujar Pratikno.

Menurut Pratikno, setiap daerah bisa menyambut perhelatan ini dengan acara serupa sehingga setiap daerah bisa menjadi pemimpin seni di Indonesia.

Dekan Fisipol UGM Erwan Agus Purwanto menilai ROAR GAMA sebagai pernyataan politik kebudayaan nusantara.

"Potensi kreatif berbasis lokal ternyata bisa memberikan sumbangan berharga bagi peradaban musik dan kreatif global," ucapnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Menteri-Menteri Jokowi Bakal Jalan Kaki dari Keraton Yogyakarta sampai UGM, Ada Apa?
Artikel Selanjutnya
Mengenal 3 Ojo, Jurus Antikorupsi BPJAMSOSTEK Cabang Yogyakarta