Sukses

Jadi Penyabet Emas WINTEX 2019, Ini Keistimewaan Komposit Beton dari Sampah Plastik

Liputan6.com, Yogyakarta - Jangan pernah mengabaikan sampah plastik, seperti botol plastik kemasan air mineral. Di tangan yang tepat, benda-benda yang dianggap tidak bernilai guna itu justru mengharumkan nama bangsa. Sekelompok mahasiswa dari UGM membuktikannya melalui penemuan sampah plastik yang diubah menjadi komposit beton.

Putra Makmur Boangmanalu (Kimia-FMIPA), Stephanus Satria Wira Waskitha (Kimia-FMIPA), Vidiskiu Fortino Kurniawan (Ilmu Komputer-FMIPA), Nicolaus Elka Yudhatama (Teknik Kimia-FT), dan Reza Yustika Bayuardi (Teknik Kimia-FT) berhasil menyabet medali emas atas inovasinya itu dalam ajang internasional 2nd World Innovation Technology Expo (WINTEX)  2019 yang diselenggarakan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA) di Jakarta pada 9 sampai 12 Oktober 2019.

Mereka menemukan formula sederhana untuk membuat komposit beton yang bisa dipergunakan sebagai pengganti bata, batako, atau paving block. Proses pengerjaannya juga terbilang gampang, bahkan bisa dilakukan oleh orang paling awam sekalipun.

"Komposit beton ini terbuat dari sampah plastik yang dicampur dengan pasir dengan komposisi satu berbanding satu, jadi kalau plastik 100 gram dicampur dengan 100 gram pasir," ujar Putra, ketua tim peneliti, dalam jumpa pers di UGM, Selasa (29/10/2019).

Ia menuturkan bijih botol plastik yang digunakan adalah plastik jenis polietilen tereftalat (PET). Selanjutnya limbah plastik dicacah dan dipanaskan dengan kisaran suhu 410 sampai 580 derajat Celcius selama 30 menit.

Tungku pemanas juga bisa dibuat dari peralatan paling sederhana, seperti tong. Jadi, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil pun bisa membuat komposit beton dari sampah plastik sendiri.

Langkah berikutnya, lelehan sampah plastik dicampur dengan pasir elod lalu dicetak dengan ukuran 5 x5x5 sentimeter dan dikeringkan selama tujuh hari.

 

2 dari 2 halaman

Keunggulannya

Vidiskiu menuturkan sejumlah keunggulan komposit beton dari sampah plastik ini. Pertama, memiliki daya tekan lebih tinggi ketimbang produk sejenis di pasaran. Produk komposit beton dari lelehan plastik ini mempunyai kuat tekan 15,52 MPa, sedangkan produk yang ada di pasaran sebesar 15 MPa.

Waktu pengeringan komposit beton dari sampah plastik ini juga lebih cepat jika dibandingkan produk serupa, yakni hanya tujuh hari. Produk yang dijual di pasaran membutuhkan waktu pengeringan 28 hari.

"Daya tekan bisa ditambah dengan ditekan secara manual menggunakan lempengan sehingga ketahanan bisa mencapai 19,22 MPa,” ujarnya.

"Yang  masih menjadi pekerjaan rumah bagi kami adalah bagaimana bisa membuat komposit beton dengan harga yang kompetitif dengan batako biasa," imbuh Vidiskiu.

Ia tidak menampik masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dari inovasi ini, yakni masalah ongkos produksi dan harga jual. Batako biasa dijual seharga Rp 2.500 per buah di pasaran, sementara komposit beton yang dikembangkan ini berkisar di harga Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per buah.

"Ini tantangan kami," ucapnya.

Simak video pilihan berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kala Istri-Istri Driver Gojek Belajar Memasak
Artikel Selanjutnya
The House of Raminten Kotabaru Yogyakarta Kebakaran, Ini Kronologinya