Sukses

Api Berkobar di Pasar Legi, Pasar Peninggalan Mangkunegaran

Liputan6.com, Solo - Kebakaran melanda Pasar Legi yang merupakan pasar induk terbesar di Solo. Kobaran api itu meluluhlantakkan bangunan pasar yang telah berdiri sejak zaman Praja Mangkunegaran Solo.

Si jago merah yang melalap bangunan pasar itu mulai muncul sejak Senin sore sekitar pukul 16.30 WIB. Kobaran api itu mulai menjalar dari salah satu kios di pasar yang menjadi pusat perdagangan pangan dan sayuran di wilayah Solo Raya itu.

Puluhan mobil pemadam kebakaran dari Solo dan daerah sekitarnya saling bahu-membahu memadamkan kobaran api. Mobil pemadam terlihat keluar masuk kawasan pasar berjibaku memadamkan api.

Sedangkan, sejumlah pedagang juga tampak berusaha menyelamatkan barang dagangannya dari amukan si jago merah. Bahkan, mereka dibantu oleh sejumlah relawan untuk mengevakuasi barang dagangan yang masih bisa diselamatkan.

Kepala Dinas Perdagangan Solo, Subagiyo mengungkapkan awal mula api muncul dari kios yang terdapat di sisi utara barat atau pojok yang terletak lantai atas. Saat itu, dalam sekejap api langsung kian membesar dan menjalar keluar.

"Ada gejala kebakaran itu, satpam pasar sudah berusaha memadamkan dengan APAR (alat pemadam api ringan), tapi tidak mampu padam. Padahal, jumlah apar yang digunakan untuk memadamkan sebanyak 36 apar," kata dia ketika ditemui di Pasar Legi, Senin malam, 29 Oktober 2018.

2 dari 4 halaman

Ratusan Kios dan Los Terbakar

Subagiyo menambahkan, karena api kian membesar dan menyambar bangunan kios dan los lainnya, petugas pemadam kebakaran datang untuk memadamkannya. Namun, proses pemadaman sulit dilakukan karena angin yang berembus pada saat itu cukup kencang.

"Kobaran api langsung menjalar ke timur karena angin datang dari arah barat ke timur. Api terus membesar dan merembet ke kios lainnya," ucapnya.

Dia menyebutkan jumlah pedagang yang terdampak bencana kebakaran itu pada Senin malam mencapai 700 pedagang yang terdiri dari 200 kios dan los di atas serta 500 kios dan los di bagian bawah. Sedangkan, jumlah pedagang di Pasar Legi mencapai 2.666 pedagang yang terdiri dari pedagang kios, los, oprokan hingga yang berjualan di pelataran.

"Pasar ini luasnya mencapai 4 hektare. Selain kios, los, di pasar itu juga ada pedagang oprokan dan pedagang di pelataran. Memang jumlahnya pedagang di Pasar Legi cukup banyak karena ini pasar induk dan pasar terbesar di Solo," sebutnya.

Simak video pilihan berikut ini:

3 dari 4 halaman

9 Jam Melawan Api

Gatot menjelaskan, kobaran api berangsur-angsur mereda pada Selasa dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah itu, petugas langsung melakukan pendinginan dengan menyemprot air di lokasi bekas kebakaran di Pasar Legi.

"Kita lakukan pendinginan supaya api tidak kembali menyala karena di sejumlah titik masih ada tumpukan arang sekitar 1 meter," sebutnya.

Gatot menambahkan sejak malam hari, petugas pemadam kebakaran memang sudah bisa melokalisasi api. Hal ini dilakukan supaya kobaran api tidak merembet ke bangunan gereja di sisi timur dan tidak menjalar ke bangunan kios di sisi utara.

"Karena kalau sudah terlanjur merembet terbakar itu susah mengendalikannya," katanya.

Gatot mengakui jika musibah kebakaran yang melanda pasar induk terbesar di Solo itu memiliki kesulitan yang tinggi. Pasalnya, pasar itu terbuat dari seng sehingga air sulit untuk menembus seng tersebut.

"Kalau kayu kan mudah ditembus tapi kalau seng ini susah sekali tembusnya jika disemprot air," ujarnya.

Selain itu, Gatot mengungkapkan sebagai pusat perdagangan bahan pokok kebutuhan sehari-hari dan sayuran sehingga barang-barang yang ada di pasar itu mudah terbakar. Kondisi asap di pasar yang terbakar itu juga cukup tebal sehingga menyulitkan petugas pemadam untuk menembus bagian dalam pasar.

 "Barang dagangannya itu mudah terbakar. Terus ada banyak minyak goreng di dalam pasar menambah kesulitan tersendiri," ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) Solo, Gatot Sutanto mengungkapkan proses pemadaman api tersebut melibatkan puluhan mobil pemadam kebakaran dari Solo dan daerah sekitarnya. Bahkan, pemadaman itu juga dibantu dengan pengerahan armada mobil pemadam maupun tangki air dari pihak TNI dan polisi.

"Untuk mobil pemadam itu yang membantu dari wilayah Solo Raya mengirimkan masing-masing dua armada. Terus dari Semarang, Salatiga, Ungaran, Lanud Adi Soemarmo dan Brigif ikut mengirimkan mobil pemadang. Sedangkan Brimob mengerahkan water canon untuk pemadaman," kata dia di Pasar Legi, Selasa pagi, 30 Oktober 2018.

 

4 dari 4 halaman

Pasar Peninggalan Mangkunegaran

 

Kepala Dinas Perdagangan Solo, Subagiyo menjelaskan Pasar Legi merupakan pasar peninggalan zaman pemerintahan Praja Mangkunegaran. Pasar yang terletak di sisi utara Istana Pura Mangkunegaran itu dibangun dalam rangka mengembangkan ekonomi di kawasan tersebut.

"Kalau tahunnya dan pada masa Adipati Kanjeng Gusti Adipati Arya Mangkunegara berapa pasar itu dibangun saya kurang tahu. Tapi konon pasar itu sudah ada memang sejak masa Mangkunegaran," jelas dia.

Pasar induk yang terletak di Jalan S Parman itu menurut Subagiyo pernah direnovasi pada tahun 1990-an. Setelah itu, perbaikan lagi hingga menjadi seperti saat ini secara bertahap pada tahun 2005, 2006, dan 2007.

"Yang pernah perbaiki pada tahun-tahun itu yang sisi timur yang di atasnya menjadi tempat berjualan para pedagang ikan asin. Pasar Legi memang sejak dulu menjadi pasar induk terbesar di Solo," ungkapnya.

 

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Mendapat Penolakan, Ini Respons Kasultanan Keraton Pajang di Kartasura
Artikel Selanjutnya
Mengenal Yap Tjwan Bing, Wakil Tionghoa Saat Menyiapkan Kemerdekaan