Sukses

Bukan Takhayul, Ada Sihir Angka 8 dalam Uji Coba Mesin Baru Sido Muncul

Liputan6.com, Semarang - Tepat pada pukul 08.08.8 WIB, Senin, 23 April 2018, Direktur PT Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, menekan tombol beroperasinya mesin baru di pabrik Sido Muncul. Mesin ini merupakan perpaduan teknologi empat negara yang diperkenalkan.

Dalam pengantarnya sebelum menekan tombol itu, Irwan Hidayat menyebutkan bahwa meskipun teknologi yang digunakan berasal dari empat negara berbeda, tetapi produknya tetap produk Indonesia. Pilihan modernisasi peralatan untuk memproduksi "Cairan Obat Dalam" juga dimaksudkan untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.

"Jamu itu brand Indonesia. Sido Muncul juga brand Indonesia. Jadi, hasilnya juga tetap milik Indonesia. Kalau kita ekspor, posisi Indonesia menguat," kata Irwan.

Bagaimana dengan angka delapan? Mengapa bukan pada jam lain?

"Ini bukan persoalan takhayul. Juga bukan persoalan yang irasional. Ini adalah upaya merawat kearifan. Dalam tradisi Jawa atau mungkin Indonesia, angka 8 ini kan tak terputus. Boleh saja diartikan sebagai harapan bahwa rezeki juga tak terputus," kata Irwan.

Angka 8 memang menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Bahkan, untuk menekan tombol pada jam tersebut, Irwan harus menunggu beberapa saat. Kesempatan menunggu inilah yang dimanfaatkannya untuk menjelaskan proses produksi yang serba canggih dan minim sentuhan tangan manusia di pabrik Sido Muncul.

 

2 dari 2 halaman

Penguasa Jamu Dunia

Dengan mesin baru itu, proyeksi produksi akan menghasilkan hingga 200 juta saset per bulan. Proses yang digunakan adalah sistem tertutup, sehingga bisa dijamin keamanan dan kualitas produk yang dihasilkan.

"Dengan proses tertutup, tentu lebih ramah lingkungan, karena sistem pembersihan sudah menerapkan clean in placing dan sterilized in placing. Semua bahan sudah bersih dan steril, masuk mesin dan keluar sudah jadi kemasan," kata Irwan.

Irwan layak berbangga karena dengan meningkatnya produksi jamu cair itu, Sido Muncul lebih leluasa menyerbu pasar dunia. Menurut dia, jamu produknya berbeda dengan pengobatan yang ditawarkan Tiongkok.

"Kita sudan modern, steril, dan menggunakan CPOB. Nah, yang dari Cina kan bahkan masih banyak yang bersifat home industry," kata Irwan.

Irwan menambahkan, pasar luar negeri terus berkembang. Saat ini, PT Sido Muncul Tbk malah sudah membuka semacam cabang yang menangani pemasaran di Filipina.

"Produksinya biar di Indonesia saja, jadi devisa tetap milik Indonesia," kata Irwan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Upaya agar Industri Kopi Rumahan Bisa Beredar
Artikel Selanjutnya
Alasan Warga Menolak Pembangunan Gereja di Tlogosari Kulon