Sukses

Bahagia Itu Sederhana, Om Kolecer Om

Liputan6.com, Purwakarta - Suara berderit baling-baling tertiup angin memecah kesunyian kawasan Danau Quarry Jayamix di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ternyata, demam baling-baling alias kolecer sedang populer di kawasan sekitar danau di Kampung Nunggaherang, Desa Tegallega, Kecamatan Cigudeg itu.

Alhasil, keindahan danau bekas galian tambang pasir itu pun diwarnai dengan keriuhan kolecer. Di puncak-puncak gunung terlihat kolecer tinggi menjulang menunggu angin. Jika angin bertiup kencang, kolecer berputar disertai suara derit keras, bahkan berderak.

"Saya punya dua, kecil dan besar," kata Rais (50), warga setempat, kepada Liputan6.com, di tepi danau, Minggu 29 Januari 2017.

Apa asyiknya main kolecer? "Senang kalau kolecernya muter, senang juga dengar suaranya," kata Rais.

Tak hanya menimbulkan kegembiraan, permainan kolecer juga menyisakan cerita ketegangan. Kolecer juga memicu pertengkaran sejumlah suami istri.

"Malam-malam beberapa suami lari ke bukit karena ada angin kencang. Mau lihat kolecer-nya," kata seorang penjual makanan. "Istrinya ditinggalkan."

Yang jelas, kolecer kembali populer di berbagai daerah di Jawa Barat. Alat utama permainan tradisional masyarakat Sunda ini adalah baling-baling.

Baling-baling terbuat dari kayu dengan buntut lilitan daun pisang kering. Baling-baling itu dipasang dengan batang bambu ukuran kecil sampai besar. Panjang baling-baling kolecer beragam, dari 0,5 meter sampai sekitar 4 meter.

Permainan tradisional masyarakat Sunda itu kembali digandrungi.Tak hanya di Kabupaten Bogor, juga di Kabupaten Purwakarta. Anak-anak sampai orang tua keranjingan main kolecer.

Kegiatan bermain kolecer sangat meriah, terutama di Kecamatan Bojong dan Wanayasa, Purwakarta. Biasanya sore hari, warga memainkannya mulai dari memasangnya di puncak pegunungan, perkebunan, hingga di sekitar perkampungan. Sebagian membawanya sambil naik sepeda motor.

Demam kolecer di sejumlah daerah di Purwakarta meningkat sebulan terakhir. Awalnya dari kebiasaan salah seorang warga di sana yang senang membuat dan memasang baling-baling di sejumlah tempat yang mendapat tiupan angin kencang.

"Awalnya yang bermain Pak Ruhia. Setelah itu banyak warga yang mengikuti. Akhirnya tua maupun muda memainkannya," kata salah Umar (16), warga di Kampung Kertasari, Desa Nagrog, Kecamatan Bojong, Purwakarta, Minggu, 29 Januari 2017.

Umar dan rekan seusianya biasanya bermain baling-baling di areal perkebunan sekitar tempat tinggal mereka dengan memanfaatkan lahan milik Perhutani. Mereka memasang berbagai jenis baling-baling, mulai dari ukuran kecil hingga panjangnya yang mencapai tiga setengah meter.

"Pokoknya kalau sudah sekali coba, pasti besoknya pingin main lagi," kata dia.

Kolecer kembali populer di Jawa Barat (Liputan6.com / Abramena)

Ruhia (40), warga di Kampung Kertasari, Desa Nagrog, Kecamatan Bojong, Purwakarta, disebut-sebut sebagai orang yang mempopulerkan kembali permainan tradisional tersebut. Main kolecer merupakan kegemarannya sedari kecil.

"Biasanya saya bermain kolecer sambil mencari rumput untuk memberi makan hewan ternak. Kadang saya lakukan sambil mengembala," kata Ruhia.

Biasanya dia membuat baling-baling dengan ukuran kecil antara panjang 1 meter hingga 3,5 meter. Bahan dasar yang digunakan adalah beberapa jenis kayu mulai dari pohon kitanah, randu, serta pohon tisuk.

"Biasanya kalau saya membuat kolecer itu untuk dipakai dimainkan sendiri. Tapi suka langsung ada yang menawar. Kalau jual harganya antara Rp 100 ribu, Rp 400 ribu, hingga Rp. 500 ribu," ucap Ruhia.

Mahalnya harga baling-baling tergantung dari kualitasnya saat dipasang untuk menantang angin. Kolecer yang bagus bakal indah saat berputar dan mengeluarkan suara keras. Suara itu dihasilkan saat baling-baling berputar kencang dan melawan kencangnya angin.

"Kalau di sini yang bagus itu disebut sedut golang. Di daerah lain ada juga yang menyebutnya jegur jepat. Jadi saat ketembak angin suaranya menggelegar dan kembali berputar secara perlahan," kata Ruhia.

Selama ini untuk membuat kolecer atau baling-baling yang berkualitas, dia menggunakan alat tradisional. "Kalau sekarang banyak yang mengikuti, saya merasa senang," kata peternak kambing itu.