VW Desak Uni Eropa Naikkan Tarif PHEV China, Ada Apa?

Volkswagen Group mendorong Uni Eropa (UE), untuk segera menaikkan tarif impor mobil plug-in hybrid (PHEV) buatan China

Diterbitkan 30 Juli 2026, 17:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Volkswagen Group mendorong Uni Eropa (UE), untuk segera menaikkan tarif impor mobil plug-in hybrid (PHEV) buatan China. Desakan ini muncul setelah produsen asal Negeri Tirai Bambu semakin agresif, dan mulai merebut pangsa pasar PHEV di Benua Biru serta mulai menekan posisi merek-merek lokal, termasuk Volkswagen.

CEO Volkswagen Group, Oliver Blume meminta UE menerapkan kebijakan tarif yang lebih ketat terhadap PHEV asal Tiongkok.

Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk menciptakan persaingan yang lebih seimbang di pasar otomotif Eropa, terutama karena aturan tarif tambahan yang saat ini berlaku untuk mobil listrik berbasis baterai (BEV), belum mencakup PHEV.

"Peraturan yang berlaku untuk BEV berjalan dengan baik. Di segmen tersebut, kami kompetitif dalam hal harga. Namun, hal yang belum berjalan dengan baik adalah untuk PHEV," ujar Blume, disitat dari InsideEVs.

Blume mengusulkan, kebijakan tersebut dapat berupa tarif tambahan hingga 35 persen, di luar bea masuk standar sebesar 10 persen. Dengan demikian, total pungutan impor untuk kendaraan yang terdampak bisa mencapai 45 persen.

Dorongan Volkswagen ini datang ketika merek-merek China mencatat pertumbuhan signifikan di segmen PHEV Eropa. Pada enam bulan pertama 2026, produsen China menguasai 28,3 persen pasar PHEV di kawasan tersebut.

Perubahan peta persaingan juga terlihat dari daftar model PHEV terlaris. Volkswagen Tiguan yang sebelumnya menjadi model PHEV paling laris di Eropa, kini turun dari posisi teratas.

Model tersebut bahkan tidak lagi berada di tiga besar, setelah sejumlah produk dari produsen China mencatat penjualan yang lebih tinggi.

Segmen PHEV Penting

Sementara itu, PHEV sendiri menjadi segmen penting bagi produsen otomotif di Eropa, karena menawarkan perpaduan mesin pembakaran internal dan sistem penggerak listrik.

Teknologi ini juga membantu produsen memenuhi target pengurangan emisi karbon dioksida (CO2) yang ditetapkan UE, sekaligus menjadi pilihan bagi konsumen yang belum sepenuhnya beralih ke mobil listrik murni.

Volkswagen kini berharap UE segera mengambil langkah, untuk memperkuat posisi industri otomotif lokal.

Persaingan dengan merek-merek China, menjadi tantangan baru bagi produsen Eropa, terutama ketika kendaraan elektrifikasi seperti PHEV semakin mendapat perhatian konsumen, dan menjadi salah satu medan utama perebutan pangsa pasar.

Â