Jarak Tempuh EV Berkurang, Pemerintah China Mulai Selidiki Praktik Battery Locking

Pemerintah China mulai menyelidiki dugaan praktik pengurangan jarak tempuh mobil listrik, melalui pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA)

Diterbitkan 12 Mei 2026, 12:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah China mulai menyelidiki dugaan praktik pengurangan jarak tempuh mobil listrik, melalui pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA). Langkah ini dilakukan setelah banyak pemilik roda empat bertenaga baterai ini, mengeluhkan penurunan performa jarak tempuh secara drastis usai sistem kendaraan diperbarui dari jarak jauh.

Laporan dari media pemerintah, China Media Group menyebutkan, sejumlah pengguna mengaku mobil listrik yang sebelumnya mampu menempuh sekitar 500 km berdasarkan standar CLTC, kini hanya bisa digunakan kurang dari 300 km dalam pemakaian nyata sehari-hari.

Bahkan, waktu pengisian daya cepat DC juga disebut ikut melambat. Jika sebelumnya hanya membutuhkan sekitar 40 menit, kini pengisian bisa memakan waktu hingga 70 menit.

Fenomena tersebut di China dikenal dengan istilah 'battery locking' atau penguncian baterai. Praktik ini disebut dilakukan pabrikan dengan mengubah parameter Battery Management System (BMS) melalui pembaruan OTA, ataupun flashing perangkat lunak di dealer resmi.

Dampaknya, kapasitas baterai yang dapat digunakan menjadi lebih kecil, daya pengisian dibatasi, hingga kedalaman pelepasan daya ikut dikurangi tanpa pemberitahuan jelas kepada konsumen.

Sejumlah produsen otomotif di Negeri Tirai Bambu disebut melakukan langkah tersebut, dengan alasan keamanan baterai dan memperpanjang usia pakai komponen. Namun, banyak konsumen merasa dirugikan karena performa kendaraan berubah jauh dari spesifikasi awal saat mobil dibeli. Kondisi ini pun memicu perdebatan besar di industri kendaraan listrik Tiongkok.

Isu Baterai di China

Sorotan terhadap teknologi baterai mobil listrik di China memang tengah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Selain isu pengurangan jarak tempuh, industri otomotif setempat juga ramai membahas keamanan baterai, teknologi pengisian ultra cepat, hingga klaim kemampuan baterai generasi terbaru yang dinilai terlalu berlebihan.

Beberapa laporan terbaru bahkan menunjukkan persaingan teknologi baterai di China semakin agresif. Mulai dari pengembangan material pelindung baterai tahan suhu hingga 1.300 derajat Celsius, sampai teknologi pengisian super cepat yang diklaim mampu mengisi baterai hanya dalam hitungan menit.

Namun di sisi lain, pemerintah China kini tampaknya mulai memperketat pengawasan agar konsumen tidak dirugikan oleh pembaruan perangkat lunak sepihak dari produsen kendaraan listrik.